Rupiah Menguat terhadap Dolar AS Hari Ini 4 Juli 2025, Pasar Khawatir Tarif Dagang

Analis prediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi melemah pada Senin, 7 Juli 2025.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 04 Juli 2025, 17:00 WIB
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar Rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang akhir pekan pada Jumat, 4 Juli 2025.

Rupiah ditutup menguat 10 poin terhadap dolar AS (USD), dan sempat melemah 30 poin di level 16.185 dari penutupan sebelumnya di level 16.195. 

"Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang Rupiah fluktuatif tetapi ditutup melemah di rentang Rp16.140 - Rp16.190,” ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/7/2025).

Rupiah menguat di tengah kegelisahan pasar terkait rencana AS untuk tarif perdagangan, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengirim surat terkait tarif yang direncanakannya ke ekonomi utama paling cepat pada hari Jumat. 

Komentar Trump menandai perubahan tajam dari klaim sebelumnya bahwa Washington akan menandatangani 90 kesepakatan perdagangan dalam 90 hari.

AS sejauh ini baru menandatangani perjanjian perdagangan dengan Inggris dan Vietnam, serta perjanjian kerangka kerja dengan Tiongkok.

"Tarif tersebut, jika diberlakukan dalam skala penuh, akan mengganggu perdagangan global dan menekan ekonomi berorientasi ekspor utama di Asia,” beber Ibrahim.

Selain itu, kekhawatiran juga terjadi seputar defisit fiskal AS saat Kongres menyetujui RUU pemotongan pajak besar-besaran Presiden Trump pada Kamis. 

RUU yang memotong pajak, meningkatkan keamanan perbatasan, dan menurunkan pengeluaran jaring pengaman sosial sekarang diserahkan ke meja Trump, menjelang target 4 Juli yang ia tetapkan untuk menyelesaikan undang-undang tersebut.

Kantor Anggaran Kongres yang nonpartisan memperkirakan RUU tersebut akan menambah USD 3,4 triliun ke utang nasional AS sebesar USD 36,2 triliun.

Sementara itu, di Asia, Tiongkok mengisyaratkan sedang meninjau lisensi ekspor untuk perusahaan tanah jarang domestik, mengakui pencabutan kendali ekspor chip oleh AS.

 

BI Beri Sinyal Pemangkasan Lanjutan BI-Rate

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Sementara itu, di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal pemangkasan lanjutan suku bunga acuan atau BI-Rate, setelah dua kali menurunkannya masing-masing sebesar 25 basis point (bps) pada Januari dan Mei 2025 hingga ke level 5,50 persen.

Ibrahim melihat, BI masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga BI-Rate ke depan Ruang penurunan BI-Rate ke depan sejalan dengan proyeksi inflasi yang tetap rendah. 

"Terbukanya ruang pemangkasan BI-Rate juga dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi,” ia menyoroti.

Komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, salah satunya melalui intervensi di pasar offshore non-delivery forward (NDF) maupun intervensi pada transaksi spot dan domestic non-delivery forward (DNDF). 

BI Lanjut Membeli SBN

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam keterangan pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/4/2025), menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi masih diperkirakan berada di kisaran 4,7% hingga 5,5%, dengan titik tengah 5,1. (Liputan6.com/Angga Yuniar).

Di sisi kebijakan moneter, BI terus menambah likuiditas termasuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. Hingga 26 Juni 2025, bank sentral telah membeli SBN dari pasar sekunder sebesar Rp 132,9 triliun.

Pembelian SBN dari pasar sekunder oleh BI diharapkan dapat membantu kebijakan fiskal pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi kebijakan makroprudensial, BI telah menambah insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dari Rp 293 triliun pada akhir Desember 2024 menjadi sekitar Rp 371 triliun pada pertengahan Juni 2025.

Selain itu, BI juga memperlonggar kebijakan makroprudensial, baik rasio pendanaan luar negeri (RPLN) maupun rasio penyangga likuiditas makroprudensial (PLM), serta terus mendorong perbankan agar menurunkan suku bunga.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya