Sukses

Program SILO Lawan Kanker Payudara Berlanjut di 2024

Sebagai penyedia layanan kanker swasta terbesar di Indonesia, Siloam Hospitals Group menyadari peran dantanggung jawab yang besar dalam melayani masyarakat luas.

Liputan6.com, Jakarta - PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) di sektor layanan kesehatan, berkomitmen mengembangkan industri kesehatan dengan memberikan layanan spesialisasi kanker. Di samping itu, SILO juga melanjutkan program deteksi dini kanker payudara bertajuk program #SELANGKAH atau Semangat Lawan Kanker, pada tahun ini.

Seperti diketahui, program #SELANGKAH merupakan program yang diinisiasi oleh Siloam Hospitals Group dengan menyediakan layanan skrining kanker payudara gratis. Program tersebut menyasar perempuan Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap skrining kanker payudara.

Group CEO Lippo Karawaci sekaligus Komisaris Utama Siloam Hospitals John Riady menyampaikan, sebagai penyedia layanan kanker swasta terbesar di Indonesia, Siloam Hospitals Group menyadari peran dantanggung jawab yang besar dalam melayani masyarakat luas.

 

"Siloam Hospitals juga menyadari peran dan tanggung jawab besar yang diemban dalam pelayanan kepada masyarakat luas," kata dia Kamis (18/4/2024).

 

"Dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dari segi skala dan inovasi, SILO berada dalam posisi strategis untuk mendukung transformasi layanan kesehatan di Indonesia yang dipimpin oleh Kementerian Kesehatan," tambah dia.

Sejalan dengan tema Hari Kanker Sedunia 2024, yakni ‘Close the Care Gap’, sekaligus melanjutkan komitmen dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan menyediakan kemudahan akses, SILO menargetkan skrining payudara gratis untuk 50.000 wanita di Indonesia melalui program #SELANGKAH 2024.

Program #SELANGKAH 2024 akan dijalankan di 14 RS Siloam yang tersebar di 12 kota, yaitu RS MRCCC Siloam Semanggi, Agora Cempaka Putih, TB Simatupang, Lippo Village Tangerang, Bogor, Surabaya, Jember, Denpasar, Kupang, Balikpapan, Makassar, Manado, Jambi, dan Palembang.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Kanker Payudara Diidap Perempuan di Indonesia Lebih Muda, Ada yang 12 Tahun

Sebelumnya, kanker payudara biasanya paling banyak diidap oleh perempuan berumur 50 tahun. Namun, di Indonesia usia terbanyak pengidap kanker payudara cenderung lebih muda. Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi RS EMC Alam Sutera, Denni Joko Purwanto, mengatakan,"Memang dalam penelitian kami rata-rata peak (puncak) di Indonesia itu lebih muda. Kalau biasanya di umur-umur 50, tapi di kita (Indonesia) yang kita dapat di penelitian itu 47."

Dalam Healthy Monday Liputan6.com yang berlangsung pada Senin, 26 Februari 2024, Denni menyatakan bahwa puncak usia ini berbeda dengan negara-negara maju seperti di Amerika Utara dan Eropa. Tingkat keganasannya pun cenderung lebih ganas di Indonesia. "Sehingga memang kita perlu menyadari bahwa kanker payudara itu juga bisa menyerang dari usia muda sampai usia tua," tambahnya.

Bahkan, pasien kanker payudara dengan usia termuda yang pernah ditangani Denni adalah anak umur 12 tahun. "Yang pernah kita dapatkan (pasien) sampai usia 95 tapi yang paling muda itu saya mendapatkan umur 12 tahun. Tapi memang peak-nya itu di Indonesia usia 47 dan yang termasuk kanker usia muda itu di bawah 40," ujarnya.

Terkait penyebabnya, Denni mengatakan bahwa hingga kini penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor risiko yang telah diketahui.

3 dari 4 halaman

Faktor Risiko Kanker Payudara

Beberapa faktor risiko kanker payudara yang disampaikan Denni adalah perempuan dan usia. Ia, menyatakan,"Faktor risiko yang pertama tentu wanita karena wanita jauh lebih tinggi frekuensinya dibanding dengan pria, walaupun pria juga bisa mengidap kanker payudara tapi frekuensinya lebih sedikit."

Sementara itu terkait usia, Denni mengatakan bahwa semakin lanjut usianya, semakin tinggi pula frekuensinya. "Itu kalau di atas 30, di atas 35 kita harus berhati-hati. Harus lebih menyadari tentang kesehatan payudara terutama Sadari (periksa payudara sendiri)," ujarnya. 

Faktor Risiko

  • Usia Haid Pertama

“Usia haid pertama wanita Indonesia sekarang rata-rata lebih muda. Itu juga karena makanan kita yang sekarang memang banyak mengandung kolesterol sehingga paparan estrogennya lama.”

  • Usia Saat Lahirkan Anak Pertama

“Kita memang sekarang menikahnya cukup lambat di atas 31, itu juga merupakan suatu faktor risiko (kanker payudara).”

  • Tidak Menyusui

“Tidak menyusui, tidak punya anak, tidak menikah, itu juga suatu faktor risiko.”

  • Riwayat Kanker pada Keluarga

“Riwayat kanker pada keluarga, juga harus kita perhatikan.”

4 dari 4 halaman

Pernah Idap Tumor Jinak

Faktor risiko kanker payudara yang tak boleh terlupakan, lanjut Denni, adalah riwayat mengidap tumor jinak.

“Jangan lupa, beberapa pasien (kanker payudara) itu mengatakan bahwa dia pernah terkena tumor payudara jinak,” jelas Denni.

“Nah, tumor payudara jinak tertentu itu bisa menyebabkan risiko kanker walaupun tidak semua tumor jinak itu menyebabkan kanker. Karena itu saya katakan bahwa kalau Anda didiagnosis tumor (jinak) payudara, tolong tanyakan tipenya apa.”

Meski begitu, faktor risiko bukanlah penyebab. Faktor risiko ini merupakan pengingat agar lebih hati-hati dengan rajin memeriksakan diri.

  

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.