Sarjana Menganggur? Ini Fakta Mengejutkan dari Data BPS 2025

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 untuk lulusan universitas berada di angka 5,25 persen.

oleh Ilyas Istianur PradityaDiterbitkan 27 Mei 2025, 19:30 WIB
Ilustrasi gelar sarjana (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang. Angka pengangguran ini naik sekitar 83 ribu orang atau 1,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Februari 2024, yang mencatat 7,20 juta pengangguran.

Meski jumlah angkatan kerja dan penduduk yang bekerja terus meningkat, penyerapan tenaga kerja dinilai belum optimal. Hal ini tercermin dari masih tingginya angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran, terutama pada kelompok berpendidikan tinggi.

Dikutip dari laman BPS, Selasa (27/5/2025) tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 untuk lulusan universitas berada di angka 5,25 persen. Sementara itu, lulusan diploma I/II/III mencatatkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,83 persen.

Setengah Pengangguran

Tak hanya itu, angka setengah pengangguran juga masih menjadi perhatian. Tingkat setengah pengangguran secara umum tercatat sebesar 5,03 persen, dengan kelompok lulusan diploma I/II/III menyumbang 4,01 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa jumlah penduduk usia kerja meningkat signifikan menjadi 216,79 juta orang pada Februari 2025, naik 2,79 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.

"Angkatan kerja tercatat sebanyak 153,05 juta orang, meningkat 3,67 juta orang dibandingkan Februari 2024. Sementara penduduk yang tidak masuk dalam angkatan kerja turun menjadi 63,74 juta orang," ujar Amalia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun potensi tenaga kerja terus tumbuh, tantangan dalam menciptakan lapangan kerja yang sesuai dengan kompetensi lulusan pendidikan tinggi masih perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan sektor swasta.

 

Jumlah Pekerja Indonesia Meningkat Signifikan Tapi Masih Ada Penganggur

Pencari kerja mencari informasi lowongan pekerjaan saat acara Job Fair di kawasan Jakarta, Rabu (27/11/2019). Job Fair tersebut digelar dengan menawarkan lowongan berbagai sektor untuk mengurangi angka pengangguran. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami peningkatan, mencapai 145,77 juta orang, yang bertambah sebanyak 3,59 juta orang dibandingkan dengan Februari 2024.

Dari jumlah tersebut, rincian lebih lanjut menunjukkan perkembangan signifikan dalam profil pekerja di Indonesia. Lebih lanjut, BPS mencatat pekerja penuh tercatat sebanyak 96,48 juta orang, mengalami peningkatan sebesar 3,21 juta orang.

Sementara itu, pekerja paruh waktu berjumlah 37,62 juta orang, bertambah 0,82 juta orang dibandingkan tahun lalu. Namun, meskipun terdapat peningkatan jumlah penduduk yang bekerja, jumlah pengangguran juga masih menjadi perhatian. Terdapat 7,28 juta orang yang menganggur, meskipun jumlah ini sedikit berkurang dibandingkan dengan data tahun sebelumnya.

 

3 Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Pegawai pulang kerja berjalan di trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (12/5/2020). Pemerintah memberi kelonggaran bergerak bagi warga berusia di bawah 45 tahun untuk mengurangi angka pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi virus corona COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dalam hal penyerapan tenaga kerja menurut lapangan usaha, data BPS menunjukkan bahwa tiga sektor utama yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Ketiga sektor ini masih menjadi tulang punggung penciptaan lapangan kerja di Indonesia.

"Pada Februari 2025, tiga lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbanyak adalah pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan," uajrnya.

Menurut Amalia, jika dibandingkan dengan Februari 2024, sebagian besar lapangan usaha mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja. Sektor perdagangan mencatatkan peningkatan paling signifikan, yaitu sebanyak 0,98 juta orang.

Kemudian, disusul oleh sektor pertanian yang mengalami penambahan tenaga kerja sebanyak 0,89 juta orang, serta industri pengolahan yang menyerap tambahan 0,72 juta pekerja.

Peningkatan ini dinilai positif mengingat ketiga sektor tersebut tidak hanya berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya