BEI Ingatkan Delisting Waran Terstruktur BBCA, BBNI dan BMRI per 15 September 2025

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan mulai 15 September 2025, waran terstruktur dari BBCA, BBNI, dan BMRI tidak lagi diperdagangkan dan efek itu dikeluarkan dari daftar efek yang tercatat di BEI.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiperbarui 03 September 2025, 12:20 WIB
Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan jadwal penghapusan (delisting) waran terstruktur pada 15 September 2025, mulai dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). 

"Terhitung mulai tanggal 15 September 2025 Waran Terstruktur pada daftar di atas tidak lagi diperdagangkan dan Efek tersebut dikeluarkan dari Daftar Efek yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia," tulis Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari dalam keterbukaan informasi, Rabu (3/9/2025).

Berikut daftar waran terstruktur yang akan dihapus per 15 September 2015:

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Kode efek: BBCAHDCU5A

Nama efek: Call Warrant BBCA HD

 

2. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)

Kode efek: BBNIHDCU5A

Nama efek: Call Warrant BBNI HD

 

3. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)

Kode efek: BMRIHDCU5A

Nama efek: Call Warrant BMRI HD

 

 

Presiden Komisaris Borong Saham BBCA

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja memberi sambutan dalam BCA Capital Market Community Iftar Gathering dan Economy Outlook 2022 di The Langham, Jakarta (25/04/2022).  BCA telah mencatat pembukaan RDN hampir mencapai 2 juta rekening, yang menempatkan BCA sebagai pemegang market share RDN terbesar di Indonesia. Pencapaian ini ditopang oleh literasi keuangan dan transformasi digital yang dilakukan secara berkesinambungan. (Liputan6.com/HO/Eko)

Sebelumnya pada 1 September 2025, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) Jahja Setiaatmadja memborong saham BBCA.

Mantan Direktur Utama BCA tersebut membeli 62.500 saham BBCA dengan harga Rp 7.975 per saham. Nilai transaksi pembelian saham BBCA tersebut sebesar Rp 498,43 juta.

"Tujuan transaksi investasi, dengan status kepemilikan saham langsung," tulis Sekretaris Perusahaan PT Bank Central Asia Tbk, I Ketut Alam Wangsawijaya dalam keterbukaan informasi BEI.

 

Kuasai 34 Juta Saham BBCA

Mengutip data RTI, 191 saham melaju di zona hijau dan 417 lainnya berada di zona merah. Sementara ada 188 saham mengalami stagnan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Setelah transaksi pembelian saham BBCA, Jahja genggam 34.867.644 saham BBCA atau setara 0,03%. Sebelumnya ia memiliki 34.805.144 saham BBCA.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa, 2 September 2025, harga saham BBCA ditutup stagnan di posisi Rp 8.000 per saham. Saham BBCA dibuka di posisi Rp 8.000 per saham. Harga saham BBCA berada di level tertinggi Rp 8.175 dan terendah Rp 8.000 per saham.

Total frekuensi perdagangan 62.563 kali dengan volume perdagangan 1.956.881 saham. Nilai transaksi Rp 1,6 triliun. Berdasarkan data stockbit, investor asing melepas saham BBCA mencapai Rp 598,68 miliar.

 

Kinerja Semester I 2025

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan entitas anak berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 8% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi Rp29 triliun pada semester I-2025.

"Kinerja laba bersih BCA dan Entitas Anak tumbuh 8% year on year, menjadi Rp 29 triliun pada semester I-2025," kata Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, dalam konferensi pers paparan Kinerja Semesetr I-2025, Rabu (30/7/2025).

Lebih lanjut, Hendra menyatakan bahwa pertumbuhan laba bersih tersebut merupakan hasil dari strategi penyaluran kredit yang selektif dan prudent, disertai manajemen risiko yang disiplin.

Kontribusi terbesar terhadap laba berasal dari peningkatan pendapatan bunga bersih, seiring dengan pertumbuhan kredit di seluruh segmen. Total penyaluran kredit BCA per Juni 2025 mencapai Rp 959 triliun atau tumbuh 12,9% yoy.

"PT Bank Sentral Asia TBK, BBCA dan Entitas Anak membukukan pertumbuhan kredit sebesar 12,9% secara tahunan year on year, menjadi Rp 959 triliun per Juni 2025," ujarnya.

Selain itu, efisiensi operasional dan peningkatan transaksi digital juga ikut menopang profitabilitas perusahaan. Hal ini memperkuat posisi BCA sebagai salah satu bank dengan kinerja terbaik di industri perbankan nasional.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya