Harga Minyak Dunia Makin Murah, Ini Gara-garanya

Harga minyak mentah Brent berjangka turun 50 sen, atau 0,72%, ditutup pada USD 68,71 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 46 sen atau 0,69% dan ditutup pada USD 66,52.

oleh Septian DenyDiterbitkan 16 Juli 2025, 07:30 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak turun sedikit pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta), setelah tenggat waktu 50 hari yang diberikan Presiden AS Donald Trump bagi Rusia untuk mengakhiri perang Ukraina dan menghindari sanksi meredakan kekhawatiran pasokan langsung.

Dikutip dari CNBC, Rabu (16/7/2025), harga minyak dunia Brent berjangka turun 50 sen, atau 0,72%, ditutup pada USD 68,71 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 46 sen atau 0,69% dan ditutup pada USD 66,52.

“Fokusnya selama ini tertuju pada Donald Trump, ada kekhawatiran ia akan segera menjatuhkan sanksi kepada Rusia, dan kini ia memberikan waktu 50 hari lagi,” kata Analis Komoditas UBS, Giovanni Staunovo.

“Kekhawatiran akan pengetatan pasar yang akan segera terjadi telah mereda. Itulah berita utamanya," lanjut dia.

Harga minyak sempat naik karena potensi sanksi, tetapi kemudian melemah karena tenggat waktu 50 hari meningkatkan harapan bahwa sanksi dapat dihindari.

Jika Trump benar-benar menindaklanjuti dan sanksi yang diusulkan diterapkan. "Hal itu akan mengubah prospek pasar minyak secara drastis,” kata analis di ING.

“Tiongkok, India, dan Turki adalah pembeli terbesar minyak mentah Rusia. Mereka perlu mempertimbangkan manfaat membeli minyak mentah Rusia yang didiskon dengan biaya ekspor mereka ke AS,” demikian bunyi catatan ING.

 

Tarif Impor Trump

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Trump mengumumkan senjata baru untuk Ukraina pada hari Senin, dan pada hari Sabtu mengatakan akan mengenakan tarif 30% untuk sebagian besar impor dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus, menambahkan peringatan serupa untuk negara-negara lain.

Tarif berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi, yang dapat melemahkan permintaan bahan bakar global dan menekan harga minyak. Data menunjukkan ekonomi Tiongkok melambat pada kuartal kedua, sementara pasar bersiap menghadapi paruh kedua yang lebih lemah karena ekspor melemah, harga terus turun, dan kepercayaan konsumen tetap rendah.

 

Pertumbuhan Ekonomi di China

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Tony Sycamore, seorang analis di IG, mengatakan pertumbuhan ekonomi di China berada di atas konsensus terutama karena dukungan fiskal yang kuat serta peningkatan produksi dan ekspor bagi AS untuk mengalahkan tarif.

“Data ekonomi yang dirilis hari ini mengkhawatirkan. Data Tiongkok yang kurang menggembirakan hari ini memiliki implikasi langsung terhadap komoditas termasuk bijih besi dan minyak mentah,” ujarnya.

Di sisi lain, permintaan minyak diperkirakan akan tetap sangat kuat hingga kuartal ketiga, menjaga keseimbangan pasar dalam jangka pendek, ujar Sekretaris Jenderal Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), menurut laporan media Rusia. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya