Inovatif, Desa Embalut di Kukar Ubah Lahan Bekas Tambang Jadi Sentra Jagung Produktif

Di kawasan bekas tambang dan dulunya tandus, warga kini memanen hasil bumi jagung yang ang tumbuh subur dan menjadi tumpuan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 29 Oktober 2025, 15:48 WIB
Warga Desa Embalut menanam Jagung. (Sumber: Pemkab Kukar)

Liputan6.com, Tenggarong Lahan bekas tambang umumnya ditinggalkan dalam keadaan gersang karena sulit ditanami, dan seolah kehilangan masa depannya. Tapi tidak bagi Desa Embalut di Kecamatan Tenggarong. Di kawasan yang dulu tandus itu, warga kini memanen hasil bumi jagung yang tumbuh subur dan menjadi tumpuan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Kepala Desa Embalut, Yahya, mengatakan pemanfaatan lahan seluas 40 hektare tersebut berangkat dari tantangan keterbatasan sumber daya desa. Embalut tidak memiliki banyak area persawahan sehingga perlu mencari terobosan lain untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

“Kalau hanya mengandalkan sawah, hasilnya tidak akan cukup. Kami ubah cara pandang, memanfaatkan lahan yang dulu dianggap rusak,” ujar Yahya, belum lama ini.

Pengembangan lahan jagung dilakukan bertahap dengan memberdayakan warga sekitar. Lahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi kini menjadi ruang kerja baru bagi petani lokal. Mereka terlibat dari proses penanaman, pemupukan, hingga pemanenan.

Meski masih dalam tahap penguatan produksi, perubahan yang terjadi sudah cukup terasa. Area yang dulu hanyalah bekas aktivitas tambang kini kembali hijau dan memberi harapan baru.

Transformasi ini juga memperbaiki cara pandang warga soal pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Bekas tambang yang semula dipandang sebagai beban, kini menjadi aset yang dapat dikelola untuk pertanian kering.

Dorong Warga Lebih Mandiri

Di balik hamparan hijau jagung yang tumbuh di bekas lahan tambang, ada kerja bersama yang tak kasat mata. Yahya menceritakan bagaimana pemerintah desa ikut terlibat, menyediakan sarana produksi dan memberi pendampingan agar hasil panen semakin baik. Pilihan menanam jagung terbukti bijak—tanaman ini kuat menghadapi kondisi ekstrem dan tetap diminati pasar.

Selain itu, program ini ikut mendorong warga untuk lebih mandiri mengelola usaha tani, tidak hanya bergantung pada sektor lain yang kurang pasti.

“Yang kami lakukan sederhana saja: memulihkan lahan, menanam harapan, dan memetik hasil untuk masyarakat,” tutup Yahya.

Keberhasilan awal pemanfaatan lahan ini menjadi pijakan bagi Embalut untuk mengembangkan sektor pertanian lain di kemudian hari. Semangat gotong-royong dan inovasi lokal kini menjadi modal utama desa untuk terus bergerak maju.

Melalui langkah nyata ini, Desa Embalut membuktikan bahwa lahan pascatambang tidak selalu berakhir sebagai ruang yang mati. Dengan pengelolaan yang tepat, ia bisa berubah menjadi sumber kehidupan, menghidupi masyarakat dan memulihkan lingkungan dalam satu tarikan napas.

 

(*)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya