Mekanisme Pengembalian Barang Jemaah Haji yang Sering Tertinggal

Dari sekian banyak laporan kehilangan barang atau barang tertinggal yang masuk ke Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Madinah, kursi roda menjadi barang yang paling sering tertinggal di bandara, diikuti tas koper dan ponsel.

oleh Dinny MutiahDiperbarui 14 Mei 2025, 10:45 WIB
Kasie Linjam Daker Madinah M. Slamet ungkap mekanisme yang disiapkan petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) untuk mengembalikan barang jemaah yang tertinggal kepada pemiliknya. (Dinny Mutiah).

Liputan6.com, Jakarta - Layanan fast track yang disiapkan pemerintah di musim haji tahun ini menuntut jemaah haji Indonesia bergerak lebih cepat. Terkadang hal itu membuat barang-barang jemaah tertinggal atau tersasar ke tempat lain.

Dari sekian banyak laporan kehilangan barang atau barang tertinggal yang masuk ke Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Madinah, kursi roda menjadi barang yang paling sering tertinggal di bandara, diikuti tas koper dan ponsel.

Kasie Linjam Daker Madinah M. Slamet membeberkan mekanisme yang disiapkan petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) untuk mengembalikan barang jemaah yang tertinggal kepada pemiliknya.

"Kita koordinasi dengan linjam di bandara, dikirim ke Daker Madinah, kemudian kita data, kita lihat ini dari embarkasi mana. Setelah kita data, kita sampaikan ke linjam sektor untuk mengambil barang-barang ini di Daker Madinah," kata Slamet kepada Media Center Haji 2025 di Madinah, Senin, 12 Mei 2025.

Pihaknya juga sengaja membuat WA Group tentang daftar barang-barang yang tertinggal dan terdata di Daker Madinah. Nanti, petugas linjam di sektor akan mengambil barang jemaah tersebut ke tempat penyimpanan dan mengembalikannya ke jemaah, atau jemaah yang berinisiatif melaporkan kehilangan kepada petugas linjam di sektor untuk membantu melacak barang mereka.

"Alhamdulillah setiap harinya kita menerima barang-barang dari bandara. Itu setiap hari terambil selama ini, lancar," sambungnya.

Meski begitu, ia mengingatkan setiap jemaah untuk mengamankan barang bawaannya sendiri. Salah satunya dengan memberi identitas di setiap barang mereka agar mudah melacak siapa pemilik barangnya tersebut.

Ia juga meminta jemaah untuk tidak membawa barang-barang berharga secara berlebihan. "Misalnya membawa uang Rp40 juta. Itu rawan, riskan karena kita di negara orang. Kita tidak tahu posisi di sini apa, beda dengan Indonesia," imbuh Slamet.

Kehilangan Barang di Masjid Nabawi

Selain di bandara, barang-barang jemaah juga sering tertinggal di Masjid Nabawi. Terkait hal ini, pihaknya menempatkan beberapa petugas linjam sektor khusus Nabawi untuk memantau dan mengamankan barang-barang jemaah yang tercecer.

"Kalau ada laporan, kita koordinasi ke linjam sana agar mencari, menyisir. Mudah-mudahan apa yang dilaporkan jemaah bisa kita temukan," ia menjelaskan.

Jemaah Haji Diminta Segera Melapor Kehilangan

Untuk itu, ia mengimbau agar setiap jemaah untuk segera melaporkan kehilangan barangnya, baik ke ketua rombongan atau ketua kloter, sebelum menyatakan bahwa barangnya hilang. "Silakan laporkan ya biar barang itu segera kita temukan," katanya.

Untuk barang-barang jemaah yang belum diambil pemiliknya hingga musim haji selesai, petugas berencana akan menyimpan hingga batas waktu tertentu atau mewakafkannya kepada siapa pun yang membutuhkannya bila pemilik tak kunjung mengambilnya.

"Barang itu adalah masih menjadi tanggung jawab kami. Kalaupun itu terpaksa kami bawa ke Indonesia, kami bawa. Siapa tahu nanti di Indonesia ada jemaah kita yang merasa kehilangan, nanti akan kita serahkan di sana," katanya.

Infografis 3 Kriteria Jemaah Indonesia Dapat Badal Haji Gratis. (Liputan6.com/Abdillah)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya