Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia masih kokoh setelah menorehkan rekor tertinggi baru di level USD 3.895 atau sekitar Rp 63,8 juta per troy ounce (estimasi kurs Rp 16.400per USD ) pada Rabu (1/10/2025). Meski sempat terkoreksi tipis, logam mulia tetap mencatat kenaikan lebih dari 0,30% dan pada Kamis (2/10/2025) bergerak di kisaran USD 3.863.
Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menjelaskan, tren bullish emas masih solid. Faktor utama pendorongnya adalah pelemahan data tenaga kerja AS serta meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) segera memangkas suku bunga.
Advertisement
Data terbaru dari ADP menunjukkan perekrutan tenaga kerja sektor swasta pada September anjlok, jauh di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini menguatkan dugaan perlambatan ekonomi dan memicu spekulasi pemangkasan suku bunga acuan pada pertemuan 29 Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 98%, sementara hanya 4% peluang suku bunga dipertahankan.
Ekspektasi pelonggaran moneter ini telah menjadi katalis penting yang menjaga emas tetap menjadi primadona investor sebagai aset lindung nilai.
Faktor Fundamental
Selain faktor fundamental, kondisi teknikal turut memperkuat sentimen positif emas. Andy Nugraha menjelaskan, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren harga emas dunia masih bullish.
“Jika tekanan beli berlanjut, emas berpotensi menembus level psikologis USD 3.900. Namun, jika gagal, area support terdekat berada di sekitar USD 3.837," jelas Andy dalam analisis harian.
Sentimen pasar juga tetap optimistis meski pemerintah AS memasuki fase government shutdown setelah Kongres gagal mencapai kesepakatan anggaran. Situasi ini berpotensi menunda rilis data penting, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP). Investor pun semakin menggantungkan harapan pada arah kebijakan The Fed sebagai penentu pergerakan harga emas selanjutnya.
Masih Positif
Di luar faktor kebijakan moneter, indikator ekonomi lain turut memberi sinyal perlambatan. Data dari Institute for Supply Management (ISM) mencatat aktivitas manufaktur AS pada September sedikit membaik, namun masih berada di zona kontraksi.
Sementara itu, indeks dolar AS melemah tipis lebih dari 0,11%, membuat emas relatif lebih murah bagi investor global. Hal ini menambah daya tarik logam mulia sebagai safe haven.
Selain faktor ekonomi, dinamika geopolitik juga memperkuat harga emas. Ketidakpastian politik di Washington, risiko geopolitik global, serta prospek pelonggaran moneter menciptakan kondisi kondusif bagi kelanjutan reli emas.
“Dengan berbagai faktor pendorong tersebut, prediksi harga emas hari ini masih positif. Selama harga mampu bertahan di atas USD 3.837, peluang menuju USD 3.900 tetap terbuka,” tutup Andy Nugraha.