Ini Warisan Pemikiran Arif Budimanta soal Kesejahteraan dan Ekonomi Berdaulat

Ekonom senior dan mantan Staf Khusus Presiden, Arif Budimanta, meninggal dunia. Ia dikenal berkat pemikirannya yang kritis tentang ekonomi Pancasila.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 September 2025, 14:25 WIB
Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PP Muhammadiyah Arif Budimanta. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari dunia ekonomi dan politik Indonesia. Ekonom senior dan mantan Staf Khusus Presiden, Arif Budimanta, meninggal dunia pada Sabtu, pukul 00.06 WIB. Saat ini, Arif menjabat sebagai Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PP Muhammadiyah. Kabar ini juga telah dibenarkan oleh Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Bisnis, Muhadjir Effendy.

Kepergian Arif Budimanta yang begitu cepat meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan dan para intelektual. Salah satunya adalah ekonom senior Indef, Didik J. Rachbini. Didik mengenang sosok Arif sebagai seorang yang mendedikasikan diri pada ekonomi, politik, Pancasila, dan kebijakan publik.

"Kepergiannya terlalu cepat karena masih berusia muda, tetapi takdir tidak bisa kita tolak, sehingga kita ikhlas melepas kepergiannya,” kata Didik dikutip dari Antara, Sabtu (6/9/2025).

Didik J. Rachbini menyoroti berbagai karya Arif, terutama yang membahas bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat menjadi landasan sistem ekonomi Indonesia yang adil dan berdaulat.

Karya-karya tersebut, seperti buku “Pancasilanomics: Ekonomi Pancasila dalam Gerak” (2019), menuai perhatiannya. Didik menilai, melalui buku-buku tersebut, Arif mengkritisi arah pembangunan yang cenderung liberal dan mengusulkan desain ekonomi yang berbasis pada konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945.

“Beberapa karyanya membahas bagaimana nilai-nilai Pancasila bisa menjadi landasan sistem ekonomi Indonesia yang adil, inklusif dan berdaulat,” kata Didik.

 

Gerakan Sunyi

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Arif Budimanta (Foto: Fiki/Liputan6.com)

Arif juga dikenal aktif menulis buku dan artikel di media massa nasional, dengan fokus pada isu-isu penting seperti ketimpangan, UMKM, investasi, dan keberlanjutan.

Saat berkiprah di DPR periode 2009–2014, Arif dan rekan-rekannya dikenal aktif dalam "gerakan sunyi" untuk menghidupkan ekonomi konstitusi. Bagi Arif, tujuan utama pembangunan adalah kesejahteraan rakyat, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi.

"Arif dikenal karena menginisiasi kaukus ini, yang bertujuan memasukkan indikator kesejahteraan masyarakat ke dalam proses penyusunan APBN, bekerja sama dengan lintas fraksi,” jelas Didik.

 

Sosial dan Pendidikan

Selain itu, Didik juga menyoroti peran Arif Budimanta di ranah sosial dan pendidikan, yaitu sebagai pengurus Yayasan Wakaf Paramadina. Para intelektual dan akademisi di yayasan dan kampus tersebut aktif dalam diskursus publik, tak segan memberikan kritik terhadap kebijakan publik dan ekonomi secara luas.

Sebagai seorang ekonom yang memiliki pengaruh, kepergian Arif Budimanta harus dikenang sebagai pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya