Liputan6.com, Vatican City - Vatikan, pusat spiritual Gereja Katolik Roma, kembali menjadi sorotan dunia dengan dimulainya konklaf untuk memilih paus baru.
Hari ini, Rabu (7/5/2025), menjadi bagian penting dalam sejarah di mana prosesi konklaf diikuti oleh 133 kardinal dari seluruh dunia untuk menentukan pengganti Paus Fransiskus.
Advertisement
Namun di balik dinding Kapel Sistina yang tertutup rapat dan suasana yang penuh doa, konklaf tak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik global.
Dalam benak publik, konklaf mungkin hanya dipahami sebagai prosesi sakral untuk menentukan pemimpin tertinggi umat Katolik. Namun sejatinya, paus adalah kepala Takhta Suci—entitas hukum berdaulat yang diakui secara internasional dan memiliki hubungan diplomatik dengan 184 negara.
Artinya, paus bukan hanya pemimpin religius, tetapi juga figur politik yang memiliki pengaruh global.
Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan, Trias Kuncahyono, menggambarkan realitas baru Gereja Katolik yang tengah menghadapi pergeseran besar.
"Eropa dulunya adalah pusat gravitasi bagi Kekristenan dunia, tetapi kini Eropa adalah tanah yang paling pagan dan ladang misi yang terbesar," ungkap dia seperti dikutip dari Trias Kredensial News, Rabu (7/5/2025).
"Akibat sekularisasi itu terjadi kekosongan spiritual. Humanisme sekuler tidak dapat melakukan tugasnya."
Dalam konteks ini, kepemimpinan Paus Fransiskus menjadi penanda arah baru. Ia secara konsisten menggeser fokus Gereja dari pusat ke pinggiran. Hal ini tercermin dalam kebijakan pengangkatan kardinal selama masa kepemimpinannya: dari 163 kardinal yang diangkat, 110 di antaranya adalah kardinal-elektor yang berasal dari 76 negara.
Beberapa contoh signifikan adalah pengangkatan Kardinal Anders Arborelius dari Swedia (Skandinavia), Kardinal Filipe Neri Ferrao dari Goa, India, dan Kardinal Anthony Poola dari kasta Dalit.
Paus Fransiskus juga mengangkat kardinal dari komunitas adat Bolivia, Uskup Toribio Ticona Porco. Semua ini mencerminkan komitmen untuk membangun Gereja yang inklusif dan global.
Peran Diplomatik Vatikan bagi Dunia
Takhta Suci telah lama memainkan peran diplomatik di dunia internasional.
Dalam sejarahnya, perjanjian Lateran 1929 menjadi dasar pengakuan atas kepribadian hukum internasional Takhta Suci. Maka, setiap paus baru bukan hanya pemimpin spiritual, tapi juga kepala negara yang aktif dalam diplomasi internasional.
"Sejak abad pertengahan, ketika masih merupakan Negara Kepausan, Takhta Suci memiliki international legal personality. Karena itu, Takhta Suci memiliki hubungan diplomatik dengan 184 negara," jelas Dubes Trias.
Dari Irak hingga Mongolia, dari UEA hingga Timor Leste, Paus Fransiskus telah mengunjungi berbagai negara sebagai bentuk keterlibatan global Gereja.
"Di masa kepausan Paus Fransiskus (1936-2025), misalnya, kebijakan Vatikan yang mempertimbangkan geopolitik terlihat dari berkurangnya pengaruh historis Eropa. Ini terlihat dari pengangkatan kardinal, tidak lagi fokus ke Eropa tetapi menyebar ke seluruh bagian dunia," tambah Dubes Trias.
Dalam konklaf ini, pilihan terhadap paus baru kemungkinan akan mempertimbangkan tantangan-tantangan global: migrasi massal, perubahan iklim, konflik geopolitik, dan kemiskinan.
Maka, siapa pun yang terpilih nantinya diharapkan tak hanya mampu memimpin umat Katolik, tetapi juga menjadi suara moral dalam geopolitik dunia.