Wall Street Ditutup Anjlok, Data Tenaga Kerja Bikin Investor Saham Khawatir

Meskipun pasar saham melemah pada Jumat, indeks S&P 500 dan Nasdaq masih menutup pekan dengan kenaikan masing-masing 0,33% dan 1,14%. Sebaliknya, Dow Jones turun 0,32% sepanjang pekan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 September 2025, 08:30 WIB
Indeks S&P 500 turun 0,32% ke level 6.481,50, Nasdaq Composite melemah tipis 0,03% ke 21.700,39, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 220,43 poin atau 0,48% ke 45.400,86. Ilustrasi seorang pedagang efek tengah bekerja di lantai Bursa Efek New York atau Wall Street, Selasa, 8 Juli 2025. (Foto: AP/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham di Amerika Serikat (AS) atau biasa disebut Wall Street berakhir melemah pada penutupan perdagangan Jumat (5/9/2025). Pelemahan bursa saham ini terjadi setelah laporan ketenagakerjaan AS lebih lemah dari perkiraan.

Hal ini berdampak ke dua hal, yaitu memicu harapan penurunan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (Fed) tetapi sekaligus menimbulkan kecemasan akan perlambatan ekonomi.

Mengutip CNBC, Sabtu (6/9/2025), Indeks S&P 500 turun 0,32% ke level 6.481,50, Nasdaq Composite melemah tipis 0,03% ke 21.700,39, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 220,43 poin atau 0,48% ke 45.400,86.

Ketiga indeks saham acuan ini sempat mencetak rekor intraday baru di awal sesi perdagangan.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan perekonomian hanya menambah 22.000 lapangan kerja pada Agustus, jauh di bawah perkiraan 75.000. Sedangkan untuk tingkat pengangguran naik ke 4,3%, sesuai ekspektasi analis.

 

Perkuat Spekulasi Investor

Ilustrasi seorang pedagang efek tengah bekerja di lantai Bursa Efek New York atau Wall Street, Selasa, 8 Juli 2025. (Foto: AP/Richard Drew)

Data ini semakin memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan akhir bulan ini. Bahkan menurut data FedWatch, sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi pemangkasan 50 basis poin.

Managing Partner di Harris Financial Group Jamie Cox menjelaskan, pertumbuhan lapangan kerja yang lambat, kenaikan pengangguran, serta upah yang moderat memperlihatkan pasar tenaga kerja benar-benar melambat.

"The Fed kini punya alasan kuat untuk memangkas suku bunga,” kata dia.

 

Kinerja Sepekan

Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Meskipun pasar saham melemah pada Jumat, S&P 500 dan Nasdaq masih menutup pekan dengan kenaikan masing-masing 0,33% dan 1,14%. Sebaliknya, Dow Jones turun 0,32% sepanjang pekan.

Sektor perbankan tertekan, dengan saham JPMorgan dan Wells Fargo melemah karena kekhawatiran perlambatan ekonomi dapat menekan pertumbuhan kredit. Perusahaan industri seperti Boeing dan GE Aerospace juga ikut tergelincir akibat prospek pesanan yang bisa menurun.

Namun, tidak semua saham tertekan. Broadcom justru mencatat lonjakan 9,4% setelah laporan keuangannya melampaui ekspektasi Wall Street.

Sebaliknya, Nvidia turun 2,7% karena kekhawatiran persaingan yang semakin ketat di sektor chip AI. Palantir juga terkoreksi sekitar 2% di tengah tekanan pada saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya