Liputan6.com, Moskow - Uni Soviet sukses meluncurkan roket raksasa seberat 391 kilogram berisi instrumen ilmiah menuju Bulan pada 12 September 1959.
Roket bernama Lunik II itu diproyeksikan mencapai permukaan Bulan pada Minggu, 13 September 1959 pukul 22.01 waktu setempat.
Advertisement
Ini adalah upaya kedua Soviet mengirim roket ke Bulan. Percobaan pertama pada 2 Januari 1959 gagal setelah roket meleset dan terus melayang ke ruang angkasa, dilansir dari BBC, Jumat (12/9/2025).
Cahaya Kuning di Langit
Peluncuran dilakukan dengan roket multistage yang harus mencapai kecepatan 11,3 km per detik untuk menembus gravitasi Bumi. Lunik II membawa peralatan untuk mengukur medan magnet Bumi dan Bulan serta sabuk radiasi yang mengelilingi planet kita.
Sekitar pukul 19.40 waktu setempat, perjalanan roket ini sempat terlihat dari Bumi saat memancarkan awan natrium kuning cerah seperti komet buatan.
Meski langit Moskow tertutup awan, setidaknya dua observatorium di Kaukasus dan Uzbekistan berhasil memotretnya. Kilatan cahaya itu juga terlihat dari Leiston, Suffolk, Inggris.
Dikaitkan dengan Kunjungan Khrushchev
Misi ini diluncurkan hanya beberapa hari sebelum kunjungan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev ke Washington. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa ekspedisi Bulan ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan kekuatan teknologi Soviet.
Instrumen ilmiah ditempatkan dalam bola berisi gas di bagian depan roket. Wadah itu ditutup rapat agar tidak mencemari atmosfer Bulan. Di dalamnya juga terdapat lambang palu arit serta tulisan "September 1959."
Para ilmuwan Moskow menjelaskan, pendaratan di Bulan sejauh 381 ribu kilometer tak bisa diamati langsung dari Bumi. Namun, putusnya transmisi radio akan menjadi tanda roket berhasil tiba di permukaan Bulan. Lokasi pendaratan ditargetkan di area cekungan besar yang dikenal sebagai Laut Ketenangan, Laut Kesejukan, dan Laut Uap.
Sukses Menghantam Bulan
Lunik II menghantam Bulan 36 jam setelah peluncuran, tepat pukul 22.02.24, hanya satu menit lebih lambat dari jadwal. Pemancar radio di dalamnya berhenti bekerja pada saat tabrakan.
Ribuan warga Moskow antre di Planetarium untuk melihat momen bersejarah itu lewat teleskop. Profesor Alexander Topchiev dari Akademi Ilmu Pengetahuan Soviet menegaskan, negaranya tidak akan mengklaim wilayah Bulan meski berhasil mendaratkan roket pertama dari Bumi.
Ia menambahkan, keberhasilan misi ini membuka jalan menuju penerbangan berawak ke Bulan, meski tantangannya masih sangat sulit. Dua tahun kemudian, pada 12 April 1961, kosmonot Yuri Gagarin tercatat sebagai manusia pertama yang berhasil terbang ke luar angkasa.