MSCI Umumkan Rebalancing Indeks 7 Agustus 2025, Deretan Saham Ini Berpeluang Masuk

Analis ungkap beberapa saham yang berpeluang masuk ke dalam indeks MSCI pada awal Agustus 2025.

oleh Gagas Yoga PratomoDiperbarui 07 Agustus 2025, 16:54 WIB
Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan melakukan evaluasi terhadap indeks global yang dikelolanya, hasil ini rencananya akan diumumkan pada Kamis, 7 Agustus 2025. 

Ada beberapa saham yang berpeluang masuk ke dalam indeks MSCI. Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila mengungkapkan, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpotensi masuk.

Lalu untuk PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga diprediksi akan masuk ke indeks MSCI untuk masuk ke MSCI small cap index. 

"SSIA dengan lonjakan Harga juga baru-baru ini berpotensi masuk ke MSCI small cap index,” ujarnya kepada Liputan6.com, Kamis (7/8/2025). 

Adapun menurut Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai tren penguatan sejumlah saham konglomerat sudah mencerminkan sentimen positif terkait Rebalancing Index MSCI. Dia menuturkan, saham-saham seperti milik Barito Group telah lebih dulu mencatatkan kenaikan harga.

“Ini terkait dengan Rebalancing Index MSCI ya. Sebenarnya begini ya, sebenarnya itu sudah terpricing oleh adanya trend kenaikan harga saham. Misalnya dialami oleh saham-saham konglomerat seperti Barito Group, ya,” ujar Nafan kepada Liputan6.com.

Ia mencontohkan beberapa saham yang mencerminkan tren tersebut seperti TPIA, PTRO, CUAN, dan BREN. Saham ini yang diprediksi akan masuk dalam indeks MSCI.

 

Kontribusi Saham

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi mengatakan penetapan kondisi pasar yang fluktuatif signifikan berlaku selama enam bulan sejak tanggal dikeluarkan, yaitu 18 Maret 2025. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, saham-saham ini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan positif indeks harga saham gabungan (IHSG), khususnya pada kuartal kedua tahun ini.

“Nah ini saham-saham konglomerat ini seperti dari Barito Group ini, ini sebenarnya sudah memberikan katalis, sudah memberikan efek yang positif, ya. Sudah memberikan peran yang penting dalam men-driven trend kenaikan IHSG, terutama di sepanjang 3 bulan kedua tahun ini, ya,” jelasnya.

Ia juga menambahkan sepanjang kuartal kedua, IHSG menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang cenderung lesu.

“Seperti itu, sebab kalau 3 bulan satu tahun ini kan agak relatively downtrend, ya kan. Agak relatively downtrend, ya. Tapi kalau di 3 bulan kedua, adanya sudah bagus, ya. Sudah uptrend, begitu, ya,” pungkasnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Keluar dari Exceptional Treatment, BREN Paling Berpeluang Masuk Indeks MSCI

Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, tiga saham milik taipan Prajogo Pangestu, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), resmi tidak lagi mendapatkan exceptional treatment dalam peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk periode Agustus 2025.

Keputusan ini dinilai membuka peluang bagi ketiganya, khususnya BREN, untuk masuk ke dalam konstituen indeks global tersebut.

Vice President Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai BREN menjadi kandidat paling kuat dibandingkan dua saham lainnya.

“Kami berpandangan dengan tidak diberlakukannya exceptional treatment dalam peninjauan indeks MSCI periode Agustus 2025 membuka peluang besar untuk BREN masuk menjadi konstituen, dibandingkan PTRO dan CUAN,” jelas Oktavianus, kepada Liputan6.com, Senin (14/7/2025).

Ia mengungkapkan ada tiga faktor utama yang memperkuat potensi BREN masuk indeks MSCI:

1.    Free-float threshold terpenuhi sebesar 11,6%, atau setara USD 5,86 miliar (telah melampaui ambang batas MSCI sebesar USD 3 miliar);

2.    Rata-rata nilai transaksi harian (3M ADTV) sekitar Rp282 miliar, menunjukkan likuiditas yang solid;

3.    Tidak lagi masuk dalam daftar pengecualian kebijakan MSCI.

Meski begitu, Oktavianus mengingatkan bahwa aturan mengenai free float versi MSCI bisa berbeda dengan yang diterapkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ada kemungkinan sebagian saham publik dianggap tidak bebas diperdagangkan, sehingga potensi masuknya ke dalam indeks tetap memiliki risiko.

 

CUAN dan PTRO

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpampang di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Dari 10 sektor pembentuk IHSG, lima sektor saham berada di zona merah. Pelemahan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk saham CUAN, menurutnya masih memiliki peluang, terutama dengan rencana stock split 1:10 yang dijadwalkan pada 15 Juli 2025. Langkah ini diyakini bisa meningkatkan likuiditas faktor penting dalam kriteria MSCI.

“Meskipun free float CUAN sebesar 15%, nilainya masih berada di bawah syarat minimum MSCI, yakni sebesar USD 1,5 miliar versus syarat USD 3 miliar. Namun aksi stock split berpotensi mendorong nilai free float CUAN ke depannya, terlebih sebelum rebalancing Agustus 2025,” ujarnya.

Sementara itu, PTRO dinilai memiliki peluang paling kecil untuk masuk dalam rebalancing Agustus 2025. Pasalnya, nilai free float-nya masih tergolong kecil, yakni hanya sekitar USD 0,5 miliar.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya