Kisah Gacem Chohra, Kakek 70 Tahun Asal Aljazair Peserta Pramuka WMSJ 2025 yang Kagumi Indonesia

Gacem Chohra, seorang kakek berusia 70 tahun yang datang dari negeri yang sangat jauh dari Indonesia, Aljazair. Rambutnya memutih, wajahnya penuh garis pengalaman, tetapi semangatnya tak kalah menyala dibanding para peserta muda.

oleh Fatimah AzzahraDiterbitkan 12 September 2025, 16:31 WIB
Salah seorang peserta di World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025, Mohammad Gacem Chohra, seorang kakek berusia 70 tahun asal Aljazair saat di wawancara Liputan6.com. (Liputan6/Fatimah Azzahra)

Liputan6.com, Jakarta - Suasana Bumi Perkemahan Cibubur sore itu begitu riuh. Yel-yel dalam berbagai bahasa bergema, tenda-tenda berjejer rapi, ribuan peserta bercengkerama sambil saling menyapa.

Gerimis tipis menambah syahdu perhelatan World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025, ajang silaturahmi pramuka muslim lintas negara yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia. Acara yang berlangsung pada 9–14 November 2025 ini diikuti lebih dari 15 ribu peserta dari seluruh Indonesia dan 16 negara.

Di tengah keramaian itu, tampak sosok Mohammad Gacem Chohra, seorang kakek berusia 70 tahun asal Aljazair. Rambutnya memutih, wajahnya penuh garis pengalaman, tetapi semangatnya tak kalah menyala dibanding para peserta muda.

Kisah Gacem, Anggota Pramuka Sejak 1962

Gacem berkisah bahwa kecintaannya pada pramuka sudah dimulai sejak 1962. Ia pertama kali mengikuti jambore dunia pada 1971 di Jepang. "Indonesia itu bagus sekali, alamnya, muamalah-nya, pendampingannya, penyambutannya, dan semua pengaturan sistemnya bagus,” ujar Gacem saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (11/9/2025).

Meski usianya tak lagi muda, Gacem tetap berkeliling dunia menghadiri berbagai jambore. Baginya, hadiah terbaik dalam setiap pertemuan bukanlah benda, melainkan kebersamaan.

"Wallahi, hadiah yang terbaik adalah kita berbual dengan anak-anak, kita berikan kata-kata Jezail, kita berikan kata-kata Indonesia, dengan negara lain. Itu hadiah yang tidak bisa dibeli dengan uang,” tuturnya.

Bagi Gacem, WMSJ 2025 memberi kesan mendalam. "Dari penamaannya saja sudah luar biasa sekali, World Muslim. Tidak ada hal negatif berkenaan dengan akhlak," katanya. Ia berjanji akan membawa pulang banyak pelajaran dan budaya baik dari Indonesia ke Aljazair.

Saida, Wajah Baru Pramuka Muslim

Salah seorang delegasi asal Mauritius yang mengikuti World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 di Cibubur, Jakarta. (Dok WMSJ 2025)

Berbeda dengan Gacem yang mewakili semangat lintas generasi, Saida, ibu muda asal Uzbekistan, hadir untuk mencari inspirasi. Ia berjalan santai di antara pedagang manik-manik kawasan perkemahan, matanya berbinar menyimak suasana malam jambore.

“Jadi, saya belajar program pramuka di negara-negara Muslim, terutama bagaimana itu bisa membawa orang-orang bersama dan bagaimana filosofi pramuka bisa mengembangkan personality seseorang. Pengalaman pertama kami adalah datang ke Indonesia dan sejauh ini kami menyukainya,” ujar dia.

Saida mengaku terkesan dengan keramahan orang Indonesia. “Terkadang, sangat ramah dan menyambut. Saya pernah ke negara lain, dan itu terlihat. Seperti orang-orang Uzbek, di Uzbekistan, semua orang mengatakan bahwa ramah, kita menjaga, dan saya merasa kita sama,” tuturnya sambil tersenyum.

Baginya, jambore ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga ruang belajar. Ia kagum melihat ragam aktivitas yang ditawarkan, dari koding, belajar sains, hingga kartun anak-anak.

"Itu menarik, bagaimana pramuka tapi pada saat yang sama kita belajar kemahiran yang sangat penting bagi anak-anak modern,” jelasnya.

 

Filosofi Pramuka dan Harapan

Delegasi asal Arab Saudi yang mengikuti World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 di Cibubur, Jakarta. (Dok WMSJ 2025)

 

Saida melihat filosofi pramuka sangat dekat dengan ajaran Islam, yang sama-sama mengajarkan  tentang disiplin, kebaikan, dan memberi manfaat.

"Mengajarkan anak salat dan menjadi benar itu tidak cukup. Ketika kita melakukannya melalui pramuka, menggabungkan hal-hal yang berbeda, itu kombinasi yang menarik dan motivasi bagi anak-anak lebih kuat,” ungkapnya.

Menurutnya, anak muda hari ini harus mampu bertahan hidup dalam berbagai keadaan. "Untuk belajar bagaimana bertahan dalam segala keadaan. Dan itu bukan keadaan buruk, cuma berbeda,” tutupnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya