Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% kepada negara-negara yang mengikuti kebijakan anti-Amerika BRICS.
Pengumuman Trump yang tidak menguraikan kebijakan khusus BRICS, muncul saat pertemuan kelompok itu sedang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil.
Advertisement
Pemimpin blok itu tampaknya mengarahkan perhatian kepada kebijakan tarif Trump yang luas dalam sebuah pernyataan pada Minggu ini dengan memperingatkan terhadap tindakan proteksionis sepihak yang tidak dapat dibenarkan, termasuk peningkatan tarif timbal balik yang tidak pandang bulu.
Tanpa menyebut AS, pemimpin itu menyuarakan kekhawatiran serius tentang munculnya tindakan tarif dan nontariff sepihak yang mendistorsi perdagangan dan tidak konsisten dengan aturan WTO. Demikian mengutip dari CNBC, Senin (7/7/2025).
Selain itu, pemimpin blok tersebut juga memperingatkan proliferasi tindakan pembatasan perdagangan mengancam akan menganggu ekonomi global dan memperburuk kesenjangan ekonomi yang ada.
"Negara mana pun yang menyelaraskan diri dengan kebijakan Anti-Amerika BRICS akan dikenakan tarif tambahan 10%. Tidak akan ada pengecualiaan untuk kebijakan ini,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Minggu malam di Amerika Serikat.
Mantan Negosiator Perdagangan AS dan Peneliti Senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Stephen Olson menuturkan, Trump mungkin terprovokasi oleh pernyataan bersama pemimpin BRICS yang samar-samar menyindir kebijakan tarif-nya.
“Dengan kebijakan anti-Amerika, presiden mungkin merujuk pada keinginan yang diungkapkan oleh anggota BRICS untuk bergerak melampaui tatanan dunia yang dipimpin AS dalam keuangan dan tata kelola global,” ujar Olson.
Seiring hal itu menarik untuk mengenal BRICS, apalagi Indonesia juga telah bergabung dengan BRICS.
Peluang Kerja Sama Ekonomi dengan BRICS
BRICS mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Indonesia dan Iran.
BRICS dibentuk oleh Brasil, Rusia, India dan China pada 2009. Lalu Afrika Selatan ikut bergabung pada 2010. Pada tahun lalu, BRICS kembali diperluas dengan memasukkan Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.
Turki, Azerbaijan dan Malaysia telah mendaftar secara resmi. Sedangkan beberapa negara lain telah menyatakan ketertarikan bergabung.
Nama "BRICS" berasal dari sebuah istilah ekonomi yang digunakan pada awal 2000-an untuk menggambarkan negara-negara yang diprediksi bakal mendominasi perekonomian global pada 2050.
Sebelum bergabungnya Indonesia jadi anggota BRICS, blok tersebut mencakup hampir 45 persen populasi dunia dan 35 persen produk domestik bruto global—berdasarkan paritas daya beli.
Sejarah BRICS
BRICS merupakan akronim yang merujuk pada kumpulan negara-negara yakni Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa (Afrika Selatan). Wacana pembentukan BRICS pertama kali diusulkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pada 2006, demikian dikutip dari as-coa.org.
Ketika itu, Rusia mengajak Brasil, Rusia, India, dan China untuk membentuk kelompok kemitraan antarnegara sebagai reaksi terhadap ancama krisis global.
Pertemuan kepala negara BRIC pertama berlangsung pada bulan Juni 2009 di Yekaterinburg, Rusia. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin membahas pentingnya menciptakan sistem moneter internasional yang lebih beragam, dengan berkurangnya ketergantungan pada dolar sebagai mata uang cadangan global.
KTT kedua diadakan pada tahun berikutnya di Brasil, dan dihadiri oleh Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma. Ketika itu, para pemimpin negara yang hadir membahas topik program nuklir Iran dan pentingnya kerja sama di bidang energi dan ketahanan pangan.
Afrika Selatan secara resmi diundang menjadi anggota kelima grup tersebut pada Desember 2010. BRIC secara resmi menjadi BRICS pada pertemuan puncak ketiga di Hainan, China pada April 2011.
KTT keempat diadakan di New Delhi, India pada April 2012. Ketika itu para kepala negara menyerukan perluasan hak suara di Dana Moneter Internasional (IMF). Para delegasi juga mulai mempertimbangkan bank pembangunan alternatif yang dipimpin BRICS, sebuah proposal yang secara resmi disetujui pada pertemuan puncak kelima di Afrika Selatan pada Maret 2013.
KTT BRICS keenam diadakan di Fortaleza, Brasil pada Juli 2014. Para pemimpin negara BRICS menandatangani perjanjian untuk mendirikan bank pembangunan dan kumpulan cadangan mata uang. Diskusi juga menyinggung kurangnya reformasi yang dilakukan IMF untuk memastikan keterwakilan yang lebih besar dari negara-negara berkembang, serta pembangunan berkelanjutan.
Tujuan BRICS
Dikutip dari laman Council on Foreign Relation, BRICS bertujuan mengoordinasikan dan memuluskan kerja sama ekonomi negara-negara berkembang. Hal ini untuk meningkatkan produktivitas ekonomi negara-negara tersebut agar sejajar dengan negara-negara maju.
Namun, bertambahnya keanggotaan juga membawa tantangan baru, termasuk meningkatnya penolakan dari negara-negara Barat dan perpecahan di dalam blok tersebut. Para ahli mengatakan bahwa cara anggota BRICS mengatasi ketegangan tersebut akan menentukan apakah kelompok tersebut dapat menjadi suara yang lebih bersatu di panggung global.