Dampak Radiasi Cesium-137, Pemkab Serang Tetap Relokasi Meski Warga Menolak: Tak Boleh Bawa Barang

Data Pemkab Serang, ada 19 kepala keluarga atau 53 warga yang harus meninggalkan rumah mereka di area terkontaminasi. Selain itu, ada 200.000 orang yang harus menjalani pemeriksaan kesehatan.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 16 Oktober 2025, 15:04 WIB
Warga Cikande Menolak Direlokasi dari Zona Radiasi Cesium-137. ANTARA/Devi Nindy

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kabupaten Serang tetap menyiapkan langkah relokasi sementara bagi warga yang tinggal di zona merah paparan radiasi Cesium-137 di kawasan industri Cikande Serang. Meskipun warga menolak dipindah.

Relokasi dilakukan sebagai bagian dari proses dekontaminasi yang dipimpin Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta BAPETEN.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana menegaskan, relokasi diperlukan agar pembersihan area terpapar bisa dilakukan secara aman.

“Sumber radioaktif akan didekontaminasi. Dalam kegiatan dekontaminasi, penduduk harus keluar dulu. Dekontaminasi pertama di zona merah ini mulai besok,” ujarnya. Dilansir Antara, Kamis (16/10/2025).

Zaldi menjelaskan pemerintah daerah masih berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan lembaga terkait untuk menentukan lokasi penampungan sementara.

“Awalnya mau di Korpri, PKPRI, atau Wisma Bhayangkari milik Polda. Tapi karena tempat itu juga digunakan untuk kegiatan dan sekolah, sementara dengan Ibu Bupati kami arahkan untuk membantu biaya kos warga di daerah Cikande,” katanya.

Lokasi baru dipilih agar warga yang bekerja atau memiliki anak sekolah tidak terlalu jauh dari tempat aktivitasnya. “Kami ingin mobilisasi mereka tetap mudah, sambil menunggu dekontaminasi selesai,” ujarnya.

Pemerintah menetapkan pencemaran radioaktif jenis Cesium 137 di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten, sebagai kejadian khusus. (Liputan6.com/ Dok Ist)

53 Warga Tak Boleh Bawa Apa-Apa

Berdasarkan data terakhir, ada 19 kepala keluarga atau 53 warga yang harus meninggalkan rumah mereka di area terkontaminasi.

“Mereka tidak boleh membawa barang-barang pribadi seperti pakaian, kasur, atau peralatan rumah tangga. Semua harus ditinggalkan,” ujar Zaldi.

Pemerintah Kabupaten Serang akan menanggung kebutuhan dasar warga selama masa relokasi.

“Minimal untuk tiga hari pertama mereka sudah punya baju bersih dan tempat tinggal sementara,” ujarnya.

Terkait lokasi terdampak, Zaldi menolak menyebutkan nama desa secara spesifik. Alasannya untuk mencegah kepanikan.

“Wilayahnya meliputi dua kecamatan. Tapi kalau desanya disebut sekarang, khawatir masyarakat panik karena belum semua mendapat penjelasan yang benar,” katanya.

Sejumlah titik di permukiman warga yang berdekatan dengan kawasan industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, Banten terdeteksi paparan radiasi radioaktif jenis Cesium-137. (Yasuyoshi CHIBA/AFP)

200.000 Orang Akan Lakukan Pemeriksaan Kesehatan

Mulai Kamis (16/10) pemerintah bersama KLH, Kemenkes, dan Pemprov Banten akan melaksanakan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang bahaya radioaktif bagi warga sekitar. “Materinya dari BRIN dan BAPETEN. Kami hanya membantu agar lebih mudah dipahami masyarakat,” ujar Zaldi.

Proses dekontaminasi di wilayah pertama diperkirakan berlangsung selama satu bulan. “KIE akan terus dilakukan karena pengetahuan masyarakat tentang bahaya radioaktif ini penting untuk jangka panjang,” katanya.

