Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut bahwa upaya penyelamatan populasi badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan bentuk tobat ekologis. Istilah ini ia gunakan untuk menggambarkan perubahan perilaku manusia, yaitu dengan mengakui kerusakan yang sudah diperbuat selama ini.
Menurutnya, aktivitas manusia selama bertahun-tahun telah mempersempit ekosistem satwa langka tersebut, membuat keberadaan mereka semakin terdesak dan populasinya terus menurun. Raja menegaskan hal itu dalam acara Kick Off Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa di Jakarta, Jumat, 29 Agustus 2025, lapor Antara.
Advertisement
"Saya kira, ini bagian dari tobat ekologis kita, karena ekosistem badak, bagaimanapun, semakin sempit, ruang gerak, home range semakin sempit. Saya kira itu adalah tanggung jawab kita dengan alasan apapun, apakah itu perumahan, pembangunan, perkebunan."
Ia juga mengingatkan bahwa badak Jawa kini masuk dalam kategori sangat kritis dalam daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Saat ini, populasi satwa bercula ini bahkan hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.
Pemindahan Tempat Satwa Badak Jawa
Kini, ada sekitar 87─100 individu badak. Di kesempatan itu, Raja mengapresiasi kolaborasi pihaknya dengan TNI dan Yayasan Badak Indonesia dalam pelaksanaan pemindahan badak Jawa yang dimulai pada Agustus 2025.
Mereka resmi memulai proses pemindahan tempat sepasang individu badak Jawa dari habitat asli mereka di Semenanjung Ujung Kulon menuju Javan Rhino Study and Conservation Area di Desa Ujungjaya, Kabupaten Pandeglang.
Kedua lokasi tersebut masih berada dalam wilayah Taman Nasional Ujung Kulon dan berjarak sekitar 14 kilometer dengan melintasi lautan. Pemindahan tempat untuk satwa ini dilakukan guna membentuk populasi kedua dari satwa tersebut.
Kajian ilmiah telah menunjukkan bahwa eksistensi badak Jawa terancam akibat keterbatasan habitat, rendahnya keragaman genetik, serta perkawinan sedarah yang mencapai 58,5 persen.
Berisiko Punah
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menekankan bahwa Population Viability Analysis (PVA) memprediksi, tanpa intervensi, spesies badak Jawa berisiko punah dalam waktu kurang dari 50 tahun. Tahapanpemindahan tempat ini dimulai dari persiapan lapangan, termasuk pembangunan perangkap aman, persiapan kandang sementara, dan akses logistik untuk pemindahan.
Pemilihan individu badak yang terdiri dari badak jantan dan betina telah dilakukan melalui penanda genetik untuk memastikan tidak terjadi perkawinan sedarah. Pemindahan dilakukan TNI menggunakan alat utama sistem pertahanan, yang salah satunya menggunakan jalur perairan.
Batalyon Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri (Yonkapa) 1 Marinir sebelumnya sudah menggelar simulasi penggunaan Ranpur Kapa K-61 pada Mei 2025 untuk menguji kemampuan angkut kandang badak jawa melintasi laut.
Keunikan Badak Jawa
Badak Jawa merupakan salah satu spesies badak paling langka di dunia. Hewan ini memiliki tubuh yang besar, beratnya bisa mencapai 900 hingga 2.300 kilogram dengan panjang sekitar tiga meter.
Salah satu ciri fisik yang unik adalah tanduk yang relatif kecil, umumnya hanya berukuran sekitar 25 cm. Bahkan, tanduk badak Jawa lebih sering tidak terlihat karena tertutup lapisan kulit tebal. Kulit badak Jawa memiliki tekstur yang tebal dan bergelombang, seolah-olah mereka mengenakan lapisan baja alami.
Kulit hewan ini dilapisi lipatan-lipatan tebal, terutama di sekitar leher, bahu, dan kak. Warna kulitnya abu-abu kecokelatan, dan sering terlihat kotor karena lumpur yang mereka gunakan untuk melindungi diri dari serangga dan menjaga suhu tubuh. Lipatan kulit ini juga berfungsi menjaga fleksibilitas gerakan mereka, memungkinkan bergerak dengan mudah di habitat yang padat.