6 Fakta Gempa Myanmar yang Meluluhlantakkan Thailand

Gempa bumi magnitudo 7,7 yang berpusat di Myanmar menyebabkan kerusakan parah di Thailand, terutama di Bangkok. Berikut fakta-faktanya.

oleh Muhammad AliDiperbarui 29 Maret 2025, 07:07 WIB
Gempa Myanmar juga menyebabkan runtuhnya bangunan pencakar langit yang masih dalam proses pembangunan di Thailand. (Sai Aung MAIN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Pada Jumat, 28 Maret 2025, dunia dikejutkan oleh gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Myanmar. Gempa ini terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat dan menimbulkan dampak yang sangat signifikan di Thailand, khususnya di ibu kota, Bangkok.

Getaran kuat yang dihasilkan gempa tersebut tidak hanya menyebabkan kepanikan di kalangan warga Thailand, tetapi juga meruntuhkan sebuah gedung pencakar langit yang sedang dalam tahap pembangunan.

Kejadian tragis ini menelan banyak korban dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Jumlahnya pun kemungkinan akan meningkat karena pencarian korban yang terjebak di reruntuhan masih berlangsung.

Selain gedung yang runtuh, banyak bangunan lain di Bangkok juga mengalami kerusakan parah. Pemerintah Thailand langsung menetapkan Bangkok sebagai zona bencana dan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra memimpin upaya tanggap darurat untuk menangani situasi ini.

Berikut ini fakta-fakta yang memilukan gempa Myanmar yang membuat Thailand rusak berat:

Gedung 30 Lantai Ambruk

Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar tengah berdampak kepada kerusakan gedung-gedung tinggi di Bangkok. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Gempa bumi ini memberikan dampak yang sangat besar di Bangkok. Banyak bangunan yang tidak hanya rusak, tetapi juga mengalami keruntuhan akibat getaran yang sangat kuat.

Di antara bangunan yang terkena dampak adalah gedung pencakar langit yang sedang dibangun dekat Pasar Chatuchak. Bangunan dengan 30 lantai itu ambruk rata dengan tanah. Kejadian ini menambah daftar panjang kerusakan yang disebabkan oleh gempa, yang juga terasa di wilayah utara Thailand, termasuk Chiang Mai.

“Kami masih mencari korban yang mungkin terjebak di reruntuhan,” kata seorang pejabat setempat. Upaya penyelamatan masih berlangsung dengan harapan dapat menemukan lebih banyak korban yang selamat.

144 Orang Tewas

Ibu kota Thailand, Bangkok, diumumkan menjadi daerah bencana imbas gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar. (Chanakarn Laosarakham/AFP)

Jumlah korban tewas akibat gempa yang berpusat di dekat kota Sagaing, Myanmar, pada Jumat (28/3/2025) bertambah menjadi 144 orang.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 itu tak hanya dirasakan oleh warga Myanmar, tetapi getarannya terasa hingga Bangkok, Thailand, dikutip dari laman Euro News, Jumat (28/3).

Kelompok-kelompok bantuan telah memperingatkan kerusakan yang signifikan di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Otoritas setempat melaporkan bahwa sebanyak 730 orang lainnya terluka.

"Jumlah korban tewas dan cedera diperkirakan akan meningkat," kata Jenderal Senior Min Aung Hlaing kepada TV milik pemerintah.

Mal di Bangkok Ditutup

Sebelumnya, gempa bumi dahsyat mengguncang Myanmar tengah pada 28 Maret 2025. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Beberapa pusat perbelanjaan besar di Bangkok, Thailand ditutup dan evakuasi dipercepat menyusul gempa Myanmar pada Jumat, (28/3/2025).

Mengutip nationthailand.com, Jumat pekan ini, Siam Piwat mengonfirmasi perusahaan telah berhasil evakuasi pelanggan dan operator toko dari Siam Paragon, Siam Centre, Siam Discovery dan Siam Piwat Tower, tanpa ada korban luka yang dilaporkan.

Namun, perusahaan menyatakan, gedung-gedung tersebut ditutup dan inspeksi sedang dilakukan oleh para ahli untuk memastikan keselamatan.

“Karena ada kemungkinan gempa susulan, perusahaan harus menutup sementara Siam Paragon, Siam Centre, Siam Discovery dan Siam Piwat Tower,” demikian disampaikan Perseroan.

Sementara itu, IconSiam juga mengumumkan pelanggan dan operator toko telah dievakuasi dengan selamat tanpa korban luka. Mirip dengan gedung-gedung yang dioperasikan oleh Siam Piwat, komplek perbelanjaan ditutup karena alasan keselamatan dengan inspeksi yang sedang berlangsung.

Operator juga berharap masyarakat Thailand dapat mengatasi situasi ini bersama-sama. MBK Centre melaporkan kompleks perbelanjaan ditutup sementara karena insiden tersebut.

Sementara itu, kepada CNBC, produsen mobil Nissan menyatakan telah hentikan operasi manufakturnya di Thailand hingga situasi dinilai aman oleh otoritas Thailand.

“Nissan mengutamakan keselamatan karyawan. Sampai saat ini, kami telah memastikan semua karyawan di Nissan Thailand aman dan telah dievakuasi. Kami sedang memeriksa apakah ada kerusakan pada fasilitas kami,” ujar seorang juru bicara.

Status Darurat di Bangkok

Para penyintas gempa bumi menunggu untuk menerima perawatan medis di kompleks rumah sakit di Naypyidaw pada 28 Maret 2025, setelah gempa bumi di Myanmar bagian tengah. (Dok: AFP/Sebastien Berger)

Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra mengumumkan status darurat di Bangkok usai gempa magnitudo 7,7 yang berpusat di Myanmar. 

Kerusakan dilaporkan terjadi pada bangunan-bangunan di seluruh Bangkok, Thailand, setelah gempa. Hal ini menyebabkan gedung pencakar langit 30 lantai yang sedang dibangun dilaporkan runtuh.

 USGS mengatakan, gempa pada Jumat (28/3/2025) itu dangkal, pada kedalaman hanya 10 km (enam mil) dengan episentrum di dekat pusat kota Mandalay, sekitar 50 km (30 mil) di timur kota Monywa.

Warga Berhamburan Keluar dari Kondominium dan Hotel

Warga Bangkok, Thailand, berhamburan dari gedung tinggi akibat gempa Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025. (dok. Chayanit ITTHIPONGMAETEE / AFP)

Warga yang juga terkejut dan merasakan getaran di pusat kota Bangkok dilaporkan langsung berhamburan keluar dari kondominium dan hotel bertingkat tinggi.

Bangkok merupakan kota yang luas dan merupakan rumah bagi lebih dari 17 juta orang, banyak di antaranya tinggal di apartemen bertingkat tinggi.

Menurut kesaksian warga, gempa itu cukup kuat untuk membuat air mengalir keluar dari kolam, beberapa di antaranya berada di gedung-gedung tinggi, saat gempa mengguncang.

"Saya mendengarnya dan saya sedang tidur di dalam rumah. Saya berlari sejauh yang saya bisa dengan mengenakan piyama keluar dari gedung," kata Duangjai, seorang warga kota wisata populer Chiang Mai, Thailand utara, kepada AFP.

Belum Ada Informasi WNI Jadi Korban Gempa

Guncangan gempa juga dirasakan di provinsi Yunnan, China,, yang berbatasan dengan Myanmar. (Sai Aung MAIN/AFP)

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan, berdasarkan koordinasi dengan KBRI Yangon dan KBRI Bangkok, hingga saat ini belum terdapat informasi adanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gempa magnitudo 7,7 pada Jumat (28/3/2025) sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Titik gempa dilaporkan berjarak 13 Km arah utara-barat laut dari Kota Sagaing, Myannmar. Gempa juga dirasakan hingga ke wilayah tengah dan utara Thailand, termasuk Bangkok.

"KBRI Yangon tengah memantau dan berkoordinasi dengan otoritas dan komunitas Indonesia untuk mengidentifikasi WNI yang terdampak. Sejauh ini sejumlah WNI yang berada di wilayah Mandalay telah melaporkan dalam keadaan baik. Total WNI yang berada di Myanmar tercatat sekitar 250 orang," ungkap Direktur Pelindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI Judha Nugraha dalam pesan tertulisnya kepada awak media.

 

Infografis

Minimnya Kewaspadaan Terhadap Bencana Gempa Bumi di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya