Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali koreksi pada perdagangan Selasa (3/6/2025). Koreksi IHSG terjadi di tengah sektor saham industri pimpin penurunan.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melemah tipis 0,29% ke posisi 7.044,82. Indeks LQ45 susut 0,13% ke posisi 794,92. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.
Advertisement
Pada perdagangan Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.090,35 dan level terendah 6.994,15. Sebanyak 353 saham memerah sehingga bebani IHSG. 261 saham menguat dan 193 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 1.256.479 kali dengan volume perdagangan saham 24,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14,5 triliun. Investor asing jual saham Rp 736,18 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.285.
Sektor saham industri dan teknologi pimpin koreksi yang masing-masing susut 1,54% dan 1,23%. Selain itu, sektor saham consumer siklikal terpangkas 0,96%, sektor saham keuangan merosot 0,41%, dan sektor saham infrastruktur terperosok 0,55%.
Sementara itu, sektor saham energi naik 0,10%, sektor saham basic mendaki 0,03%, sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 0,02%. Lalu sektor saham kesehatan menguat 0,59%, sektor saham properti menanjak 0,30% dan sektor saham transportasi mendaki 1,17%.
Mengutip Antara, bursa saham regional Asia pada Selasa sore ini, antara lain indeks Nikkei turun 17,17 poin atau 0,05 persen ke 37.453,00, indeks Hang Seng menguat 354,52 poin atau 1,53 persen ke 23.512,78.
Selanjutnya, indeks Shanghai menguat 14,49 poin atau 0,43 persen ke 3.361,48, dan indeks Strait Times menguat 3,79 poin atau 0,10 persen ke 3.894,11.
Gerak Saham
Pada perdagangan Selasa pekan ini, saham BUMI terpangkas 4,07% ke posisi Rp 118 per saham. Harga saham BUMI dibuka naik satu poin ke posisi Rp 124 per saham. Saham BUMI berada di level tertinggi Rp 125 dan level terendah Rp 117 per saham. Total frekuensi perdagangan 20.729 kali dengan volume perdagangan 18.983.156 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 227 miliar.
Harga saham ANTM ditutup naik 1,2% ke posisi Rp 3.360 per saham. Harga saham ANTM dibuka bertambah 30 poin ke posisi Rp 3.350 per saham. Saham ANTM berada di level tertinggi Rp 3.390 dan level terendah Rp 3.260 per saham. Total frekuensi perdagangan 43.758 kali dengan volume perdagangan 2.784.588 saham. Nilai transaksi Rp 931,6 miliar.
Saham BRMS terpangkas 0,52% ke posisi Rp 386 per saham. Harga saham BRMS dibuka naik 6 poin ke posisi Rp 394 per saham. Saham BRMS berada di level tertinggi Rp 400 dan level terendah Rp 386 per saham. Total frekuensi perdagangan 20.480 kali dengan volume perdagangan 6.720.762 saham. Nilai transaksi Rp 264,1 miliar.
Top Gainers-Losers
Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:
- Saham TMPO melonjak 35%
- Saham AXIA melonjak 34,92%
- Saham ZYRX melonjak 25,66%
- Saham FAST melonjak 25%
- Saham PSAB melonjak 24,62%
Saham-saham yang masuk top losers antara lain:
- Saham BAJA merosot 14,97%
- Saham SMIL merosot 14,73%
- Saham DADA merosot 12,50%
- Saham RMKO merosot 11,20%
- Saham AYLS merosot 10,87%
Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:
- Saham PSAB tercatat 65.568 kali
- Saham ANTM tercatat 43.757 kali
- Saham BBRI tercatat 39.284 kali
- Saham BBCA tercatat 32.238 kali
- Saham BRPT tercatat 27.643 kali
Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:
- Saham BBRI senilai Rp 1,2 triliun
- Saham BBCA senilai Rp 1,2 triliun
- Saham ANTM senilai Rp 931,6 miliar
- Saham BMRI senilai Rp 855,3 miliar
- Saham PSAB senilai Rp 445,5 miliar
Sentimen IHSG
Senior Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menuturkan, sentimen negatif antara lain masih berasal dari meningkatnya ketidakpastian perang tarif dan kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekonomi domestik.
Mengutip Antara, dari mancanegara, pelaku pasar akan menantikan komentar beberapa pejabat Bank Sentral AS The Fed pada Rabu, 4 Juni 2025.
Selain itu, akan dirilis data mingguan cadangan minyak strategis AS oleh American Petroleum Institute (API). Pelaku pasar juga akan menantikan data ISM Service Purchasing Manager's Indexs (PMI) bulan Mei 2025 yang diperkirakan naik ke level 52 dari 51,6 pada April 2025.
"Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan peluncuran paket stimulus ekonomi dari pemerintah mulai 5 Juni 2025 untuk mendorong kenaikan daya beli masyarakat,” ujar dia seperti dikutip dari Antara.
Paket stimulus itu, di antaranya bantuan subsidi upah bagi pekerja bergaji di bawah Rp 3,5 juta dan guru honorer, diskon transportasi umum, tambahan bantuan sosial dan diskon Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja.