Liputan6.com, Jakarta - Jepang kembali membuat langkah inklusif untuk penyandang disabilitas, kali ini dengan menghadirkan trotoar yang dapat berbicara. Inovasi ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup bagi orang-orang dengan gangguan penglihatan, terutama mereka yang masih memiliki sebagian penglihatan, serta memberikan informasi bagi wisatawan yang melintas.
Sistem ini bekerja dengan cara sederhana namun efektif. Pengguna cukup memindai pola khusus di tactile paving di trotoar menggunakan kamera smartphone dan aplikasi, lalu akan muncul suara panduan mengenai lokasi di sekitar mereka.
Advertisement
Dalam uji coba di Kawasaki, dekat Tokyo, sistem ini langsung menunjukkan manfaatnya. Mengutip dari Japan Today, Minggu, 3 Agustus 2025, Ikuko Kawaguchi (61), salah satu peserta uji coba yang memiliki gangguan penglihatan, menyatakan, "Saya senang bisa membayangkan pemandangan di sekitar saya," ujarnya.
"Sistem ini mendorong saya untuk berani pergi sendiri," tambahnya, menggambarkan dampak langsung dari teknologi ini pada kepercayaan dirinya.
Tactile Paving dengan Stiker Khusus dan Audio
Teknologi ini memberi cara baru bagi penyandang tunanetra untuk 'melihat' dengan mendengar. Sistem ini tidak mengubah bentuk fisik trotoar secara drastis, tapi cukup dengan menambahkan pola khusus, teknologi tersebut memberikan pengalaman yang jauh lebih informatif dan memudahkan orientasi pengguna di ruang publik.
Teknologi ini sangat membantu bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan sebagian, karena memberikan petunjuk berbasis suara tanpa perlu membaca teks atau mengandalkan bantuan orang lain. Dalam uji coba di Kawasaki tersebut, suara dari ponsel memberi instruksi lingkungan secara rinci.
Contohnya, suara itu berkata, "Ada zona di sisi kanan, sekitar dua meter di depan, di mana orang dapat menikmati aroma tanah dan daun muda."
Bukan Hanya untuk Tunanetra
Sistem tactile paving yang dilengkapi dengan audio penunjuk pertama kali diperkenalkan di Prefektur Ishikawa, tepatnya di Kota Kanazawa, Jepang, pada 2019. Sejak saat itu, penggunaannya terus berkembang.
Pemasangannya menjangkau berbagai area, termasuk stasiun kereta, jalan pedestrian, dan kantor pemerintahan di 10 prefektur per April 2025, termasuk Tokyo dan Osaka. Tujuannya adalah agar masyarakat yang memiliki gangguan penglihatan dapat lebih mudah dan percaya diri menavigasi lingkungan publik.
Menariknya, teknologi ini tidak hanya dirancang untuk penyandang disabilitas, tapi juga bisa digunakan oleh wisatawan asing dan orang yang dapat melihat. Pihak pengembang menyatakan bahwa sistem ini bersifat inklusif untuk semua orang dan tidak terbatas hanya untuk tunanetra saja.
Rencana Pengembangan ke Depan
Profesor Kunio Matsui, pengembang dari laboratorium Kanazawa Institute of Technology, bekerja sama dengan W&M Systems LLC yang berbasis di Tokyo, berencana mengembangkan sistem ini lebih lanjut. Salah satunya dengan menambahkan dukungan multibahasa agar bisa diakses lebih banyak pengguna, termasuk wisatawan asing.
Mereka juga tengah mempertimbangkan integrasi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) agar sistem dapat menjawab pertanyaan pengguna secara langsung. Langkah ini diharapkan akan membawa teknologi tersebut ke level berikutnya.
"Kami ingin lebih banyak orang memahami pentingnya blok braille ketika kami meningkatkan fungsinya dan memperluas penggunaannya," kata Profesor Matsui.
Fokus mereka adalah tidak hanya memperluas distribusi perangkat ini, tetapi juga mengedukasi publik tentang peran penting trotoar yang dilengkapi dengan tactile paving dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menciptakan ruang publik yang ramah untuk semua orang.