PM Spanyol Kritik Standar Ganda Barat terhadap Ukraina dan Gaza

Sanchez merupakan pemimpin senior Eropa pertama yang secara terbuka menuduh Israel melakukan genosida di Gaza.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 September 2025, 10:07 WIB
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. (Dok. AP/Francisco Seco)

Liputan6.com, Madrid - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez memperingatkan bahwa standar ganda Eropa dan Barat dalam menyikapi perang di Ukraina dan Gaza mengancam akan merusak posisi global mereka. 

Dalam wawancara dengan The Guardian sebelum bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di London pada Rabu (3/9/2025), pemimpin Partai Sosialis Pekerja Spanyol (PSOE) itu juga mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump berusaha mengakhiri tatanan global berbasis aturan pasca Perang Dunia II yang awalnya justru diciptakannya.

Sanchez menyatakan bahwa dia senang sejumlah negara Eropa lain mengikuti langkah Spanyol dalam mengakui Negara Palestina, namun dia mengakui bahwa respons Eropa sejauh ini buruk.

"Itu sebuah kegagalan," ujarnya.

"Memang benar, di dalam Uni Eropa ada negara-negara yang terpecah dalam hal bagaimana memengaruhi Israel. Tetapi menurut saya, hal itu tidak bisa diterima. Kita tidak bisa terus seperti ini jika ingin menjaga kredibilitas, terutama ketika menghadapi krisis lain seperti di Ukraina. Akar dari kedua perang ini memang berbeda. Namun pada akhirnya, dunia melihat Uni Eropa dan masyarakat Barat lalu bertanya, 'Mengapa kalian menerapkan standar ganda terhadap Ukraina dan Gaza?'"

Hubungan dengan AS dan Peran Eropa

Presiden Donald Trump saat berbicara kepada para wartawan di Ruang James Brady Press Briefing di Gedung Putih, Washington, DC pada Senin (11/8/2025). (Dok. AP/Alex Brandon)

Saat berupaya menegaskan kembali posisinya di panggung internasional, sekaligus melewati serangkaian tuduhan korupsi yang mengguncang pemerintahannya, Sanchez menegaskan bahwa dia mendorong Eropa untuk mengambil langkah lebih tegas, termasuk menjatuhkan sanksi finansial terhadap Israel.

"Apa yang kini kita saksikan di Gaza barangkali merupakan salah satu episode paling kelam dalam hubungan internasional di Abad ke-21 dan dalam hal ini yang harus saya katakan adalah bahwa Spanyol sangat vokal di dalam Uni Eropa dan juga komunitas internasional," kata dia. "Di dalam Uni Eropa, yang sejauh ini kami lakukan adalah mengadvokasi agar kemitraan strategis yang dimiliki Uni Eropa dengan Israel ditangguhkan."

Sanchez, yang pernah berselisih dengan Trump karena Spanyol menolak memenuhi tuntutan presiden AS itu untuk mengalokasikan 5 persen PDB bagi pertahanan, menegaskan bahwa Spanyol tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan di NATO. Dia berkomitmen untuk menjaga hubungan seerat mungkin dengan AS siapa pun yang memimpin di Gedung Putih.

"Dengan segala hormat, kami punya pendekatan pragmatis dalam hubungan dengan AS," tutur Sanchez. "Pada saat yang sama, saya pikir kami punya visi berbeda tentang bagaimana menghadapi tantangan yang dihadapi dunia dan masyarakat kita. Saya pikir ada kesalahan besar dengan keluar dari Perjanjian Paris dan mengurangi kontribusi untuk program bantuan serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tetapi pada akhirnya, masyarakat kita menghadapi tantangan global yang tidak mengenal batas dan kita perlu memperkuat kerja sama serta kolaborasi."

Namun menurutnya, penarikan AS dari lembaga-lembaga global bisa memberi kesempatan bagi pihak lain untuk memainkan peran internasional yang lebih besar.

"Kenyataan paling mengejutkan yang kita hadapi adalah bahwa arsitek utama dari tatanan internasional – yaitu AS pasca Perang Dunia II – kini justru melemahkan tatanan internasional ini dan itu bukanlah sesuatu yang positif bagi masyarakat AS maupun bagi dunia lainnya, terutama negara-negara Barat," sebut Sanchez. "Itulah sebabnya saya pikir ada peluang bagi Uni Eropa dan juga bagi Inggris."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya