Liputan6.com, Jakarta - Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman, menilai fokus pemerintah dalam menekan anggaran belanja dan melakukan efisiensi belakangan ini diprediksi akan berdampak langsung terhadap kelas menengah.
Meskipun pemerintah telah mengambil langkah-langkah positif dengan membuka blok anggaran yang sebelumnya ditahan dan mempercepat beberapa kebijakan seperti pemberian gaji ke-13, tantangan besar tetap ada pada sisi penerimaan negara.
Advertisement
"Cukup, Jadi memang harusnya ke depan pemerintah, kan sebenarnya sudah positif ya pemerintah, karena sudah membuka blok dari anggaran yang tadinya memang untuk ditahan Rp 150 triliun untuk di KL-nya, sekarang sudah mulai dibuka. Dan juga ada momentum nih misalnya seperti Gaji ke-13, itu juga harus bisa dipercepat juga," kata Faisal saat ditemui di Kantor Permata Bank, Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Dalam upaya memperbaiki kondisi fiskal, pemerintah dihadapkan pada kebutuhan untuk memperbesar pengeluaran dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi.
"Jadi, memang sebenarnya sekarang pemerintah itu memang harus lebih banyak spending-nya. Kita nggak bisa pungkiri bahwa fiskal itu harus ekspansi," ujarnya.
Namun, risiko defisit yang lebih besar tetap mengintai jika pendapatan negara tidak bergerak seiring dengan ekspansi belanja yang dilakukan.
"Tetapi memang PR-nya adalah dari sisi penerimaan. Jangan sampai ketika ekspansi, penerimaan yang masih termandek, sehingga defisitnya jadinya melebar. Itu memang menjadi challenge jadi pemerintah saat ini," jelas Faisal.
Kebijakan Jangka Pendek Kelas Menengah
Di sisi lain, meskipun kebijakan pemerintah yang bertujuan mengendalikan inflasi, seperti diskon tarif listrik, tol, dan pesawat terbang untuk mendukung mobilitas selama Lebaran, dirasa cukup membantu utamanya bagi kelas menengah, meskipun kebijakan tersebut sifatnya hanya sementara.
"Memang itu akan membantu, tetapi memang itu sifatnya kan yang temporer ya. Sedangkan mungkin dari kelas menengah itu lebih butuh kebijakan yang struktural yang jangkanya jangka menengah dan panjang," ujarnya.
Kendati demikian, menurut Faisal, kelas menengah membutuhkan kebijakan yang lebih bersifat struktural dan dapat memberikan dampak jangka panjang.
Pentingnya menjaga keseimbangan demand dan Supply
Di sisi lain, pentingnya penggerakan sektor riil dan sisi pasokan ekonomi menjadi sorotan. Terlebih lagi, jika pengeluaran pemerintah terus dibatasi untuk efisiensi atau relokasi anggaran, sektor-sektor terkait seperti perhotelan dan industri pendukung lainnya akan turut terpengaruh.
Hal ini berpotensi berdampak pada lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat, terutama yang berada di kelas menengah. Oleh karena itu, kebijakan yang seimbang antara permintaan dan pasokan sangat dibutuhkan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.
"Ketika spending pemerintah itu ditahan ya, dengan melakukan efisiensi atau relokasi anggaran, itu memang akan kena. Seperti perjalanan dinas dibatasi, pasti kan hotel itu akan kena. Seperti itu sebenarnya memang harus pemerintah lihat," pungkasnya.