Liputan6.com, Yogyakarta - Warung Sate Puas terletak tak jauh dari wilayah Kraton, tepatnya di Jalan Gamelan Kidul No. 1, Kraton, Yogyakarta. Pada masa perjuangan, warung sate ini menjadi markas tersembunyi para pejuang.
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Warung Sate Puas saat ini sudah tidak beroperasi menjual sate kepada pelanggannya. Pada 2012, bangunan ini telah direhabilitasi dan direvitalisasi.
Advertisement
Selain itu, bekas lokasi Warung Sate Puas saat ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang dikelola Pemprov DIY melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.
Jejak keberadaan warung sate ini sangat berjasa pada masa mempertahankan kemerdekaan NKRI. Warung Sate Puas tak hanya terkenal dengan cita rasa masakannya saja, melainkan juga nilai historis yang terkandung di dalamnya.
Warung Sate Puas menjadi salah satu tempat makan dan berkumpul yang banyak diminati oleh para kalangan pejuang gerilyawan. Tempat ini juga tak luput dari perhatian Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang, saat itu berstatus sebagai Raja di Yogyakarta, untuk berkunjung.
Selain menjadi tempat berkumpul, Warung Sate Puas juga dimanfaatkan oleh para pejuang sebagai tempat untuk menyusun strategi dalam melakukan perlawanan melawan tentara Belanda. Salah satu peristiwa yang tak bisa dilepaskan dari warung sate ini adalah Serangan Umum 1 Maret 1949.
Strategi Tersembunyi
Warung Sate Puas menjadi salah satu lokasi dilakukannya perencanaan aksi penyerangan ke Kota Yogyakarta oleh para TNI dan gerilyawan. Warung ini seolah menjadi markas penyusunan strategi tersembunyi yang berkamuflase dalam wujud warung sate.
Kisah sejarah Warung Sate Puas juga dapat ditemui di Museum Monumen Yogya Kembali, tepatnya di Ruang Museum 2 yang berada di Lantai 1 museum ini. Terdapat beberapa koleksi berupa foto yang menggambarkan kondisi Warung Sate Puas saat digunakan sebagai tempat menyusun strategi.
Ada juga koleksi berupa kursi makan Warung Sate Puas yang dulu sempat menjadi tempat duduk Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat meninjau keamanaan di dalam Kota Yogyakarta pada 4 Juli 1949. Berada di samping kursi makan, terdapat koleksi berupa seragam atau baju kerja milik Sri Paduka Paku Alam VIII.
Penulis: Resla