Dia menambahkan, sejauh ini sekitar 1.500 warga telah menjalani pemeriksaan kesehatan, dengan sembilan orang terdeteksi terdampak zat radioaktif di dalam tubuh.

“Target berikutnya ada sekitar 200 ribu penduduk dan pekerja yang akan diperiksa di tiga puskesmas yakni Cikande, Kibin, dan Bandung, serta dua titik tambahan bekerja sama dengan perusahaan agar prosesnya lebih cepat,” tutup Zaldi.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyebut ada 32 titik yang terdeteksi terkontaminasi zat radioaktif di Cikande, dengan rincian 22 di dalam area industri dan 10 di dekat permukiman warga. (Yasuyoshi CHIBA/AFP)

Warga Menolak

Sebagian warga Kampung Sadang, Desa Sukatani, Cikande, Serang, Banten menolak direlokasi dari zona radiasi Cesium-137. Mereka memilih tetap tinggal di rumah mereka meski langkah relokasi sudah disiapkan pemerintah.

Sarniti (50) yang memiliki kios kecil di tepi jalan, tegas menolak rencana relokasi. Padahal, rumah dan kiosnya sudah ditandai garis kuning bertuliskan bahaya radiasi.

Meskipun tinggal di zona yang dikategorikan merah, Sarniti menegaskan tidak ada warga yang mengeluh sakit. "Alhamdulillah, semuanya sehat," kata Sarniti dilansir dari Antara, Rabu (15/10/2025).

"Saya enggak mau. Masalahnya rumah sendiri, walaupun jelek juga istana," katanya sambil tersenyum.

Sarniti mengaku tidak mendapat penjelasan yang jelas mengenai bahaya radiasi di sekitar rumahnya. "Cuma dibilang jangan lama-lama lewat situ, tapi enggak dijelasin kenapa," ucapnya.

Dia mengatakan hanya melihat beberapa petugas menempelkan stiker dan menarik garis kuning di sekitar rumah.

"Katanya Jumat (10/10) mau diangkut, tapi ternyata molor. Sekarang mau direlokasi juga saya enggak mau, nyaman aja di sini," ujarnya.

Sumber radiasi diduga berasal dari aktivitas pabrik peleburan limbah baja dan besi di kawasan tersebut. (Yasuyoshi CHIBA/AFP)

Warga Tetap Aktivitas Seperti Biasa

Rukmawati (32) juga mengamini ucapan Sarniti. Dia mengaku tahu desanya terpapar radiasi. Akan tetapi, dia merasa dirinya dan keluarga tidak mengalami gejala apa pun sehingga memilih tetap tinggal di rumah.

"Sejauh ini saya enggak ada gejala apa-apa," Rukmawati saat ditemui di depan rumahnya yang berjarak beberapa meter dari garis pembatas di Kampung Sadang, Banten.

Dia mengaku tetap beraktivitas seperti biasa, meskipun rasa risih kerap muncul setiap kali melihat tanda peringatan itu.

Rukmawati mengatakan belum pernah ada petugas kesehatan yang datang untuk memeriksa kondisi warga di sekitar lokasi. "Belum ada. Tadinya dijanjikan nanti ada dokter ke sini, tapi sampai sekarang belum," katanya.

Saat mendengar kabar rencana relokasi sementara yang disampaikan pemerintah, Rukmawati menyatakan siap mengikuti jika demi keselamatan keluarga. Namun, ia menegaskan keputusan akhir harus melalui musyawarah bersama suami dan keluarganya.

"Kalau demi kesehatan, ya oke-oke saja, tapi harus rembukan dulu," ujarnya.

Meski begitu, dia mengaku relokasi bukan hal yang mudah bagi warga. "Kalau pindah sementara ke gedung, disiapin makan, anak dijamin, tetap aja kurang nyaman. Lebih enak tinggal di rumah sendiri, meskipun agak khawatir," tambahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya