Liputan6.com, Jakarta - Belakangan ini cukup marak berita tentang pendaki gunung di Indonesia mengalami berbagai insiden seperti tersesat, hilang, kecelakaan dan bahkan ada yang meninggal dunia. Salah satunya adalah seorang pendaki asal Temanggung yang sempat hilang di Gunung Merbabu, Jawa Tengah ditemukan meninggal dunia.
Situasi itu membuat Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan (Gakkum Kemenhut) Dwi Januanto Nugroho kembali mengingatkan pentingnya persiapan yang baik sebelum mendaki gunung. Ia mengatakan, jangan pernah berencana mendaki sebuah gunung hanya karena bisa eksis di media sosial misalnya agar tidak FOMO (Fear of Missing Out).
Advertisement
"Jangan mendaki gunung karena FOMO, atau ikut-ikutan demi membuat konten. Yang terpenting persiapan sebelum mendaki harus maksimal termasuk mengenali medan dan kawasan gunung yang akan didaki. Jadi harus dipersiapkan sebaik-baiknya," terang Dwi Januanto dalam jumpa pers di Jakarta pada Kamis, 15 Mei 2025.
Selain itu, Kemenhut juga sedang mendalami kemungkinan penutupan jalur pendakian ilegal, termasuk yang berada di Gunung Merbabu. "Jadi pendakian yang di Merbabu itu langsung dapat feedback, dan sekarang saatnya kita tutup pendakian jalur ilegal yang di Merbabu," jelasnya.
Pengelolaan Taman Nasional
Dia menyebut, keberadaan masukan tersebut memerlukan pendalaman kembali terkait proses penegakan hukum, karena memerlukan sejumlah pertimbangan termasuk faktor sosial yang ada di masyarakat sekitar kawasan. Dia mengatakan, penegakan hukum merupakan salah satu komponen pengelolaan taman nasional, sehingga ketika dilakukan perlu pertimbangan yang memikirkan juga faktor lingkungan, sosial dan ekonomi.
"Kalau kita tutup, solusinya secara sosial seperti apa. Jadi kita pikirkan benar," lanjutnya. Untuk itu, dia meminta masukan dari setiap pendaki dan para pemangku kepentingan lain demi memastikan keselamatan dan kenyamanan ketika melakukan pendakian maupun mengunjungi taman nasional tersebut, serta langkah penegakan hukum yang diperlukan terkait jalur pendakian ilegal.
Kemenhut sendiri memiliki perhatian khusus terhadap pendakian yang dilakukan di sejumlah taman nasional, termasuk yang diminati pendaki seperti Merbabu, terutama dalam memastikan keselamatan setiap orang yang melakukan pendakian.
Persiapan Sebelum Pendakian
Secara khusus, dia merujuk kepada imbauan dari Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni terkait persiapan yang diperlukan sebelum melakukan pendakian dan penggunaan jalur yang aman serta legal.
"Itu yang kita tekankan bahwa sisi itu memang cukup rawan kalau fenomena hanya untuk membuat konten tanpa persiapan. Itu yang kita tekankan bahwa pendakian itu bukan perlombaan atau konten," pungkasnya.
Kemenhut juga masih melakukan pencarian terhadap seorang pendaki gunung yang hilang di Gunung Binaiya. Mereka memutuskan melanjutkan upaya pencarian pendaki yang hilang sejak 26 April 2025.
Pendaki bernama Firdaus Ahmad Fauzi (27 tahun) yang berasal dari Kampung Cibeureum, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia dinyatakan hilang saat melakukan pendakian di Gunung Binaya Taman Nasional Manusela Kabupaten Maluku Tengah.
Yang bersangkutan terpisah dari rombongan yang berjumlah 10 orang (7 orang pendaki dan 3 orang porter) disekitar Nasapeha (3°12'37.73"S, 129°30'8.15"E) di ketinggian 2.800 mdpl. Kemenhut melanjutkan upaya pencarian pendaki yang hilang melalui tim dari Balai Taman Nasional Manusela.
Pendaki Gunung Binaya
Tim tersebut akan mendukung upaya pencarian lanjutan yang dilakukan oleh relawan dan masyarakat, serta melalui kegiatan smart patrol dan kegiatan lain sejenis yang dilakukan secara rutin di dalam kawasan TN Manusela. Melalui keterangan resmi Kemenhut yang diterima tim Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 14 Mei 2025, berbagai usaha sudah dilakukan dalam pencarian pendaki gunung yang hilang tersebut.
Awalnya, tim Balai Taman Nasional Manusela melakukan upaya pencarian melalui kegiatan Smart Patrol dibantu Tour Guide dan porter sejak t26 April 2025, tetapi belum membuahkan hasil.
Selanjutnya pada 29 April 2025, dibentuk tim gabungan yang beranggotakan tim Balai Taman Nasional Manusela, Basarnas Maluku, Kepolisian, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia, relawan dan masyarakat berjumlah lebih dari 30 orang. Setelah tujuh hari, sesuai dengan SOP SAR, Basarnas Maluku dan tim gabungan menghentikan pencarian pada 5 Mei 2025.
Selama proses pencarian tersebut, ditemukan adanya jejak sepatu, puntung dan bungkus rokok merek Dunhill di sekitar Sungai Yahe yang diperkirakan milik survivor sesuai hasil konfirmasi pihak keluarga.