Flash Crash hingga Tekanan Investor Lama, Apa yang Menghambat Laju Bitcoin?

Sebagian besar pasokan Bitcoin masih terkonsentrasi di tangan para “OG whales” atau investor lama yang telah mengoleksi aset sejak 2011.

oleh Nadjwa Dwi YulianitaDiterbitkan 27 Agustus 2025, 12:00 WIB
Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Analis kripto ternama, Willy Woo, mengungkap alasan mengapa harga Bitcoin (BTC) tidak melesat secepat yang diperkirakan. Menurutnya, faktor utama masih berasal dari pola penjualan para investor awal.

Dalam unggahan di platform X pada Minggu kemarin, Woo menjelaskan bahwa sebagian besar pasokan Bitcoin masih terkonsentrasi di tangan para “OG whales” atau investor lama yang telah mengoleksi aset sejak 2011.

“Mereka membeli BTC di harga sekitar USD 10 (Rp 162.720) atau bahkan lebih rendah. Kini, butuh lebih dari USD 110.000 modal baru untuk menyerap setiap BTC yang mereka jual,” tulis Woo, dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (27/8/2025).

Woo menekankan, perbedaan harga beli (cost basis), besarnya kepemilikan, dan kecepatan mereka melepas aset sangat memengaruhi jumlah modal baru yang dibutuhkan untuk mendorong harga Bitcoin.

Ia menyebut kondisi ini sebagai bagian dari “masa pertumbuhan” Bitcoin, di mana keuntungan ribuan kali lipat dari investor lama masih harus terserap pasar.

 

Flash Crash

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Meski demikian, tidak semua pihak sepakat. Seorang pendukung Bitcoin dengan nama samaran Parman menilai para investor awal tidak akan menjual aset dalam jumlah besar. Menurutnya, mereka cenderung menyimpan miliaran dolar dalam bentuk tunai.

“Mereka mungkin hanya akan menjual sedikit, paling banyak sekitar USD 10 juta. Jumlah mereka pun tidak cukup banyak untuk memberi dampak besar,” ujarnya.

Pernyataan Woo muncul setelah terjadinya flash crash yang menyeret harga Bitcoin dari USD 114.000 (Rp 1,85 miliar) ke USD 110.000 (Rp 1,79 miliar) hanya dalam hitungan menit.

Kejatuhan ini terjadi usai seorang whale melepas 24.000 BTC senilai lebih dari USD 2,7 miliar (Rp 43,4 triliun). Dampaknya, sentimen positif dari pernyataan dovish Ketua The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole langsung terhapus.

 

September Kembali Naik

Dalam lima pekan terakhir, harga Bitcoin cenderung bergerak mendatar, sementara dominasi pasarnya turun dari 61 persen menjadi 56,9 persen.

Pendiri sekaligus CEO Professional Capital Management, Anthony Pompliano, melihat koreksi ini sebagai tanda pasar Bitcoin yang semakin matang. Menurutnya, volatilitas yang lebih rendah serta meningkatnya partisipasi institusi menunjukkan arah yang positif.

Ia bahkan memperkirakan harga akan kembali menguat pada September, menyebut level saat ini di kisaran USD 113.000 sudah tergolong “oversold”.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya