Malam Tak Masuk Akal di Allianz Arena: Kala PSG Gulung Inter dan Taklukkan Eropa

Bukan sekadar menang, mereka menggulung Inter Milan dengan skor yang tak masuk akal: 5-0.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 01 Juni 2025, 08:08 WIB
Desire Doue dari PSG merayakan gol ketiganya di final Champions League melawan Inter Milan di Allianz Arena, Munich, Jerman, Sabtu, 31 Mei 2025. (AP Photo/Alexandra Beier)

Liputan6.com, Jakarta Di tengah gegap gempita Allianz Arena di kota Munich, sejarah ditulis oleh Paris Saint-Germain (PSG). Setelah bertahun-tahun menjadi simbol ambisi yang tak kunjung terwujud, Les Rouge-et-Bleu akhirnya menggenggam trofi Liga Champions untuk pertama kalinya. Bukan sekadar menang, mereka menggulung Inter Milan dengan skor yang tak masuk akal: 5-0.

Sebuah pesta lima gol di final Eropa bukan hal yang lazim, apalagi melawan tim dengan rekor pertahanan sekuat Inter. Namun, PSG tampil seperti tim dari dimensi lain—penuh presisi, gairah, dan kekejaman dalam menyerang. Mereka bukan hanya juara, mereka adalah penghancur mitos.

Bagi Inter, ini bukan sekadar kekalahan. Ini adalah momen saat mereka dibawa turun ke bumi oleh tim yang sejak menit pertama menunjukkan bahwa malam itu hanya akan punya satu penguasa. Dan penguasa itu bernama Paris Saint-Germain.


Babak Awal yang Menggebrak

Pemain PSG Achraf Hakimi merayakan gol bersama Ousmane Dembele saat final Liga Champions melawan Inter Milan di Allianz Arena, Minggu, 1 Juni 2025. (AP Photo/Matthias Schrader)

Inter datang ke final dengan catatan gemilang: hanya tertinggal selama 17 menit dari 14 pertandingan sebelumnya. Namun, di Munich, angka itu langsung terhapus hanya dalam waktu 12 menit. Sebuah umpan jenius dari Vitinha membuka ruang bagi Desire Doue yang menyodorkan assist manis kepada Achraf Hakimi untuk menjebol gawang mantan klubnya.

PSG seperti macan lapar yang tak mau menunggu. Delapan menit berselang, giliran Ousmane Dembele yang mengacak-acak sisi kiri, menunda sejenak untuk mencari opsi, lalu memberikan bola matang ke Doue. Dengan kontrol dada dan tembakan cepat, si remaja 19 tahun menggandakan keunggulan—bola membentur Federico Dimarco dan masuk ke gawang.

Inter mencoba merespons. Mereka menemukan sedikit ritme lewat upaya udara dari Francesco Acerbi dan Marcus Thuram. Akan tetapi, semua itu terlalu ringan untuk menggoyahkan benteng PSG, yang malam itu tak sekadar solid, tapi juga dingin dan efisien.


Simfoni di Babak Kedua

Duel antara Willian Pacho dan Nicolo Barella di final Liga Champions 2024/2025 antara PSG dan Inter Milan (AP Photo/Alexandra Beier)

Simone Inzaghi mungkin berharap jeda bisa mengubah arah angin. Namu, PSG hanya butuh waktu 18 menit di babak kedua untuk mematikan harapan itu. Vitinha kembali menjadi motor, berlari dari lini tengah, melakukan umpan satu-dua dengan Dembele, lalu menyodorkan bola yang diselesaikan dengan dingin oleh Doue ke pojok kanan bawah.

Lanjut Baca:

Sepuluh menit kemudian, skornya menjadi empat. Umpan kedua dari Dembele malam itu diarahkan ke Khvicha Kvaratskhelia. Tanpa keraguan, pemain Georgia itu melepaskan tembakan rendah yang menembus jala Inter. PSG menunjukkan bahwa mereka tak hanya unggul talenta, tapi juga mematikan dalam eksekusi. Gianluigi Donnarumma sempat memamerkan penyelamatan luar biasa dari peluang emas Thuram. Namun, malam itu ditakdirkan untuk ditutup dengan kemegahan. Senny Mayulu, juga 19 tahun, masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak gol kelima usai menyulam kombinasi cantik dengan Barcola—gol yang memecahkan rekor kemenangan terbesar dalam final Liga Champions.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya