FPCI Gelar ASEAN for the Peoples Conference 2025 pada 4-5 Oktober 2025

AFPC 2025 hadir sebagai forum utama yang mendorong terwujudnya konsep “People-Centered ASEAN.”

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 01 Oktober 2025, 15:19 WIB
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal pada Selasa (30/9/2025) menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam mewujudkan ketangguhan komunitas ASEAN (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty).

Liputan6.com, Jakarta - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) akan menggelar ASEAN for the Peoples Conference (AFPC) 2025, sebuah konsorsium organisasi masyarakat sipil terbesar di Asia Tenggara.

Konferensi dua hari ini akan berlangsung pada 4–5 Oktober 2025 di The Sultan Hotel, Jakarta, dengan mengangkat tema “Harnessing Southeast Asia's Greatest Resource.”

AFPC 2025 hadir sebagai forum utama yang mendorong terwujudnya konsep “People-Centered ASEAN.” Isu-isu krusial akan menjadi bahasan utama, mulai dari perubahan iklim, tata kelola pemerintahan, keamanan digital, migrasi, perdamaian, pendidikan, kesehatan, kualitas hidup, hingga tantangan sosial-ekonomi yang relevan dengan masyarakat ASEAN.

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam mewujudkan ketangguhan komunitas ASEAN. 

Dino mengungkapkan bahwa ada sekitar 20 isu yang telah diidentifikasi sebagai tema relevan bagi masyarakat Asia Tenggara. Menurutnya, sebagian isu penting bagi pemerintah, namun ada pula yang lebih krusial bagi masyarakat.

“Ada sekitar 20 isu yang kami identifikasi relevan bagi masyarakat ASEAN. Beberapa isu penting bagi pemerintah, isu-isu lainnya lebih penting bagi masyarakat,” kata Dino pada Selasa (30/9/2025) di Jakarta.

Ia menekankan bahwa kekuatan komunitas tidak bisa hanya diukur dari peran pemerintah. Ketangguhan masyarakat di akar rumput justru menjadi faktor utama yang menentukan daya tahan sebuah komunitas regional.

“Berbicara tentang ketahanan, komunitas itu tidak bisa disebut tangguh kecuali akar rumputnya juga tangguh. Dan ketika kita berbicara tentang perdamaian, yang kita bicarakan bukan perdamaian antar-pemerintah; perdamaian dalam persepsi rakyat juga harus ada untuk melengkapi perdamaian di tingkat atas,” jelasnya.

Dino menambahkan, forum seperti AFPC 2025 menjadi ruang penting untuk menyuarakan aspirasi rakyat ASEAN. Menurutnya, perdamaian dan ketahanan kawasan tidak akan tercapai tanpa partisipasi aktif masyarakat sipil.

 

Latar Belakang AFPC 2025

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal pada Selasa (30/9/2025) menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam mewujudkan ketangguhan komunitas ASEAN (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty).

Konferensi ini lahir dari realitas bahwa ASEAN masih dianggap abstrak oleh sebagian besar warganya. Identitas ASEAN kerap dipersepsikan hanya berada di ruang diplomasi tingkat tinggi, sementara masyarakat di akar rumput belum sepenuhnya merasakan manfaat nyata dari keberadaannya.

Dengan adopsi ASEAN Community Vision 2045 pada KTT ASEAN ke-46 di Kuala Lumpur, para pemimpin kawasan menegaskan pentingnya membangun komunitas yang tangguh, inovatif, dinamis, dan berpusat pada rakyat. AFPC 2025 diharapkan dapat menjembatani kesenjangan ini dengan menghadirkan ruang dialog antara masyarakat sipil dan pemimpin ASEAN.

