Saat ini banyak layanan video-sharing hadir di dunia maya. Misalnya saja YouTube yang hadir dengan jumlah pengunjung terbanyak, atau Vine yang merupakan layanan video sharing baru Twitter dalam bentuk aplikasi.
Meski begitu, Vimeo tetap menjadi situs video sharing yang memiliki penggemar sendiri. Vimeo hadir dengan beragam video berkualitas, baik dari sisi komunikasi visual, artistik, dan estetika.
Vimeo sepertinya sadar bahwa tak semua konten video yang diunggah di situsnya akan membuat nyaman seluruh pengguna. Terkadang ada video yang di dalamnya terdapat adegan nudis, atau kekerasan.
"Kenyataannya adalah ada adegan telanjang, kekerasan, atau adegan mengutuk, yang merupakan upaya untuk menangkap kondisi manusia dari sisi yang lebih luas," tulis Vimeo di situsnya, yang Liputan6.com kutip Kamis (31/1/2013).
"Subyek yang tak membuat nyaman, juga rasa tidak nyaman itu sendiri, merupakan komponen penting dalam pengalaman berbagi (di Vimeo), tapi seniman perlu kebebasan untuk mengekspresikan diri," lanjutnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Vimeo pun membuat rating, yang memungkinkan pengguna untuk menilai suatu konten sebelum melihat video itu. Adapun rating yang ada adalah "All Audiences", "Mature", dan "Not Yet Rated".
Vimeo menjelaskan, konten yang dinilai "Mature" adalah video yang tak layak ditonton oleh anak-anak. Selain itu, konten ini juga memberi peringatan agar tak dibuka di kantor saat Anda sedang bekerja, yang dikenal dengan istilah NSFW (not suitable for work).
Sedangkan untuk "All Audiences" bisa dilihat oleh siapa saja dan di mana saja. Adapun untuk "Not Yet Rated", berarti video itu belum mendapat rating.
"Ini berarti kami akan bertanya kepada pembuat video untuk memberitahu apakah ada adegan nudis, kekerasan, atau materi ilegal (seperti plutonium) di video mereka, yang masih bisa diunggah di Vimeo selama mereka sesuai dengan garis kebijakan kami," tulis Vimeo.
Sebagai informasi, garis kebijakan di Vimeo antara lain, video yang diunggah merupakan kreasi sendiri dan bukan hak milik orang lain. Kemudian, video yang diunggah bukan untuk kepentingan komersial.
Vimeo juga melarang adegan seks dan pornografi di situsnya, meskipun konten dengan adegan orang telanjang masih diperbolehkan, selama tak terkait seksual atau pornografi. Misalnya, untuk menampilkan video tentang suku di pedalaman Afrika yang memperlihatkan, maaf, payudara.
Hal lain yang dilarang adalah menyebar kebencian dan diskriminasi, dan video yang merupakan cuplikan film, TV, atau video game. (GAL)
Meski begitu, Vimeo tetap menjadi situs video sharing yang memiliki penggemar sendiri. Vimeo hadir dengan beragam video berkualitas, baik dari sisi komunikasi visual, artistik, dan estetika.
Vimeo sepertinya sadar bahwa tak semua konten video yang diunggah di situsnya akan membuat nyaman seluruh pengguna. Terkadang ada video yang di dalamnya terdapat adegan nudis, atau kekerasan.
"Kenyataannya adalah ada adegan telanjang, kekerasan, atau adegan mengutuk, yang merupakan upaya untuk menangkap kondisi manusia dari sisi yang lebih luas," tulis Vimeo di situsnya, yang Liputan6.com kutip Kamis (31/1/2013).
"Subyek yang tak membuat nyaman, juga rasa tidak nyaman itu sendiri, merupakan komponen penting dalam pengalaman berbagi (di Vimeo), tapi seniman perlu kebebasan untuk mengekspresikan diri," lanjutnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Vimeo pun membuat rating, yang memungkinkan pengguna untuk menilai suatu konten sebelum melihat video itu. Adapun rating yang ada adalah "All Audiences", "Mature", dan "Not Yet Rated".
Vimeo menjelaskan, konten yang dinilai "Mature" adalah video yang tak layak ditonton oleh anak-anak. Selain itu, konten ini juga memberi peringatan agar tak dibuka di kantor saat Anda sedang bekerja, yang dikenal dengan istilah NSFW (not suitable for work).
Sedangkan untuk "All Audiences" bisa dilihat oleh siapa saja dan di mana saja. Adapun untuk "Not Yet Rated", berarti video itu belum mendapat rating.
"Ini berarti kami akan bertanya kepada pembuat video untuk memberitahu apakah ada adegan nudis, kekerasan, atau materi ilegal (seperti plutonium) di video mereka, yang masih bisa diunggah di Vimeo selama mereka sesuai dengan garis kebijakan kami," tulis Vimeo.
Sebagai informasi, garis kebijakan di Vimeo antara lain, video yang diunggah merupakan kreasi sendiri dan bukan hak milik orang lain. Kemudian, video yang diunggah bukan untuk kepentingan komersial.
Vimeo juga melarang adegan seks dan pornografi di situsnya, meskipun konten dengan adegan orang telanjang masih diperbolehkan, selama tak terkait seksual atau pornografi. Misalnya, untuk menampilkan video tentang suku di pedalaman Afrika yang memperlihatkan, maaf, payudara.
Hal lain yang dilarang adalah menyebar kebencian dan diskriminasi, dan video yang merupakan cuplikan film, TV, atau video game. (GAL)