Wamentan Sudaryono Dorong Riset dan Modernisasi Pertanian untuk Tingkatkan Daya Saing

Sudaryono menekankan riset dan modernisasi sangat dibutuhkan agar sektor pertanian, khususnya komoditas perkebunan, mampu kembali bersaing di pasar global.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 12 Mei 2025, 14:09 WIB
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan komitmennya untuk meningkatkan daya saing sektor pertanian nasional melalui penguatan riset, inovasi, dan modernisasi. (Tim Humas Gerindra)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan komitmennya untuk meningkatkan daya saing sektor pertanian nasional melalui penguatan riset, inovasi, dan modernisasi. Hal itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Taman Sains Pertanian (TSP) Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) di Sukabumi, Jawa Barat.

Dalam kunjungannya, pria yang akrab disapa Mas Dar itu meninjau sejumlah fasilitas pertanian, seperti area pembibitan kopi, koleksi plasma nutfah tanaman perkebunan, proses pengolahan kopi dan kakao, serta pengembangan biofuel.

“Potensi riset dari balai-balai Kementan perlu dioptimalkan sebagai kekuatan utama dalam membangun pertanian nasional yang berdaya saing global. Negara kita ini keren. Ada 64 balai di Kementerian Pertanian yang mengelola perbenihan, pembibitan, hingga pascapanen. Misalnya, ada balai yang bisa melakukan inseminasi buatan untuk mendukung produksi sapi nasional,” ujar Mas Dar dalam siaran pers, Senin (12/5/2025).

Mas Dar menekankan riset dan modernisasi sangat dibutuhkan agar sektor pertanian, khususnya komoditas perkebunan, mampu kembali bersaing di pasar global. Ia merujuk pada arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan agar komoditas perkebunan Indonesia kembali menempati posisi teratas dunia.

"Insya Allah, sambil mengejar swasembada beras, kita paralel menyiapkan lompatan besar untuk komoditas lainnya, termasuk perkebunan,” yakinnya.

Ia juga mendorong penguatan hilirisasi sektor pertanian untuk meningkatkan nilai tambah, salah satunya melalui pengembangan biofuel berbasis tanaman perkebunan seperti sawit dan tebu.

“Ini menjanjikan. Keunggulan komparatif kita di sektor pertanian ternyata tidak hanya untuk pangan, tapi juga energi. Tebu bisa diolah jadi bioetanol, sawit bisa jadi bahan bakar ramah lingkungan. Jika kebutuhan pangan sudah tercukupi, komoditas tersebut bisa dimanfaatkan untuk energi,” tuturnya.

Selain itu, Mas Dar menyoroti pentingnya menjembatani hasil riset dengan kebutuhan dunia usaha dan agribisnis, khususnya di kalangan anak muda.

“Pekerjaan rumah kita adalah mengatasi gap antara hasil riset dengan penerapan di lapangan. Banyak anak muda belajar dari media sosial tanpa data ilmiah. Kita ingin mendekatkan riset dengan dunia usaha, sehingga anak-anak muda bisa meniru model bisnis budidaya atau pengolahan berbasis riset,” ujarnya.

 

Adopsi Teknologi Terbaik

Sebagai bagian dari upaya tersebut, politisi Partai Gerindra ini mendorong kolaborasi antara Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian. Langkah ini, katanya, sejalan dengan arahan Presiden untuk mengadopsi teknologi terbaik demi memperkuat sektor pertanian nasional.

Sementara itu, Kepala BRMP TRI Evi Savitri Iriani menyampaikan bahwa balai yang dipimpinnya berperan penting dalam pengembangan benih unggul dan teknologi pengolahan hasil perkebunan. Ia berharap hasil-hasil riset bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Dengan kunjungan Pak Wamen, kami berharap masyarakat tahu bahwa balai-balai Kementan adalah sumber teknologi. Mereka bisa bertanya, belajar, dan menerapkan langsung di lapangan. Jangan hanya berhenti di jurnal atau laporan, tapi betul-betul dirasakan manfaatnya,” ujar Evi.

Infografis Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi Tembus 8 Persen. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya