Liputan6.com, Jakarta Meredupnya Kabupaten Jepara Jawa Tengah yang selama ini dikenal sebagai wilayah sentra ukir dan mebel, tentu berdampak besar bagi perekonomian masyarakat setempat dan nasional.
Seperti di kawasan Mulyoharjo, Kecamatan Jepara Kota dan sepanjang jalan di Kecamatan Tahunan, kini dirancang menjadi destinasi wisata ukir. Selain meningkatkan kunjungan wisatawan di Bumi Kartini, langkah ini diharapkan mampu menggenjot perekonomian daerah dari sektor industri ukir, mebel dan furnitur.
Advertisement
Ambisi menjadikan wisata Kota Ukir, juga dilakukan melalui 'Seminar Pelestarian Ukir'. Agenda ini dirangkai dengan semarak budaya berupa lomba ukir, lomba mewarnai motif ukir untuk pelajar. Serta lomba cipta karya cinderamata ukir tingkat Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Kegiatan yang digelar di Gedung Shima, Kamis (11/09/2025), mengundang para pelestari ukir Jepara, asosiasi ukir, mebel dan furnitur. Selain itu, sejumlah pemenang lomba yang berasal dari kategori usia dini, SD, SMP, SMK hingga umum.
"Progam wisata kota ukir untuk Mulyoharjo dan Tahunan dimulai tahun depan. Ini nanti ada penyusunan feasibility study (study kelayakan), akhir tahun disosialisasikan," ujar Bupati Witiarso Utomo.
Wilayah Mulyoharjo dan Tahunan selama ini sudah dikenal sebagai sentra ukir, mebel dan furnitur. Namun tingkat kunjungan ke dua lokasi wisata ukir ini masih tergolong rendah.
Melihat kondisi itu. Witiarso berambisi melakukan penataan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jepara. Sehingga diharapkan mampu menggenjot kunjungan dan transaksi mebel di Mulyoharjo dan sepanjang jalan di Tahunan.
"Kecamatan lain yang punya potensi ukir bisa meniru dan punya tema sendiri," terang Witiarso.
Semangat menjaga dan mengembangkan warisan seni ukir di Bumi Kartini memang cukup beralasan. Sebab selama ini Jepara telah memiliki SDM, infrastruktur dan ekosistem yang sudah terbentuk ratusan tahun silam.
Berbagai elemen masyarakat agar upaya yang dilakukan untuk mengangkat kekayaan khas Jepara ini bisa lebih maksimal.
"Agar masyarakat juga merasa memiliki sehingga nantinya juga ikut menjaga dan melindungi. Seperti kegiatan lomba ini kita juga apresiasi karena menjadi bukti bahwa seni ukir Jepara tetap hidup di tangan generasi penerus," terang Witiarso.
Seni Ukir Jepara Diajukan ke Unesco
Bahkan dukungan Pemkab Jepara terhadap eksistensi ukir mebel, juga diwujudkan melalui tiga agenda besar pada tahun depan. Mulai dari Pameran Seni Ukir Jepara “TATAH” di Galeri Nasional, IFEX 2026 di ICE BSD City, INDEX di Dubai World Trade Center.
“Ini membuat kita lebih dominan, terutama di kancah nasional, dalam mengembangkan seni ukir Jepara,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengaku bangga dengan antusiasme para peserta ukir. Kegiatan kali ini diharapkan menginspirasi seluruh anak-anak muda Jepara.
“Melihat anak-anak kita ini sungguh membesarkan hati. Proses transfer pengetahuan berjalan, dan yang terpenting, ada kemauan untuk melestarikan. Mudah-mudahan ini jadi inspirasi bagi seluruh anak muda Jepara,” ucap Lestari yang hadir dalam agenda itu.
Terkait proses pengajuan seni ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda kepada UNESCO juga terus dikebut. Diantaranya melengkapi dokumen dan diplomasi dengan pihak Bosnia agar ukir Jepara diakui UNESCO segera terealisasi.
"Dokumentasi kita lengkapi dan nanti jika diplomasi. Kita melalui parlemen juga melakukan komunikasi parlemen diplomatik. Izin dari masyarakat Bosnia juga diperlukan karena mereka sudah lebih dulu diakui UNESCO. Mohon doanya semoga lancar," tandasnya.