Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan optimismenya terkait peluang tercapainya kesepakatan dagang dengan presiden China Xi Jinping dalam pertemuan puncak regional yang berlangsung di korea selatan pekan depan.
Dalam Pernyataannya di Gedung Putih pada selasa (21/10/2025), Trump mengatakan bahwa dirinya menantikan pertemuan tersebut dan berharap hasilnya akan menguntungkan kedua negara.
Advertisement
"Saya pikir kita akan mengadakan pertemuan yang sangat sukses, banyak orang menantikan hal ini," katanya saat makan siang bersama para senator Partai Republik, dikutip dari Channel News Asia, (Rabu (22/10/2025).
Namun, Trump juga mengakui bahwa rencana tersebut masih bisa berubah sewaktu-waktu
"Mungkin saja pertemuannya tidak terjadi. Hal-hal bisa berubah. Mungkin ada yang memutuskan untuk tidak bertemu, dan itu tidak masalah," tambahnya dengan nada santai.
Trump pertama kali mengumumkan pertemuannya dengan Xi Jinping pada 19 September. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya berencana berkunjung ke China pada awal tahun depan. Jika terlaksana, ini akan menjadi pertemuan pertama mereka sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS.
Namun, rencana itu sempat diragukan ketika pada 10 Oktober lalu Trump mengancam akan membatalkan pembicaraan dengan CHina. Hal itu terjadi setelah Beijing menerapkan pelaksanaan ekspor mineral tanah jarang.
Sorotan Terhadap Hubungan Diplomatik Trump
Xi Jinping bukan satu - satunya pemimpin dunia yang tengah menjadi sorotan dalam hubungan diplomatik dengan Trump. Baru - baru ini, Trump juga mengumumkan rencana untuk bertemu Presiden Rusia Vladmir Putin Budapest dalam waktu dua minggu ke depan guna membahas konflik di Ukraina. Namun, Gedung Putih menegaskan pada selasa (21/10) bahwa hingga saat ini belum ada jadwal resmi untuk pertemuan tersebut.
Dengan berbagai Pernyataan yang sering berubah, perhatian dunia kini presentasi pada apakah pertemuan antara Trump dan Xi benar - benar akan terlaksana. Jika terjadi, pertemuan itu berpotensi menjadi langkah penting dalam meredakan ketegangan dagang antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.