Brasil Sengaja Pilih Kota Termiskin untuk Jadi Tuan Rumah KTT Iklim PBB, Kenapa?

COP30 akan diselenggarakan di Kota Belem, Brasil, pada November 2025.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 28 Juli 2025, 16:47 WIB
Brasil memilih Belem, salah satu kota termiskin di negara itu, sebagai tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB yang ke-30 (COP30) pada November 2025. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Brasilia - Ketika para pemimpin dunia, diplomat, ilmuwan, aktivis, hingga pelaku bisnis bersiap menuju Brasil pada November mendatang untuk mengikuti pertemuan iklim tahunan PBB, mereka akan disambut langsung oleh realitas dunia: kemiskinan, ketimpangan, dan deforestasi yang membentang di sepanjang tepian Amazon.

COP30 akan digelar di Belem, sebuah kota dengan infrastruktur terbatas dan tingkat kemiskinan tinggi, bukan di pusat pariwisata mewah seperti Bali, Paris, atau Dubai.

Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Terpilih COP30, André Corrêa do Lago, ingin dunia melihat langsung tantangan nyata perubahan iklim yang dialami masyarakat rentan, sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan tak bisa dipisahkan dari perjuangan mengatasi ketimpangan sosial.

Dengan diperkirakan 90.000 peserta akan hadir, Brasil masih berjibaku mempersiapkan akomodasi, dikutip dari laman AP, Senin (28/7/2025).

Dua kapal pesiar disiapkan sebagai hotel terapung dengan kapasitas 6.000 tempat tidur, sementara warga lokal didorong untuk menyewakan rumah mereka.

Meski biaya akomodasi yang melonjak menjadi keluhan -- beberapa mencapai USD 15.000 (sekitar Rp245 juta) per malam -- pemerintah mengklaim harga mulai turun dan sistem pemesanan resmi telah dibuka untuk 98 negara termiskin.

COP30 menjadi momen krusial dalam negosiasi iklim global. Sesuai Perjanjian Paris 2015, tahun ini seluruh negara diharapkan memperbarui rencana nasional mereka untuk memangkas emisi gas rumah kaca.

 

PBB Targetkan Seluruh Dokumen Rampung Sebelum September 2025

Dr. Sultan Al Jaber sebagai Presiden-Tertunjuk COP28 dan Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif dari UNFCCC

PBB menargetkan seluruh dokumen rampung sebelum September agar dapat dievaluasi sebelum konferensi dimulai. Target global tetap sama: menjaga pemanasan bumi tidak melebihi 1,5 derajat Celsius dari masa pra-industri.

Namun, mengingat saat ini suhu global nyaris menyentuh batas tersebut, tantangan semakin besar. Do Lago mengakui kemungkinan rencana negara-negara belum cukup ambisius, sehingga upaya menutup celah emisi akan menjadi inti dari negosiasi di Belem.

Meski beberapa isu penting tak masuk agenda formal -- seperti pendanaan iklim senilai USD 1,3 triliun untuk negara-negara berkembang -- Brasil bertekad mengangkat isu hutan dan alam sebagai prioritas.

 

Ancaman di Hutan Amazon

Foto udara dari area hutan hujan Amazon yang gundul akibat kebakaran ilegal di kotamadya Labrea, Negara Bagian Amazonas, Brasil, diambil pada tanggal 20 Agustus 2024. (EVARISTO SA / AFP)

Hutan Amazon yang menjadi paru-paru dunia, kini terancam akibat deforestasi. Sebagian bahkan telah berubah dari penyerap karbon menjadi penyumbang emisi, sebuah paradoks menyakitkan bagi krisis iklim.

Harapan baru muncul saat Mahkamah Agung PBB memutuskan bahwa lingkungan yang bersih dan sehat adalah bagian dari hak asasi manusia, membuka pintu bagi tekanan internasional lebih besar terhadap negara-negara yang lalai bertindak.

Do Lago menekankan bahwa negara-negara perlu memandang transisi menuju ekonomi hijau bukan sebagai beban, tetapi sebagai peluang untuk tumbuh dan berinovasi. COP30 diharapkan tak hanya menjadi pertemuan keluhan dan janji, tapi dikenang sebagai “COP solusi”—tempat dunia menyadari bahwa menyelamatkan iklim juga berarti menciptakan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Infografis Bencana-Bencana Akibat Perubahan Iklim. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya