Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tren kecerdasan buatan (AI) yang terus melesat, Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook, menyampaikan pandangannya tentang strategi cerdas dalam memilih saham unggulan.
Menurut dia, investor perlu memahami perbedaan mendasar antara perusahaan price maker dan price taker untuk meraih keuntungan maksimal. Price maker adalah perusahaan yang mampu menentukan harga produknya sendiri karena memiliki keunggulan kompetitif yang kuat, seperti hak kekayaan intelektual (intellectual property), merek yang sangat kuat, dan ekosistem yang tertutup.
Advertisement
Sementara price taker adalah perusahaan yang harus mengikuti harga pasar karena persaingan yang tinggi dan minim diferensiasi produk. Apple adalah contoh nyata dari price maker. Dari harga iPhone USD 1.500, Apple menikmati margin kotor hingga 59%. Margin besar ini sulit didapat oleh produsen komponen seperti baterai, kamera, atau layar yang berada di sisi price taker.
"Dari harga USD 1.500 per unit iPhone yang dijual Apple, perusahaan ini mengambil porsi laba kotor sebesar 59%, sangat besar. Hal ini berbeda dengan produsen komponen lain seperti memori, baterai, kamera, atau layar, yang memiliki hambatan masuk lebih rendah sehingga menghadapi persaingan harga yang ketat," kata Hou Wey Fook dalam media briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights 2H25, Senin (7/7/2025).
Menurut Hou, investor sebaiknya mengalokasikan investasi pada perusahaan price maker, terutama di sektor teknologi dan AI yang kini memimpin pertumbuhan pasar global.
Nvidia dan Apple Jadi Contoh Ideal Price Maker
Hou Wey Fook menyebut Nvidia sebagai salah satu perusahaan terbaik dalam kategori price maker saat ini. Dengan kapitalisasi pasar mendekati USD 4 triliun, Nvidia mampu mencetak margin kotor hingga 78% berkat desain chip AI-nya yang sangat eksklusif dan tidak tertandingi.
"Hal yang sama, bahkan lebih, berlaku untuk Nvidia yang memperoleh margin kotor sebesar 78% dari penjualan chipnya berkat desain IP AI yang tidak tertandingi," ujar dia.
Hal tersebut menjadikan Nvidia bukan sekadar pemimpin pasar, tetapi juga penentu arah industri semikonduktor global. Hou juga menyoroti transformasi model bisnis perusahaan besar dari industri konvensional ke arah yang lebih ringan aset atau asset-light.
Dalam model ini, perusahaan tidak lagi harus menggelontorkan investasi masif seperti halnya perusahaan migas yang perlu eksplorasi hingga distribusi fisik.
Hindari Price Taker, Pilih Saham Tahan Krisis
Menurut Hou, investor harus mulai menghindari saham perusahaan price taker karena mereka cenderung terjebak dalam perang harga yang melemahkan margin keuntungan.
Hou menambahkan, salah satu indikator utama price maker adalah kemampuan menjaga margin stabil di tengah tekanan ekonomi atau kompetisi teknologi. Ini yang membedakan mereka dari perusahaan biasa, terutama dalam fase disrupsi pasar. "Kami menyarankan untuk memilih price maker, bukan price taker," pungkasnya.