Tokoh dan Peserta

Konferensi ini akan dihadiri oleh perwakilan pemerintah, diplomat, akademisi, pelaku bisnis, jurnalis, serta organisasi masyarakat sipil dari berbagai negara ASEAN. Sejumlah tokoh yang dijadwalkan hadir di antaranya:

  • H.E. Kao Kim Hourn, Sekretaris Jenderal ASEAN
  • H.E. Sugiono, Menteri Luar Negeri RI
  • H.E. Sihasak Phuangketkeow, Menteri Luar Negeri Thailand
  • Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta (2017–2022), Mendikbud RI (2014–2016), Pendiri Indonesia Mengajar dan Aksi Bersama
  • Dr. R. M. Marty M. Natalegawa, Menlu RI (2009–2014), penulis Does ASEAN Matter?
  • Franz Magnis-Suseno, Profesor Filsafat Driyarkara
  • Prof. Jimly Asshiddiqie, Ketua Mahkamah Konstitusi RI pertama (2003–2008)
  • Dr. William P. Sabandar, Utusan Khusus Sekjen ASEAN (2009–2012)
  • Khairy Jamaluddin, Menteri Kesehatan Malaysia (2021–2022)
  • Amy Chew, jurnalis internasional (SCMP, Reuters, The Star Malaysia)
  • Nurul Izzah Anwar, Executive Chairperson of Polity, anggota parlemen Malaysia (2008–2022)
  • Pita Limjaroenrat, Visiting Fellow di Harvard Kennedy School
  • Abigail Limuria, Co-Founder What Is Up, Indonesia
  • Bambang Harymurti, Komisaris PT Tempo Inti Media
  • Dr. Kavi Chongkittavorn, Senior Fellow ISIS Chulalongkorn University
  • Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation
  • Andini Effendi, jurnalis independen
  • Pandji Pragiwaksono, CEO Comika

 

Agenda Hari Pertama pada Sabtu, 4 Oktober 2025

Pendiri FPCI Dino Patti Djalal menegaskan bahwa penyelenggaraan AFPC 2025 bertujuan untuk menjembatani jurang antara ASEAN sebagai institusi dan masyarakat di akar rumput (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty).

Sejumlah panel diskusi akan membahas tema-tema mendesak, di antaranya:

  • It Never Gets Old: Menjaga toleransi antaragama dan etnis untuk stabilitas ASEAN
  • Understanding the Aspiration of Southeast Asia’s Youth
  • Protecting People from Cyber Crimes and Online Scams
  • People-to-People Connectivity: Tantangan membangun keterhubungan antarwarga Asia Tenggara
  • Good Governance: Peran masyarakat sipil dalam mencegah korupsi dan mendorong pemerintahan bersih
  • Food Security: Membangun sistem pangan tangguh dan berkelanjutan
  • Ensuring Climate Security for All: Peran masyarakat sipil dalam transisi hijau dan target net zero
  • Migran ASEAN: Tantangan dan solusi bagi pekerja migran kawasan
  • Closing the Gender Gap in Southeast Asia
  • Jobs, Jobs, Jobs!: Memahami perubahan lanskap kerja di kawasan
  • Journalism and Media’s Role in ASEAN’s Open Caring Society
  • Rule of Law: Pilar bagi pembangunan politik, ekonomi, dan sosial

Agenda Hari Kedua – Minggu, 5 Oktober 2025

Diskusi dilanjutkan dengan fokus pada tantangan geopolitik, ekonomi, dan budaya:

  • Civil Societies and ASEAN Centrality in Geostrategic Environment
  • Spreading Entrepreneurialism across Southeast Asia
  • Preserving Cultural Diversity and Heritage
  • Closing the Gaps: Mewujudkan sistem kesehatan tangguh di Asia Tenggara
  • Reconciliation: Pelajaran dari Asia Tenggara bagi dunia yang dilanda konflik
  • Ideas to Reform Education Ecosystem
  • Artificial Intelligence: Pemanfaatan AI untuk kesejahteraan sosial dan mitigasi dampak negatif
  • ASEAN Identity: Menyebarkan “ASEAN Vibe” hingga ke akar rumput

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya