Liputan6.com, Naypyidaw - Presiden Myanmar Myint Swe menghembuskan napas terakhir di rumah sakit militer Naypyitaw pada Kamis (7/8/2025). Ia meninggal dunia setelah lebih dari satu tahun berjuang melawan gangguan neurologis dan penyakit neuropati perifer.
Penyakit ini menyebabkan kerusakan pada sistem saraf tepi sehingga ia kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, bahkan untuk makan sekalipun, dikutip dari laman AP, Kamis (7/8).
Advertisement
Beberapa hari setelah diagnosis itu dipublikasikan, Myint Swe secara resmi menyerahkan wewenang kepresidenan kepada Jenderal Senior Min Aung Hlaing, pemimpin pemerintahan militer, untuk menggantikan posisinya selama ia menjalani cuti sakit.
Sejak saat itu, ia tak pernah lagi muncul di hadapan publik maupun menjalankan peran aktif di pemerintahan.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Selasa (5/8), kondisi Myint Swe disebut semakin kritis. Ia telah menjalani perawatan intensif sejak 24 Juli lalu di rumah sakit militer di Naypyitaw.
Penyakit Saraf yang Bungkam Peran Politiknya
Neuropati perifer merupakan gangguan serius pada sistem saraf tepi yang memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengontrol otot, sensasi, dan fungsi otonom seperti tekanan darah dan pencernaan.
Dalam kasus Myint Swe, kondisi tersebut disebut membuatnya sepenuhnya tergantung pada perawatan dan tak mampu menjalankan aktivitas normal — sebuah kondisi yang secara politik membuatnya “tidak lagi hadir” dalam pemerintahan.
Padahal, sejak militer Myanmar menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021, Myint Swe adalah wajah sipil dari kekuasaan militer. Ia ditunjuk sebagai penjabat presiden setelah Presiden Win Myint ditangkap, dan secara konstitusional diangkat karena jabatannya saat itu sebagai wakil presiden pertama dari partai pro-militer.
Namun dalam praktiknya, kekuasaan penuh tetap berada di tangan Min Aung Hlaing, yang memimpin junta militer dan mengendalikan fungsi pemerintahan. Peran Myint Swe terbatas pada formalitas seperti menandatangani dekrit perpanjangan keadaan darurat.
Rekam Jejak Politik
Sebelum masuk dunia politik, Myint Swe adalah jenderal senior dan salah satu orang kepercayaan pemimpin militer lama, Than Shwe. Ia pernah menjabat sebagai kepala menteri Yangon dan memegang posisi strategis selama bertahun-tahun di tubuh militer Myanmar.
Meski tidak terlalu dikenal di panggung internasional, Myint Swe memainkan peran penting dalam sejarah kelam Myanmar — mulai dari penindakan terhadap Revolusi Saffron tahun 2007 hingga penangkapan figur penting dalam tubuh militer pada era sebelumnya.
Atas perannya dalam mendukung kudeta 2021, ia menjadi salah satu tokoh militer Myanmar yang dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat.
Myint Swe meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan politik seorang tokoh yang, meski sakit dan tak lagi aktif di panggung publik, tetap menjadi bagian dari sistem kekuasaan militer Myanmar hingga akhir hayatnya.