FWD Insurance Ungkap Tren Kepemilikan Produk Keuangan di Indonesia

FWD Insurance bersama Kadence International mengungkap dalam riset mereka bahwa masyarakat kelas atas Indonesia rata-rata memiliki enam produk keuangan, dengan dominasi tabungan, e-wallet, dan kartu debit.

oleh Nadjwa Dwi YulianitaDiterbitkan 12 Agustus 2025, 21:30 WIB
Media Briefing FWD Insurance dan Kadence International dengan tema Customer Program Research, pada Kamis, (12/8/2025).

Liputan6.com, Jakarta - FWD Insurance yang bekerja sama dengan Kadence Internasional memaparkan hasil survei mengenai program nasabah asuransi jiwa dan kesehatan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia kelas atas saat ini rata-rata memiliki enam produk keuangan. Dominasi kepemilikan produk terlihat pada rekening tabungan, layanan pembayaran digital, dan pembayaran fisik seperti kartu debit atau kartu prabayar. Bahkan, 13 persen dari pemilik rekening tabungan tercatat memiliki tabungan deposito.

Head of Business Acceleration Kadence International, ⁠Safiudin Alwi menuturkan, dari hasil temuan riset, tingkat inklusi produk keuangan di Indonesia sudah tergolong baik. Rata-rata masyarakat telah memiliki enam produk keuangan.

Namun, jika dilihat dari sisi demografi, kepemilikan ini lebih banyak didorong oleh kelompok kelas atas (upper class) dan pekerja kantoran (white collar), yang cenderung memiliki portofolio produk lebih lengkap. Faktor pendorong utamanya adalah daya beli atau spending power yang lebih tinggi, termasuk kemampuan untuk memiliki asuransi swasta non-BPJS.

“Memang kalau secara demografi kita lihat, ini didrive oleh yang upper class ya, kelas atas, jadi yang kelas atas atau upper class dan juga pekerja kantoran (white collar), sendiri memiliki lebih banyak produk keuangan,” ujarnya ujarnya dalam Media Briefing FWD Insurance Indonesia dan Kadence International dengan tema Customer Program Research, pada Kamis, (12/8/2025).

Secara demografis, kelompok sosial ekonomi A (SES A) dan pekerja kantoran cenderung memiliki portofolio produk keuangan yang lebih lengkap, termasuk asuransi swasta non-BPJS, dibandingkan dengan kelompok SES lainnya. Pola pengambilan keputusan pun berbeda, individu lajang lebih sering bergantung pada saran keluarga atau teman, sementara yang sudah menikah cenderung mengandalkan pasangan.

 

Akses terhadap Berbagai Produk Keuangan

Temuan ini mengindikasikan akses terhadap berbagai produk keuangan masih dipengaruhi oleh status sosial ekonomi, pekerjaan, dan kepemilikan asuransi. Semakin banyak produk yang dimiliki, semakin besar pula kemungkinan individu memiliki perlindungan asuransi, baik untuk jiwa, kesehatan, maupun aset.

Jenis asuransi yang paling banyak dimiliki responden adalah asuransi jiwa, PAYD/Unit Link, dan asuransi kesehatan. Menariknya, tingkat kepemilikan layanan pembayaran digital atau e-wallet juga sangat tinggi.

Hal ini menunjukkan dari sisi inklusi dan akses terhadap teknologi digital di sektor keuangan, masyarakat sudah sangat terbiasa dan nyaman menggunakannya. Dia menuturkan, kondisi ini menjadi peluang besar bagi industri asuransi untuk mengintegrasikan layanan digital dalam proses onboarding, mengingat masyarakat sudah siap dan terbuka terhadap inovasi berbasis teknologi.

“Nah yang cukup menarik juga adalah kalau kita lihat masalah pembayaran digital atau e-wallet ini juga cukup tinggi, artinya secara inklusi atau akses terhadap digital, teknologi di financial sektor, mereka sudah sangat embrace, sudah sangat terbiasa menggunakan digital dalam financial. Sehingga, ini akan menjadi sangat bagus apabila digital pun kita dikasihkan dalam onboarding proses untuk asuransi,” tambahnya.

 

Survei FWD

FWD Insurance bekerja sama dengan Kadence Internasional memaparkan hasil studi mengenai program nasabah asuransi jiwa dan kesehatan.

Penelitian ini dilakukan untuk memahami lebih dalam preferensi masyarakat terkait produk asuransi, sekaligus berupaya menemukan formula yang tepat untuk menjaga loyalitas dan keterlibatan nasabah sebagai pengguna produk asuransi.

Jumlah sampel dalam penelitian ini mencapai 500 orang yang berasal dari berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, Palembang, Makassar, dan Bali.

Seluruh responden yang mencakup 49 persen laki-laki dan 51 persen perempuan berusia 25-50 tahun, memiliki penghasilan rumah tangga kategori upper middle class, yaitu di atas rentang pendapatan Rp 15 juta hingga Rp 75 juta.

Hasil riset ini mencatat faktor eksternal yang paling memengaruhi keputusan pembelian asuransi. Cerita atau pengalaman keluarga, kerabat, atau teman terkait asuransi jiwa/kesehatan menjadi faktor dominan mencapai angka 64 persen, disusul pengaruh media sosial sebesar 39 persen.

Menanggapi temuan tersebut, salah satu strategi yang diperkenalkan adalah Asuransi 101 atau Insurance 101. Program ini merupakan kanal khusus literasi keuangan yang dikemas dengan sangat sederhana dan mudah dipahami. Tujuannya agar informasi mengenai asuransi dapat diakses dan dimengerti oleh berbagai lapisan masyarakat. Tujuannya, agar informasi mengenai asuransi dapat diakses dan mudah dimengerti oleh masyarakat.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya