Menekan Risiko Kematian karena Kanker Payudara pada Wanita

Angka kematian karena kanker payudara di Indonesia sangat tinggi. Guru besar UGM bahkan meneliti berapa angka ketahanan hidup penderita kanker payudara. Seperti apa ya penelitiannya?

oleh Yanuar H diperbarui 19 Agu 2022, 21:00 WIB
Ilustrasi kanker payudara Foto oleh Anna Tarazevich dari Pexels

Liputan6.com, Yogyakarta Kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi pada wanita. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Irianiwati Widodo dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dalam bidang Patologi Anatomi UGM mengatakan sebagian besar pasien kanker payudara di Indonesia didiagnosis sudah memasuki stadium lanjut sehingga angka kematiannya tinggi.

"Hal itu disebabkan tingkat kesadaran yang rendah akan kanker payudara, keterbatasan ketersediaan pelayanan medis dan stigma kanker itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan diagnosis kanker payudara sejak dini melalui diagnosis molekuler," katanya di ruang Balai Senat UGM, Kamis, 11 Agustus 2022.

Irianiwati mengatakan, hasil penelitiannya, di Yogyakarta mendapatkan frekuensi kanker payudara subtipe TNBC (Triple Negative Breast Cancer) cukup tinggi, yakni 25 % dengan usia rerata pasien 51,42 tahun dengan ukuran rerata tumor 5,4 cm dan 70 persen pasien dengan kondisi metastasis limfonodi. Lalu frekuensi pasien kanker subtipe basal-like sebanyak 67,1 % dengan rerata usia 51 tahun.

"Sementara tingkat ketahanan hidup 3 tahun pasien kanker payudara subtipe basal-like yang diteliti terbilang rendah yaitu 23,9 bulan dibandingkan non basal-like 26,1 bulan," dia menjelaskan.

Menurut Irianiwati kanker payudara terjadi berbagai mutasi gen dan protein-protein berlebih yang menyebabkan sel kanker membelah dan tumbuh cepat. Namun, pada era personalized medicine memungkinkan pemberian terapi target untuk memblok pertumbuhan kanker dengan fokus pada gen dan protein-protein tertentu serta mengurangi kerusakan pada sel normal. 

"Terapi target merupakan terapi personal sesuai dengan jenis kanker dan stadiumnya," paparnya.

Hingga saat ini, pendekatan diagnosis diperoleh dari sampel biopsi jaringan kanker payudara yang dianggap sebagai tindakan invasif. Sedangkan lewat metode pengambilan sampel liquid biopsy merupakan metode baru yang non invasif dan menjanjikan. 

"Konsep liquid biopsy adalah memeriksa komponen-komponen tertentu tumor yang dilepaskan dalam sirkulasi darah, termasuk mutasi DNA dan pola metilasi DNA yang didapatkan untuk kepentingan diagnosis, follow up terapi dan prognosis," ujarnya.

Selanjutnya, lewat teknologi next-Generation Sequencing (NGS) dan analisisi berbasis PCR berperan sangat penting pada keberhasilan analisis circulating tumor DNA.

Menurutnya, pemeriksaan komprehensif kanker payudara mulai dari pemeriksaan morfologi dan pemeriksaan berbasis molekuler sudah dapat dilakukan di berbagai pusat laboratorium Patologi Anatomi di Indonesia walau terbatas di pusat laboratorium besar. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana dan prasarana dan SDM serta fasilitas teknologi terkini untuk mendukung pemeriksaan kanker payudara secara dini. 

"Diperlukan sinergi dan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak supaya kanker payudara dapat ditangani secara berkelanjutan di setiap tahapannya, mulai dari diagnosis  hingga perawatan, sehingga morbiditas dan mortalitas kanker payudara dapat diturunkan," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya