Dari Berdayakan Petani di Desa, UMKM Olahan Nanas Bawa Produknya ke Pasar Global

Nanas-Qu berdiri pada tahun 2016. Ngudiono, sang pemilik bercerita semula usahanya berkolaborasi dengan puluhan petani nanas madu.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 15 September 2025, 19:32 WIB
Nanas-Qu, produk olahan dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) CV Siwarak Sejahtera Sentosa. Istimewa

Liputan6.com, Jakarta Nanas-Qu, produk olahan dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) CV Siwarak Sejahtera Sentosa Food kini mampu masuk ke pasar mancanegara.

UMKM ini bahkan mampu memberdayakan hampir seribu petani nanas madu di Desa Siwarak, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, meningkatkan lapangan kerja lokal, hingga pengembangan ekonomi dan lingkungan dengan pemanfaatan limbah menjadi barang bermanfaat serta potensi pengembangan desa wisata.

Nanas-Qu berdiri pada tahun 2016. Ngudiono, sang pemilik CV SSS Food, bercerita semula usahanya berkolaborasi dengan puluhan petani nanas madu. Belakangan, jumlah mitra petani terus bertambah. Mitra ini memberikan dampak positif ketika harga anjlok akibat stok yang melimpah saat musim panen tiba, nanas madu milik para petani bisa diserap oleh CV SSS Food.

Ngudiono mengaku, perkembangan usahanya saat ini turut dipengaruhi program Pertapreneur Aggregator yang diadakan PT Pertamina (Persero).

“Lewat Pertapreneur Aggregator, saya belajar cara membangun rantai pasokan yang adil untuk petani, mengelola produksi agar lebih efisien, dan meningkatkan penghasilan, bukan hanya untuk saya tapi juga petani,” katanya.

Berkat dorongan Pertapreneur Aggregator, kapasitas dan varian produk Nanas-Qu terus berkembang. Dari jus, dodol, manisan, selai, koktail nanas, dan asinan.

CV SSS Food semula hanya bisa memproduksi 1.200-1.500 cup olahan nanas madu sehari, kini telah lebih dari 5.000 cup, terlebih dengan adanya bantuan alat hibah dari Pertamina.

Peningkatan produksi memicu bertambahnya tenaga kerja. Dari semula hanya tiga pekerja tetap, kini jumlahnya lima kali lipat dan diperkirakan bisa menjadi 30 tenaga kerja lokal pada dua tahun ke depan bisa menyerap 30 tenaga kerja.

Nanas-Qu, yang merupakan pemenang kedua Pertamina Pertapreneur Aggregator 2024 terus berkembang. Kini mampu menggandeng lebih dari 900 petani nanas binaan Ngudiono, untuk menyediakan bahan bakunya.

Ngudiono optimistis target itu tercapai karena Nanas-Qu telah sampai ke negara lain. Ia pun membidik pasar baru seperti Timur Tengah dan Asia Timur. Di dalam negeri, Nanas-Qu juga memperkuat jalur distribusi di berbagai wilayah, termasuk di Jabodetabek.

"Upaya ini diharapkan mampu mendorong peningkatan omzet sekaligus memperluas jangkauan produk inovasi berbasis nanas," harapnya.

 

Bina UMKM Lain

Nanas-Qu, produk olahan dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) CV Siwarak Sejahtera Sentosa. Istimewa

 

Saat ini, Nanas-Qu turut membina empat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ngudiono berharap jumlah UMKM binaannya bisa meningkat lima kali lipat. Caranya dengan memperluas kolaborasi ke desa-desa penghasil nanas lain di Purbalingga dan sekitarnya.

“Ekosistem industri olahan nanas lokal dan efek domino ekonomi pedesaan pasti meningkat,” ujar Ngudiono.

Dengan produksi yang meningkat, Nanas-Qu berupaya menjaga kelestarian lingkungan dengan meminimalkan limbah. Sebelumnya, kulit dan pucuk nanas dibuang ke sungai.

Sekarang, sisa olahan itu diubah menjadi pakan ternak dan pupuk kompos, oleh satu kelompok pengelola limbah kulit nanas. Lingkungan sekitar kini lebih bersih.

Ngudiono bercita-cita membangun desa agrowisata nanas yang juga menjadi tempat wisata edukasi. Para pengunjung bisa melihat kebun nanas madu, proses pengolahan, hingga mencicipi produknya. Ngudiono yakin para petani nanas madu dan keluarganya akan lebih sejahtera dengan adanya desa agrowisata.

 

Naik Kelas

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso menyatakan, Pertapreneur Aggregator digagas Pertamina untuk mencetak UMKM aggregator yang merangkul UMKM lain agar bisa naik kelas, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan menjaga lingkungan.

"Naik kelas di sini tidak hanya pendapatan saja, tetapi UMKM mampu memperluas jangkauan pemasaran, serta mampu meningkatkatnya jumlah karyawan, kelompok petani, dan UMKM lain disekitarnya yang mendapatkan manfaat ekonomi,” ujar Fadjar.

Pertapreneur Aggregator, jelasnya, merupakan program berkelanjutan. Seperti Nanas-Qu, yang didampingi hingga mencapai tingkat Go Global, melalui berbagai kelas dan pendampingan eksklusif mulai dari sertifikasi, pusat pelatihan jasa produksi, hingga pendampingan pitching produk untuk ekspor.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya