IHSG Merosot, Lo Kheng Hong: Peluang Emas Investor Beli Wonderful Company saat Harga Diskon

Investor yang sekaligus dijuluki Warren Buffett Indonesia, Lo Kheng Hong memanfaatkan aksi beli saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 28 Oktober 2025, 14:51 WIB
Investor kawakan, Lo Kheng Hong hadir dalam acara makan malam Sinarmas Sekuritas dengan nasabahnya pada Selasa (21/12/2021). (Dok Sinarmas)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan koreksi hingga penutupan sesi pertama, Selasa (28/10/2025). Di tengah koreksi IHSG, investor Lo Kheng Hong menuturkan, hal itu menjadi kesempatan untuk membeli saham perusahaan yang bagus.

"Penurunan harga saham adalah peluang emas, di mana investor bisa membeli wonderful company di harga diskon,” ujar Lo Kheng Hong saat dihubungi Liputan6.com.

Lo Kheng Hong juga memanfaatkan penurunan IHSG untuk membeli saham. “Tentu ada. (sektor-red) perbankan,” kata dia.

Mengutip data RTI, IHSG melemah 0,35% ke posisi 8.088,80 hingga penutupan sesi pertama. Indeks saham LQ45 susut 0,13% ke posisi 823,47. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.

Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 8.151,33 dan level terendah 8.039,85. Sebanyak 352 saham menguat dan menahan penguatan IHSG. Sedangkan 289 saham melemah dan 166 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.460.412 kali dengan volume perdagangan 18,8 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 11,7 triliun. Posisi dolar Aerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.602.

IHSG melemah sejak awal pekan ini. IHSG ditutup turun 1,87% ke posisi 8.117,15 pada Senin, 27 Oktober 2025. IHSG menyentuh level tertinggi 8.354,67 dan level terendah 7.959,16. Total volume perdagangan saham sebanyak 38,55 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 29,67 triliun. Sementara itu, total frekuensi perdagangan 2,85 juta kali transaksi. Investor asing beli saham Rp 1,19 triliun.

Kapitalisasi pasar saham meninggalkan posisi Rp 15 ribu triliun. Tercatat kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 14.876 triliun hingga Senin, 27 Oktober 2025.

IHSG Melemah 1,87 Persen, Pasar Respons Rencana Penyesuaian MSCI ke Saham Indonesia

Suasana pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah signifikan pada perdagangan Senin (27/10/2025). Pelemahan ini terjadi seiring respons investor terhadap rencana MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang akan melakukan penyesuaian metodologi perhitungan free float khusus untuk saham konstituen asal Indonesia.

IHSG turun 154,57 poin atau 1,87 persen ke level 8.117,15. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham unggulan melemah 3,57 poin atau 0,43 persen ke posisi 824,53.

“Kebijakan ini akan berdampak terhadap bobot saham Indonesia dalam indeks Emerging Markets MSCI,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dikutip dari Antara, Senin (27/10/2025). 

Menurut informasi, MSCI membuka masukan publik hingga 31 Desember 2025, dengan hasil evaluasi diumumkan paling lambat 30 Januari 2026. Bila disetujui, perubahan akan diterapkan dalam review MSCI pada Mei 2026 mendatang.

IHSG sempat dibuka menguat di awal sesi, namun berbalik arah ke zona merah hingga penutupan perdagangan.

 

 

MSCI Pertimbangkan Aturan Baru Free Float Saham Indonesia

Layar indeks harga saham gabungan menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dalam rencana revisinya, MSCI berencana menerapkan pembulatan baru terhadap kepemilikan free float mulai Mei 2026. Metode pembulatan ini akan berbeda tergantung besar kecilnya free float saham.

Untuk saham dengan free float 25 persen ke atas, pembulatan dilakukan ke 2,5 persen terdekat. Sementara untuk kisaran 5-25 persen akan dibulatkan ke 0,5 persen terdekat, dan di bawah 5 persen juga dibulatkan ke 0,5 persen terdekat.

Langkah MSCI ini dinilai dapat mempengaruhi bobot sejumlah saham Indonesia di indeks global, terutama bagi emiten dengan struktur kepemilikan terbatas.

Sementara dari mancanegara, pelaku pasar juga menanti hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (29/10/2025), yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi di kisaran 3,75–4 persen.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya