PTBA dan UGM Kembangkan Produk Kalium Humat dari Hilirisasi Batu Bara untuk Swasembada Pangan

Kalium humat merupakan produk turunan hasil hilirisasi batu bara berkalori rendah yang berfungsi sebagai pembenah tanah sekaligus pupuk hayati. Produk ini akan dipasarkan dengan nama BA Grow, yang tersedia dalam bentuk padat dan cair.

oleh Dhesi Kusuma WulandariDiperbarui 22 Agustus 2025, 10:48 WIB
Produk olahan batu bara yang diproses menjadi bahan dasar kalium humat. (sumber: RTBA)

Liputan6.com, Yogyakarta PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi meluncurkan pilot project alat produksi kalium humat, sebagai bagian dari tahap riset dan pengembangan strategis untuk mendukung program pemerintah mewujudkan swasembada pangan nasional. Kalium humat merupakan produk turunan hasil hilirisasi batu bara berkalori rendah yang berfungsi sebagai pembenah tanah sekaligus pupuk hayati. Produk ini nantinya akan dipasarkan PTBA dengan nama BA Grow, yang tersedia dalam dua varian, yakni bentuk padat dan cair.

Peluncuran pilot project ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, Direktur Utama Holding BUMN Pertambangan MIND ID Maroef Sjamsoeddin, Direktur Utama PTBA Arsal Ismail, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM, Surya Herjuna, Direktur Pupuk Kementerian Pertanian RI, Jekvy Hendra, Ketua Tim Peneliti dari Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM Prof. Dr. Ferian, hingga beberapa stakeholder terkait.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa proyek ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah batu bara. Menurutnya, batu bara kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber energi, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya para petani.

"Inisiatif ini membuktikan bahwa batu bara dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang ramah lingkungan dan memberikan manfaat nyata, khususnya bagi para petani. Sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang berfokus pada kemandirian pangan, hilirisasi industri, dan kesejahteraan masyarakat. Melalui proyek percontohan ini, PTBA bertekad memberikan kontribusi nyata bagi agenda pembangunan nasional,” ujar Arsal.

Kunjungan lapangan untuk melihat langsung inovasi alat produksi kalium humat hasil hilirisasi batu bara. (sumber: PTBA)

 

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto juga menekankan bahwa hilirisasi merupakan komitmen yang akan terus dikerjakan oleh perusahaan. “Kalium humat adalah bukti persembahan kami bagi negeri untuk menghadirkan energi tanpa henti,” jelasnya.

Rangkaian acara peresmian di awali di ruang auditorium gedung smart green learning center (SGLC) UGM, kemudian dilanjutkan kunjungan ke lokasi demplot di desa Bimomartani untuk melihat lokasi uji coba implementasi kalium humat serta mendengarkan testimoni para petani. Setelah itu dilanjutkan ke lokasi pilot alat produksi kalium humat untuk melihat bagaimana alat produksi kalium humat beroperasi.

Solusi Baru Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Produk kalium humat BA Grow dalam bentuk padat dan cair hasil hilirisasi batu bara dari PTBA yang siap dipasarkan. (sumber: PTBA)

Sebagai pembenah tanah dan pupuk hayati, kalium humat mampu memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas pertanian maupun perkebunan. Penggunaan kalium humat juga dapat mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia.

Berdasarkan hasil uji coba awal, kalium humat mampu meningkatkan hasil panen hingga 30%, menjaga kesuburan tanah jangka panjang, dan menghemat penggunaan pupuk sampai dengan 50%. Produk kalium humat lahir dari kolaborasi riset dan pengembangan yang dilakukan oleh PTBA bersama UGM untuk meningkatkan nilai tambah batu bara, sejalan dengan amanat hilirisasi yang dicanangkan oleh Pemerintah.

Peluncuran alat produksi kalium humat ini disambut baik oleh berbagai pihak. Direktur Utama Holding Pertambangan MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan bahwa komoditas tambang bukan hanya untuk energi dan transportasi, melainkan juga untuk kebutuhan pangan melalui teknologi hilirisasi.

Suasana peluncuran proyek kalium humat di Smart Green Learning Center UGM, Yogyakarta. (sumber: PTBA)

Direktur Pupuk Kementerian Pertanian RI, Jekvy Hendra, melihat kalium humat sebagai solusi untuk mendukung program swasembada pangan nasional. "Kami siap membuka diri untuk kita sama-sama bisa menyediakan kebutuhan pupuk dalam target swasembada pangan dalam waktu yang secepat-cepatnya," jelasnya.

Rektor UGM Ova Emilia mengapresiasi keberanian Bukit Asam menjadikan Universitas sebagai tempat untuk pengembangan serta penelitian alat produksi kalium humat ini.

“Namanya penelitian hasil nya dan waktunya kan belum tentu, dan keberanian itu kami apresiasi dan saya kira hasil ini nantinya juga akan dinikmati oleh semua pihak. Jadi kami sangat mendukung, mendorong agar lebih banyak lagi korporasi yang bersifat seperti Bukit Asam ini,” tuturnya.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM, Surya Herjuna, turut memberi apresiasi. Menurutnya, langkah PTBA ini patut dilanjutkan dengan inovasi lain dari batu bara, sehingga manfaatnya semakin luas.

Awal Baik Pengembangan Industri Kalium Humat

Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid, juga menyampaikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan antara PTBA dengan UGM untuk mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan.

“Semoga peluncuran pilot project alat produksi kalium humat ini merupakan awal yang baik untuk pengembangan industri kalium humat dari batu bara Indonesia,” jelas Wafid.

Langkah ini menegaskan bagaimana kolaborasi antara korporasi dan kampus bisa melahirkan solusi konkret untuk mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia. 

Hal ini sejalan dengan tema HUT ke-80 Republik Indonesia, "Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju," yang menekankan bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi utama untuk mencapai kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya