Sembuhkan Luka di Mulut dengan Gel Herbal dari Kayu Manis Buatan Dosen UMY

Luka di mulut, seperti sariawan atau ulkus traumatik, sering kali mengganggu aktivitas harian dan dapat menurunkan kualitas hidup bagi pasien dengan kondisi tertentu seperti diabetes.

oleh Yanuar HDiterbitkan 04 Juli 2025, 18:00 WIB
Ilustrasi Luka Bakar di Mulut/copyrigt Freepik

Liputan6.com, Yogyakarta - Tanaman obat asli Indonesia membuat Dian Yosi Arinawati, Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mengembangkan inovasi gel topikal berbahan dasar ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) untuk luka di mulut. Inovasinya ini untuk mempercepat penyembuhan luka di rongga mulut.

“Latar belakang riset ini berawal dari keprihatinan terhadap pasien diabetes yang proses penyembuhan lukanya cenderung lambat. Padahal, Indonesia kaya akan tanaman obat asli, salah satunya Cinnamomum burmannii, yang mengandung antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri,” jelas Dian, Selasa 24 Juni 2025

Ia mengatakan penelitiannya memadukan ekstrak Cinnamomum burmannii dengan berbagai konsentrasi Carboxymethyl Cellulose Sodium (CMC-Na), yaitu bahan pembentuk gel yang meningkatkan viskositas dan stabilitas sediaan. Hasil uji stabilitas fisik menunjukkan bahwa gel dengan penambahan CMC-Na 3% memiliki karakteristik terbaik, mulai dari tekstur, homogenitas, pH, daya sebar, hingga daya lekat, sehingga ideal untuk diaplikasikan pada area mukosa mulut yang lembap.

 

Dia menjelaskan kayu manis jenis ini memiliki kandungan aktif seperti flavonoid, sinamaldehida, eugenol, tanin, dan senyawa lainnya yang berperan penting dalam proses antiinflamasi serta mempercepat regenerasi jaringan. Selama ini, penggunaan kayu manis untuk kesehatan lebih banyak dikenal secara empiris atau tradisional, namun belum banyak diaplikasikan secara ilmiah dalam bentuk sediaan topikal untuk luka di mulut.

“Sebagai dokter gigi, saya sering menemui luka di rongga mulut seperti sariawan atau luka akibat gigi tiruan dan kawat gigi. Bentuk gel sangat membantu karena selain kandungan aktifnya bekerja, gel ini juga membentuk lapisan pelindung pada luka yang mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa nyeri,” tambahnya.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Awal Mula Pembuatan Gel Herbal

Sebelumnya ia mengawali proses pembuatan gel herbal itu dari identifikasi bahan baku kulit kayu manis dan keasliannya di laboratorium farmasi UGM. Setelah dipotong kecil, kayu manis diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol, ekstrak ini kemudian diformulasikan bersama CMC-Na, metilparaben, dan bahan pendukung lainnya.

Hasil uji laboratorium menunjukkan sediaan gel dengan CMC-Na 3% memiliki tekstur kental, berwarna cokelat, beraroma khas kayu manis, dengan pH netral (sekitar pH 5), daya sebar 2,7 cm, dan daya lekat 3,26 menit yang cukup ideal untuk menempel di mukosa mulut.

“Pengujian pada hewan uji seperti tikus menunjukkan hasil positif. Luka pada bibir tikus yang diberi gel kayu manis menunjukkan diameter luka yang lebih kecil dan penyembuhan yang lebih cepat dibanding kelompok kontrol,” ungkap Dian.

Meski hasil laboratorium dan uji in vivo menunjukkan potensi besar, tim peneliti masih melanjutkan pengembangan sebelum produk dapat dipasarkan secara luas.

“Tentu dibutuhkan uji klinis pada manusia untuk membuktikan keamanan dan efektivitasnya. Tapi arah pengembangan kami memang menuju ke sana, karena potensi produk ini sangat besar,” tegasnya.

Inovasi obat luka di mulut ini sudah mendapatkan paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Dian berharap, produk ini bisa menjadi bagian dari pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia yang bernilai tinggi dalam dunia kesehatan, khususnya di bidang kedokteran gigi dan perawatan luka di rongga mulut.

“Kayu manis adalah tanaman asli Indonesia, warisan nenek moyang yang sangat berharga. Semoga suatu saat bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal berbasis ilmiah yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya