Liputan6.com, Yogyakarta - Dalem Sopingen berlokasi di barat laut Pasar Kotagede, tepatnya di Gg. Kp. Pekaten No.870, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Gedung ini merupakan salah satu bangunan yang memiliki nilai historis mendalam.
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, nama sopingen berasal dari nama pemilik rumah ini, Raden Amatdalem Sopingi. Ia merupakan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang menjabat sebagai juru kunci makam.
Advertisement
Pendirian Dalem Sopingen dilakukan sekitar 200 tahun lalu. Luasnya mencapai 1.800 meter persegi yang terdiri dari beberapa bagian.
Ruangan pada rumah ini sama seperti rumah tradisional Yogyakarta pada umumnya, yakni berupa pendopo, dalem, gandhok kiwo dan tengen, gadri di bagian belakang, pringgitan, longkangan, serta musala di sisi barat. Bangunan ini memiliki bentuk atap yang merupakan kombinasi antara atap joglo, limasan, dan kampung.
Atap-atap inilah yang menjadi ciri khas Dalem Sopingen. Bentuknya datar dan menonjol dengan atap limasan yang sejajar dengan jalan. Bentuk atap ini juga menggambarkan kekhasan Kotagede.
Meski bentuk bangunannya menyerupai rumah tradisional Jawa pada umumnya, tetapi terdapat perbedaan pada tembok-tembok yang mengelilingi bangunan utama. Tembok-tembok ini merupakan perisai tebal yang dibangun setinggi bangunan utama.
Terdapat regol atau pintu besar sebagai pintu masuk utama. Selain itu, bangunan rumah ini juga dibangun berhimpitan satu sama lain, sehingga membentuk lorong-lorong kecil atau longkangan.
Selain sebagai rumah pribadi, Dalem Sopingen juga dijadikan sebagai ruang kegiatan publik. Pada masa itu, para pejabat kerajaan akan singgah di rumah ini terlebih dahulu sebelum berziarah ke makan raja-raja Mataram di Kotagede. Bangunan ini juga menjadi lokasi digelarnya upacara adat dan berbagai kegiatan kesenian.
Sekitar era 1900 hingga 1945-an, Pendopo Sopingen menjadi saksi sejarah. Saat itu, bangunan tersebut digunakan sebagai tempat pertemuan atau rapat, propaganda, dan kegiatan seni budaya oleh berbagai organisasi dan perkumpulan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Tokoh Politik
Tokoh-tokoh politik yang pernah berdiskusi di rumah ini adalah Ketua Sarekat Islam HOS Cokroaminoto, Pendiri Sarekat Islam Samanhoedi, Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, serta pendiri Perguruan Tamansiswa Ki Hadjar Dewantara. Beberapa pemimpin dari Golongan Komunis juga pernah menggunakan tempat ini, seperti Samaun, Musi, dan Alimin.
Saat terjadi persinggungan golongan masyarakat Kotagede antara dua partai organisasi, Partai Komunis Indonesia dan Ormas Islam Muhammadiyah. Dalem Sopingen menjadi lokasi diadakannya kongres saat pertentangan tersebut mencapai puncaknya pada 1924.
Tidak hanya digunakan pada era pra-kemerdekaan Indonesia, Dalem Sopingen juga digunakan untuk kegiatan-kegiatan serupa di tahun-tahun setelah kemerdekaan. Pada rentang 1962-1964, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sering menggelar latihan dan pementasan tari di pendopo ini. Dalam pementasan tari tersebut muncul ragam tarian rakyat, seperti tari buruh, tari tani, tari bagi hasil, tari anjangsana, dan lain sebagainya.
Pada 1960 hingga 1970-an, Muhammadiyah juga banyak menggelar acara pentas seni di pendopo Dalem Sopingen. Setiap sela-sela pentas seni, disisipkan demonstrasi olahraga pencak silat Senopati Pemuda Muhammadiyah Kotagede.
Bukan itu saja, beberapa pementasan karya kesenian lainnya juga pernah digelar di pendopo Dalem Sopingen, di antaranya kelompok teater Iqbal PII Kotagede dan teater Alam Azwar AN yang memainkan lakon Obrok Owok-Owok Ebrek Ewek-Ewek karya Darmanto. Wisnu Wardhana dan Bagong Kusudihardjo juga pernah menggelar pementaskan tari di pendopo ini.
Saat ini, bangunan ini telah diwariskan kepada ketiga anak keturunan Raden Amatdalem Sopingi. Dalem Sopingen menjadi saksi bisu perjuangan rakyat dan perkembangan kesenian di Indonesia.
Penulis: Resla