Cerita Said Abdullah Kenang Kwik Kian Gie: Guru Bangsa yang Menyuarakan Idealisme hingga Akhir Hayat

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya ekonom senior dan tokoh bangsa, Kwik Kian Gie. Ia mengenang Kwik sebagai pribadi idealis dan nasionalis sejati.

oleh Nayla ShabrinaDiperbarui 29 Juli 2025, 11:50 WIB
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian, Said Abdullah

Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya ekonom senior dan tokoh bangsa, Kwik Kian Gie. Melalui pernyataan resminya, Said mengenang Kwik sebagai pribadi idealis dan nasionalis sejati, yang tak berubah sikap baik di dalam maupun di luar kekuasaan.

“Selamat jalan guru bangsa, Kwik Kian Gie. Kita kehilangan ekonom gigih, guru bangsa yang terus menyuarakan idealisme hingga akhir hayat,” kata Said Abdullah dalam keterangannya, Selasa (29/7/2025).

Said menceritakan awal pertemuannya dengan Kwik pada tahun 1988 saat menghadiri rapat koordinasi PDI di Jawa Timur. Kala itu, Kwik hadir sebagai Ketua Balitbangpus DPP PDI dan dikenal lantang menyuarakan kritik terhadap kebijakan ekonomi nasional.

“Ekonomi kita semuanya impor. Kita cuma menjadi bangsa perakit,” kutip Said mengenang pernyataan kritis Kwik.

Said juga menyoroti sikap tegas Kwik saat krisis moneter 1997/1998. Meski berbeda pandangan dengan sejumlah menteri dan kalah dalam keputusan, Kwik tetap teguh menolak skema penyelesaian utang obligor ala IMF yang menurutnya merugikan negara.

“Pak Kwik kalah dalam keputusan ini, namun beliau tetap berdiri dengan kepala tegak,” ujar Said.

"Pikiran-pikiran Pak Kwik selalu bernas dan kritis, terutama soal ekonomi dan politik. Tak peduli, di dalam dan di luar kekuasaan, sikap politik dan kepribadiannya tidak berubah," imbuhnya.

 

Inisiatif Kelola Blok Migas Cepu

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) Kwik Kian Gie berada di ruang tunggu Gedung KPK, Jakarta, Kamis (11/7/2019). Kwik dipanggil sebagai saksi untuk kasus penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Lebih lanjut, Ketua Banggar DPR itu juga menceritakan langkah Kwik saat menjabat sebagai Kepala Bappenas di era Presiden Megawati Soekarnoputri, termasuk inisiatif mengelola Blok Migas Cepu secara mandiri melalui Pertamina.

Gagasan tersebut, meski belum terealisasi karena pergantian pemerintahan, dinilai Said sebagai upaya besar membela kedaulatan energi nasional.

“Tidak sejengkal pun kita ragu atas nasionalismenya Pak Kwik,” tegasnya.

Bagi Said, Kwik merupakan sosok yang meneruskan pemikiran Bung Karno dan Bung Hatta, terutama dalam mendorong kemandirian ekonomi nasional dan pengelolaan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat.

“Semoga Tuhan Yang Maha Esa menempatkan Pak Kwik di tempat yang terhormat. Lantunan doa senantiasa kami panjatkan mengiringi ruhnya di alam keabadian,” tutup Said.

Kwik Kian Gie Meninggal Dunia

Diberitakan sebelumnya, Ekonom sekaligus politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kwik Kian Gie meninggal dunia. Kwik meninggal dunia pada 28 Juli 2025 pukul 22.00 WIB.

Kwik Kian Gie meninggal dunia di usia 90 tahun. Kabar meninggalnya mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri itu disampaikan oleh mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno melalui akun Instagramnya, @sandiuno, Senin malam (28/7/2025).

"Selamat jalan, Pak Kwik Kian Gie. Ekonom, pendidik, nasionalis sejati," tulis Sandiaga Uno seperti dikutip Liputan6.com.

"Mentor yang tak pernah lelah memperjuangkan kebenaran. Yang berdiri tegak di tengah badai, demi kepentingan rakyat dan negeri. Indonesia berduka," ucap Sandiaga Uno.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya