Ahmad Basarah: Jasa Bung Karno Diabadikan di Berbagai Negara

Menurut Basarah, penghormatan Bung Karno oleh negara-negara sahabat mencerminkan kontribusi Bung Karno dalam mendukung perjuangan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika.

oleh Tim NewsDiperbarui 23 Juni 2025, 14:23 WIB
Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah saat memberikan sambutan di acara haul ke-55 Bung Karno yang digelar DPP PDI Perjuangan bersama PP Baitul Muslimin Indonesia di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menegaskan bahwa jasa dan peran Bung Karno tidak hanya dikenang oleh rakyat Indonesia, tetapi juga mendapat penghargaan dari dunia internasional.

Nama Presiden pertama Republik Indonesia itu bahkan diabadikan sebagai nama jalan dan tempat penting di sejumlah negara.

"Di kota Rabat, Maroko, ada Jalan Soekarno di dekat Gedung Parlemen. Di Tunisia, ada Jalan Soekarno yang diresmikan di hari kelahirannya. Di Ankara, Turki, juga ada ‘Ahmed Soekarno Street’, yang terletak di depan KBRI Ankara,” ujar Basarah dalam acara haul ke-55 Bung Karno yang digelar DPP PDI Perjuangan bersama PP Baitul Muslimin Indonesia, Sabtu (21/6/2025) malam di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta.

Menurut Basarah, penghormatan tersebut mencerminkan kontribusi Bung Karno dalam mendukung perjuangan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. Perannya dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung juga memberikan dampak besar bagi solidaritas global negara-negara berkembang.

Pernyataan Ahmad Basarah turut diamini oleh Ketua Dewan Pakar MPKSDI PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah, yang menjadi pembicara dalam acara tersebut. Ia menegaskan, Bung Karno dihormati dunia karena empat perannya yang ia sebut sebagai “empat P”: proklamator, penggali Pancasila, presiden pertama, dan pembaharu pemikiran keislaman.

“Dengan P pertama (proklamator), Bung Karno dikenal dunia sebagai tokoh yang bukan hanya memerdekakan Indonesia, tapi juga mendorong 49 negara terjajah di Asia dan Afrika untuk sama-sama merdeka,” kata Amin Abdullah.

Lebih lanjut, ia menyebut Bung Karno sebagai penggali Pancasila dan pemikir besar dari Dunia Timur. “Pidato Bung Karno pada 30 September 1960 berjudul To Build The World a New menggetarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” ungkap mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Sebagai presiden pertama Indonesia, Amin menyebut Bung Karno sebagai pemimpin yang dikenang dan dicintai rakyatnya. “Ia memimpin negara besar bernama Indonesia, yang pada saat merdeka dihuni oleh 90 juta penduduk,” jelasnya.

 

Pemikiran Islam Rasional dan Progresif

Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, alasan Presiden Sukarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. (Dok.Arsip Nasional RI)

Amin juga menekankan pemikiran keislaman Bung Karno yang dinilai rasional dan progresif. “Beliau menganjurkan agar umat Islam meninggalkan taklid, dan memahami Islam dari apinya, bukan dari abunya,” ujarnya. Ia juga menyinggung kritik Bung Karno terhadap penggunaan istilah seperti sayyid dan khalifah yang dinilainya tidak relevan di masyarakat egaliter.

“Sekarang istilah itu muncul lagi dalam bentuk habib dan khilafah. Bung Karno sudah mengkritik hal itu jauh sebelum kemerdekaan,” tambah Amin, penulis buku Islamikasi Indonesia: Filsafat Ilmu Memahami Pancasila.

Wakil Ketua Umum PP Bamusi, Nasirul Falah Amru (Gus Falah), dan Ketua PBNU KH Miftah Faqih juga turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, Gus Falah menyebut Bung Karno sebagai santri moderat yang tekun menuntut ilmu dari berbagai sumber, termasuk KH Hasyim Asy’ari dan HOS Tjokroaminoto.

“Semangat menuntut ilmu membuat Bung Karno berwawasan luas, moderat dalam berpikir. Karena itu beliau menjadi pembaharu pemikiran Islam yang dikenal dunia internasional,” kata Gus Falah.

Aktor Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya