Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta W. Kamdani, mengungkapkan bahwa pada kuartal II 2025, realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat lebih besar dibandingkan Penanaman Modal Asing (PMA).
Namun, ia menilai selisihnya tidak signifikan. Menurutnya, PMA masih melakukan penyesuaian terhadap situasi dan kondisi global yang dinamis.
Advertisement
"Mengenai investasi PMA, kalau kita lihat investasi yang realisasi kuartal II-2025 ini memang investasinya lebih besar PMDN daripada PMA, tapi bedanya gak jauh-jauh amat. Kalau kita lihat, PMA itu kan juga masih melihat situasi dan kondisi," kata Shinta saat ditemui di kantor Apindo, Jakarta, Rabu (30/7/2025).
Diketahui realisasi investasi pada kuartal II-2025 mencapai Rp 477,7 triliun atau naik 11,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yakni Rp 428,4 triliun.
Untuk rinciannya, sebanyak Rp 202,2 triliun penanaman modal berasal dari investor asing, dan kontribusi terbesar berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 275,5 triliun
Lanjut, Shinta menekankan bahwa realisasi investasi bukanlah hasil keputusan yang terjadi dalam waktu singkat, melainkan dari proses perencanaan yang sudah dimulai jauh sebelumnya. Oleh karena itu, perkembangan hari ini merupakan akumulasi dari keputusan masa lalu.
"Sebenarnya secara menyeluruh kalau kita lihat realisasi investasi hari ini kan bukan terjadi baru kemarin, kan sudah yang disiapkan beberapa waktu sebelumnya," ujarnya.
Dampak Kebijakan Trump
Shinta juga menyebut bahwa dampak dari kebijakan seperti tarif Trump belum terlihat sepenuhnya dalam investasi saat ini. Ia menilai penting untuk melacak pola realisasi investasi dari waktu ke waktu agar bisa memahami tren dan peluang yang sebenarnya.
"Jadi, kita juga harus selalu melihat tracking periode realisasi investasi itu seperti apa, karena ini yang hubungan tarif Trump dan lain-lain belum kelihatan apa-apa sekarang. Ini kita ngomongin (kesepakatan) yang lalu," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa kondisi global, termasuk kebijakan perdagangan internasional, sangat memengaruhi aliran investasi. Untuk itu, penting bagi Indonesia menjaga stabilitas dan daya saing di tengah ketatnya persaingan antarnegara.
Peluang Relokasi dan Sektor Baru yang Menarik Investor
Shinta mengungkapkan peluang besar bagi Indonesia dalam menarik investasi baru, khususnya jika tarif resiprokal Indonesia terhadap Amerika Serikat lebih rendah dibandingkan negara pesaing seperti Bangladesh atau Vietnam.
Menurutnya, kondisi ini bisa mendorong relokasi investasi ke Indonesia, terutama di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Ia menyebut ada beberapa investor asal China yang mulai menunjukkan minat terhadap industri TPT Indonesia.
"Kalau ini (tarif resiprokal Trump) memang kita bisa lebih kompetitif, tidak menutup kemungkinan kita ada juga relokasi investasi untuk industri ini, seperti China juga ada beberapa saya rasa yang mulai masuk investasi ke TPT," pungkasnya.