Rupiah Loyo terhadap Dolar AS Setelah Trump Bakal Kenakan Tarif Impor Farmasi hingga Semikonduktor

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih loyo di kisaran 16.240 - 16.300 pada Kamis, (10/7/2025).

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 09 Juli 2025, 16:15 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 9 Juli 2025.

Rupiah ditutup melemah 47 poin terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu sore dan sempat melemah 60 poin di level 16.252 dari penutupan sebelumnya di level 16.205. 

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.240 - Rp16.300,” ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/7/2025).

Rupiah melemah di tengah sikap hati-hati investor yang tengah menunggu pengumuman tarif perdagangan lebih lanjut dari Presiden AS Donald Trump.

Trump pada Senin, 7 Juli 2025 mulai mengirimkan surat tarif, memberi tahu 14 negara kalau bea masuk yang jauh lebih tinggi akan berlaku pada 1 Agustus 2025.

Dari 14 negara, sembilan berada di Asia. Surat tarif tersebut menguraikan pungutan sebesar 25% untuk semua barang dari Jepang dan Korea Selatan, sementara beberapa negara yang lebih kecil menghadapi tarif hingga 40%.

Selain itu, Donald Trump juga berencana mengenakan tarif 50% untuk tembaga impor dan akan segera menerapkan bea masuk pada produk semikonduktor dan farmasi. 

"Hari ini fokus pasar adalah risalah rapat Federal Reserve terbaru yang akan dirilis Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Laporan ini akan menguraikan alasan The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran saat ini 4,25% hingga 4,50% pada pertemuannya di bulan Juni,” papar Ibrahim.

Sementara itu, di Asia. data indeks harga konsumen Tiongkok sedikit naik pada Juni 2025, didukung oleh peningkatan subsidi pemerintah dan sedikit meredanya ketegangan perdagangan perang dagang AS-Tiongkok.

Survei BI: Masyarakat Pesimis Soal Ketersediaan Lapangan Kerja

Ilustrasi karyawan, bekerja, rapat, suasana kantor. (Foto By AI)

Hasil survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja semakin pesimistis, begitu pula dengan menurunnya keyakinan terhadap ekspektasi penghasilan. 

"Ekonom menilai kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah akan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih banyak di masa mendatang bahkan bengkaknya jumlah pengangguran,” ungkap Ibrahim.

"Kekhawatiran masyarakat tersebut tidak boleh dianggap remeh dan justru menjadi indikator penting. Ini mencerminkan bahwa masyarakat mulai merasakan atau memproyeksikan tekanan di pasar tenaga kerja, entah karena rekrutmen yang melambat, banyaknya PHK, atau kualitas pekerjaan yang makin tidak menjanjikan,” bebernya.

Ekspektasi Penghasilan Menurun

Pejalan kaki menyeberang di zebra cross di kawasan Jalan Mh Thamrin, Jakarta, Rabu (25/5/2022). Kawasan Jabodetabek memberlakukan PPKM Level 1 mulai 24 Mei selama dua pekan mendatang. Selama kebijakan berlaku, karyawan di perusahaan sektor non esensial diperbolehkan bekerja dari kantor atau work from office (WFO) dengan kapasitas 100 persen. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Survei terbaru BI menunjukkan, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja [IKLK] saat ini dibandingkan enam bulan lalu, tercatat pada zona pesimis (<100), yakni sebesar 94,1 per Juni 2025. Bahkan indeks tersebut menurun dari bulan sebelumnya yang sebesar 95,7.

"Ekspektasi penghasilan yang menurun juga memperkuat pandangan bahwa masyarakat tidak melihat adanya perbaikan signifikan dalam prospek ekonomi keluarga mereka,” kata Ibrahim.

"Hal ini semakin diperjelas dengan perubahan perilaku keuangan rumah tangga. Ketika porsi konsumsi meningkat sementara tabungan menurun, itu bisa jadi menandakan dua hal,” jelas Ibrahim.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya