Pengabdian Masyarakat, Kampus FBS Unima Ajak Warga Lestarikan Laut dan Pesisir Manado

Grace Shirley Luntungan memaparkan, kelompok masyarakat nelayan selama ini menjadi garda depan dalam ketahanan pangan laut, sekaligus sebagai penjaga tradisi maritim yang luhur.

oleh Yoseph IkanubunDiterbitkan 02 Juni 2025, 22:00 WIB
Wakil Rektor Bidang Akademik Unima Prof Dr Mister Gidion Maru MHum menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba.

Liputan6.com, Manado - Mewujudkan “Kampus Berdampak” bagi masyarakat, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) menggelar rangkaian kegiatan pengabdian pada masyarakat di Daseng Pantai, Kelurahan Bitung Karangria, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulut, pada Selasa (27/5/2025).

Pantauan Liputan6.com, puluhan siswa SMA serta anak-anak pesisir Pantai Bitung Karangria dengan antusias mengikuti berbagai lomba yang digelar seperti melipat kertas, menggambar dan menulis huruf Jepang dengan tema laut dan pesisir.

FBS Unima yang memiliki beberapa program studi seperti Seni Rupa, dan Bahasa Jepang, menurunkan sejumlah dosennya untuk membimbing anak-anak dalam lomba tersebut. Bahkan ada satu instruktur yang berasal dari Jepang, yang ikut membimbing para siswa menulis huruf Jepang.

“Saya sangat senang dengan kegiatan seperti ini, menambah wawasannya dan kepedulian kita terhadap lingkungan, khususnya laut dan pesisir,” ujar Vivienne Lee, siswi SMAN 9 Manado yang meraih juara 3 lomba menggambar.

Sejumlah sekolah yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini antara lain SMAN 9 Manado, SMA Kristen Eben Haezer Manado, serta MAN Model Manado.

Wujudkan Kampus Berdampak

Foto bersama para pimpinan Unima dan FBS usai kegiatan yang berlangsung di Pantai Bitung Karangria pada, Selasa (27/5/2025).

Dekan FBS Unima Dr Grace Shirley Luntungan MHum dalam sambutannya memaparkan, program itu dirancang sebagai bagian dari pengabdian berkelanjutan yang menggabungkan dua simpul penting dalam masyarakat yakni komunitas nelayan dan lembaga pendidikan dasar. Keduanya memiliki tantangan dan potensi yang sangat kaya untuk dikembangkan bersama-sama.

“Seiring dengan hal ini, kami berharap lewat kegiatan ini dapat terwujud pengabdian yang bermakna, berbasis budaya, dan berakar pada kearifan lokal,” tuturnya.

Grace Shirley Luntungan memaparkan, kelompok masyarakat nelayan selama ini menjadi garda depan dalam ketahanan pangan laut, sekaligus sebagai penjaga tradisi maritim yang luhur. Namun tak dapat dipungkiri, mereka juga kerap menghadapi keterbatasan akses informasi, literasi digital, dan pelestarian budaya lokal.

“Di sisi lain, sekolah-sekolah di wilayah pesisir juga sering kali berhadapan dengan keterbatasan sumber daya, kurangnya dukungan literasi berbasis budaya lokal, serta perlunya peningkatan kapasitas guru dan siswa,” papar Grace Shirley Luntungan.

Dekan FBS Unima mengatakan, Fakultas Bahasa dan Seni hadir dengan pendekatan khas yakni penguatan literasi budaya, pelestarian bahasa lokal, pengembangan seni pertunjukan tradisional, komunikasi edukatif, dan pendampingan institusional.

FBS Unima ingin menjadikan program ini sebagai wadah pembelajaran dua arah, di mana kampus tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat dan sekolah-sekolah pesisir.

“Melalui program ini, kami telah menyusun berbagai kegiatan seperti pelatihan literasi dan penulisan kreatif bagi siswa sekolah binaan, dokumentasi cerita rakyat dan ekspresi budaya pesisir, pementasan seni tradisional nelayan oleh mahasiswa bersama komunitas lokal, pendampingan komunikasi publik bagi komunitas nelayan,” tuturnya.

Selain itu, FBS Unima juga memiliki sekolah dampingan yakni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado, SMKN 7 Manado, dan SMAN 3 Manado, sehingga akan digelar juga workshop penguatan kapasitas guru di sekolah binaan. Selain itu ada juga pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) bagi mahasiswa di lapangan.

“Dalam pelaksanaannya, program ini akan melibatkan dosen lintas program studi, baik dari bahasa, sastra, seni, dan pendidikan,” ujarnya.

Dia mengatakan, pihaknya meyakini bahwa kolaborasi antara kampus dan komunitas merupakan cara terbaik untuk menjembatani teori dan praktik, serta memperkuat karakter mahasiswa sebagai calon intelektual yang peduli dan peka terhadap  realitas sosial.

“Kami juga membuka ruang sinergi dengan fakultas lain, dengan pemerintah daerah, dan  tentunya dengan masyarakat nelayan itu sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, program ini bukan milik fakultas semata, tetapi milik bersama, dan hanya bisa sukses jika dibangun secara gotong royong.

Dia berharap doa restu dan dukungan penuh dari Rektor Unima dan seluruh civitas akademika agar program itu bisa berkembang menjadi model pengabdian yang terstruktur, terukur, dan berdampak luas.

“Kami juga membuka ruang kolaborasi lintas disiplin untuk memperkuat sinergi antar fakultas, serta membangun jejaring dengan pemerintah daerah, LSM, dan dunia usaha,” tutur Grace Shirley Luntungan mengakhiri sambutannya.

Rektor Unima Dr Joseph Philip Kambey SE Ak MBA dalam sambutannya yang disampaikan Plh Rektor Unima Prof Dr Donal Matheos Ratu MHum menyambut baik kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan itu merupakan salah satu program dari Kementerian yang mana pendidikan itu harus berdampak, bermitra dan bersinergi. Ini dampaknya luar biasa bagi pesisir dan pedesaan.

“Kita sama-sama bermitra, Unima akan turun membantu, apa yang bisa kita sumbangkan untuk sekolah apakah dalam segi pengajaran bahasa asing, atau bahsa Indonesia, kita punya kelebihan-kelebihan,” tuturnya.

Plh Rektor Unima mengatakan, apakah nantinya akan laksanakan penelitian bersama dengan sekolah-sekolah, karena yang sangat dibutuhkan oleh karena guru adalah penelitian. Unima akan sama-sama bersinergi.

“Kita juga membimbing sama-sama masyarakat nelayan, ada kelompok nelayan di sini. Jadi persoalan-persoalan ini, mari kita pecahkan bersama,” ujar Donal Matheos Ratu.

Menurutnya, kegiatan itu sangat bermanfaat bagi semua, apalagi ini sudah berapa elemen yang masuk bergabung seperti nelayan, guru, kepala sekolah, dan siswa.

“Ini membuktikan bahwa kalau niat kita baik, pasti disambut baik oleh semua elemen masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.00 Wita itu berlangsung semarak. Apalagi ada pula pementasan seni tari tradisional Hasa.

Turut hadir dalam kegiatan itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Unima Prof Dr Mister Gidion Maru MHum Ketua Yayasan Kasih Pengharapan Abadi dr Felly Mambu, Ketua Kelompok Nelayan Tongkol Kelurahan Bitung Karangria Roy Runtuwene, serta puluhan siswa, guru, dan warga pesisir Pantai Bitung Karangria.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya