Rupiah Menguat terhadap Dolar AS Hari Ini 28 Agustus 2025 Imbas The Fed

Suku bunga the Federal Reserve (the Fed) berpotensi turun menjadi katalis positif untuk rupiah.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 28 Agustus 2025, 20:30 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 15 poin atau 0,09% menjadi 16.353 per dolar AS dari sebelumnya 16.368 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Kamis, 28 Agustus 2025 melemah ke level 16.356 per dolar AS dari sebelumnya 16.355 per dolar AS.

Analis Mata Uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menuturkan, penguatan nilai tukar rupiah terjadi seiring kemungkinan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) akan turun.

"Presiden Bank Sentral Federal New York, John Williams menuturkan pada Rabu, 27 Agustus 2025 kalau suku bunga kemungkinan akan turun pada suatu saat," kata Ibrahim seperti dikutip dari Antara.

Para pengambil kebijakan the Fed disebut sedang menanti rilis data-data ekonomi AS sebelum memutuskan apakah suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada September 2025 bakal diturunkan.

Meski terjadi  ketidakpastian politik seputar independensi Bank Sentral AS karena Presiden AS Donald Trump mencopot Anggota Dewan Gubernur The Fed Lisa Cook, pesan dovish Gubernur The Fed Jerome Powell di Jackson Hole mengisyaratkan peluang penurunan suku bunga.

 

 

Aksi Berjalan Damai

Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Senin (9/11/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

"Kondisi ekonomi AS saat ini mungkin membenarkan penurunan suku bunga, memperkuat ekspektasi akan pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang,” kata Ibrahim.

Meninjau sentimen domestik, dia menuturkan, pasar merespons positif atas aksi demonstrasi buruh dan mahasiswa yang kondusif di Indonesia.

"Aksi ini berjalan dengan damai dan tidak anarkis karena ada kerja sama yang apik antara koordinator aksi demo dengan aparat kepolisian yang mengawal jalannya aksi tersebut,” ujar dia.

Pembukaan Rupiah pada Kamis 28 Agustus 2025

Petugas menunjukkan uang rupiah di penukaran uang, Jakarta, Senin (9/11/2020). ). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar

 Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat tipis pada perdagangan Kamis ini. Penguatan rupiah ini lebih disebabkan faktor eksternal yaitu ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Bank Sentral AS atau The Fed.

Pada Kamis (28/8/2025), rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta menguat sebesar 8 poin atau 0,05 persen menjadi Rp 16.360 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.368 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan nilai tukar (kurs) rupiah bergerak di kisaran Rp 16.300-Rp 16.425 per dolar AS.

“Ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan The Fed, yang dinilai mengganggu independensi bank sentral, turut mendorong sikap risk-off investor, meski sebagian menilai kondisi ini berpotensi memperbesar peluang pemangkasan suku bunga pada FOMC (Federal Open Market Committee) September 2025,” katanya dikutip dari Antara.

Seiring dengan itu, terdapat risiko ketidakpastian perang dagang pasca AS memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap India.

 

Aksi Balasan India

Secara resmi, Trump telah menggandakan tarif impor dari India hingga 50 persen. Kebijakan itu disebut menambah tarif sebesar 25 persen terhadap pembelian minyak Rusia oleh India di atas tarif 25 persen yang terlebih dahulu sudah dikenakan pada berbagai produk India.

Saat ini, total bea masuk atas produk seperti garmen, perhiasan, alas kaki, perlengkapan olahraga, furnitur, serta bahan kimia mencapai 50 persen, menjadi salah satu yang tertinggi yang diberlakukan AS, dan setara dengan Brasil.

Josua mengatakan India bakal melakukan aksi balasan dengan alasan kebijakan AS tak adil, sementara negara lain yang juga mengimpor minyak Rusia, termasuk Tiongkok, menghadapi tarif lebih ringan sebesar 30 persen.

“Namun, Trump memperingatkan bahwa negara-negara lain yang membeli minyak dari Rusia juga berpotensi menghadapi tarif yang lebih tinggi dalam waktu dekat,” kata Josua.

Wait and See

Pasar juga cenderung bersikap wait and see menunggu rilis data ekonomi AS pekan ini, terutama estimasi kedua Produk Domestik Bruto (PDB) dan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi acuan utama The Fed.

Komentar Presiden The Fed Richmond, Tomas Barkin, yang menyebutkan adanya “penyesuaian moderat” dalam kebijakan suku bunga, menambah keyakinan bahwa The Fed mungkin akan mengambil langkah hati-hati.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya