Kepala BRIN Buka InaRI Expo 2022, Diikuti 239 Peserta Pameran

Kali ini InaRI Expo 2022 mengusung tema “Digital, Blue, & Green Economy: Riset dan Inovasi untuk Kedaulatan Pangan dan Energi”.

oleh Liputan6.comDiperbarui 27 Oktober 2022, 12:11 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko membuka ajang pameran riset dan inovasi atau InaRI 2022. Ajang pameran ini diikuti sekitar 239 peserta. Foto/Arief Rachman

Liputan6.com, Jakarta

Gandeng India dan Asean Sekretariat

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko membuka ajang pameran riset dan inovasi atau InaRI 2022. Ajang pameran ini diikuti sekitar 239 peserta. Foto/Arief Rachman
 
Handoko menerangkan kalau gelaran ini turut menggandeng Asean Sekretariat dan pemerintah India. Termasuk dalam menyediakan wadah starup expo.
 
"Ajang ini dimanfaatkan tak hanya untu pelaku ristek di lembaga kampus tapi juga industri dan juga ajang adik-adik kita yang masih remaja untuk memamerkan karya-karyanya," ungkapnya.
 
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Departemen Sains dan Teknologi India, Srivari Chandrasekhar menyebut gelaran ini bisa jadi ajang bertukar pengetahuan. Utamanya dari India yang memiliki pengalaman di sektor Start up.
 
"Pada 2014, kita punya 500 starup saja, tapi sekarang sudah lebih dari 77 ribu start up. Bahkan sekarang sudah lebih dari 100 start up dalam kategori unicorn dan value mereka sudah lebih dari USD 300 miliar, kami mau membagikan pengalaman yang kami miliki ini," paparnya.
 
 
 

Ingin Indonesia Lirik Nuklir

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko membuka ajang pameran riset dan inovasi atau InaRI 2022. Ajang pameran ini diikuti sekitar 239 peserta. Foto/Arief Rachman
 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) untuk mencapai target penurunan net zero emission masih tergolong lemah. Penggunaan tenaga nuklir lantas didorong untuk mengejar program transisi energi.
 
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Mego Pinandito menyatakan, pemanfaatan EBT hingga 2019 masih belum maksimal.
 
Khususnya karena masih besarnya kontribusi penggunaan energi fosil, yang ditujukan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru bara hingga pemakaian BBM dengan nilai oktan (RON) di bawah standar.
 
"Jadi yang terkait dengan pembangkitan listrik, panas, transportasi yang itu luar biasa juga, termasuk industri manufaktur dan yang lain. Sehingga perlu ditekankan kembali pengurangannya," kata Mego, Senin (24/10/2022).
 
"Kemudian berdasarkan amanat kebijakan energi Nasional, Indonesia menargetkan bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025, 31 persen pada 2050, dan kita juga tidak lupa kita pada 2021 masih kecil, masih 12,61 persen," bebernya.
 
Potensi Besar
 
Akan tetapi, dia menambahkan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi baru terbarukan luar biasa besar. Mulai dari panas bumi, tenaga surya, angin, termasuk tenaga nuklir.
 
"Jadi potensi itu yang harus terus kita dorong ke depannya. Kita perlu memperhatikan langkah-langkah transisi energinya, melalui pemanfaatan energi baru terbarukan termasuk nuklir, dengan memperhatikan masalah keamanan pasokan, melihat akses terhadap kebutuhan dalam harga yang terjangkau, kemudian memanfaatkan energi bersih dan keberlanjutan dalam konteks lingkungan," paparnya.
 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya