Liputan6.com, Baghdad - Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sebuah reaktor nuklir buatan Prancis di Irak, yang mereka yakini dirancang untuk memproduksi senjata nuklir guna menghancurkan Israel. Serangan ini disebut sebagai aksi militer pertama di dunia yang menargetkan fasilitas nuklir secara langsung.
Reaktor yang dihantam adalah Osirak, terletak sekitar 30 kilometer di selatan Baghdad. Serangan dilakukan oleh sejumlah jet tempur F-15 dan F-16 milik Angkatan Udara Israel, atas perintah langsung Perdana Menteri Menachem Begin. Militer Israel mengonfirmasi bahwa seluruh pesawat kembali ke pangkalan dengan selamat.
Advertisement
Reaktor Osirak yang berkekuatan 70 megawatt itu hampir rampung namun belum diisi bahan bakar nuklir. Menurut sumber dari industri nuklir Prancis, kondisi ini membuat tidak ada risiko kebocoran radioaktif akibat serangan tersebut, dikutip dari laman BBC, Sabtu (7/6/2025).
Israel: Ancaman Bom Seukuran Hiroshima
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Israel menegaskan bahwa reaktor tersebut berpotensi digunakan untuk membuat bom atom, baik dari uranium yang diperkaya maupun dari plutonium. "Bom atom yang dapat diproduksi dari reaktor itu akan seukuran dengan bom Hiroshima. Ancaman bagi rakyat Israel sangat nyata dan semakin dekat," tegas pemerintah.
Israel juga menyampaikan bahwa waktu serangan dipilih dengan mempertimbangkan jadwal libur para pekerja Prancis di lokasi, yakni pada hari Minggu, untuk meminimalkan potensi korban jiwa. Tidak ada laporan mengenai korban dalam serangan ini.
Kritik terhadap Prancis dan Italia
Israel turut mengecam peran Prancis dan Italia yang disebut turut membantu Irak melalui pasokan teknologi dan bahan nuklir. "Kami menyerukan kepada mereka untuk menghentikan tindakan yang tidak manusiawi ini. Dalam keadaan apa pun, kami tidak akan membiarkan musuh mengembangkan senjata pemusnah massal untuk digunakan terhadap rakyat kami," tegas pernyataan tersebut.
Kompleks nuklir di Irak ini juga mencakup satu reaktor Prancis lainnya berukuran lebih kecil, serta sebuah reaktor uji buatan Soviet yang sudah beroperasi. Namun pemerintah Irak bersikeras bahwa tujuan pembangunan Osirak murni untuk keperluan damai dan penelitian, bukan untuk memproduksi senjata nuklir.
Serangan ini memicu reaksi internasional yang beragam dan menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah, dengan isu proliferasi nuklir berada di garis depan perhatian global.