Perjalanan Pabrik Gula Rendeng Melintasi Zaman, Paling Berjaya di Kudus

Pabrik Gula Rendeng berada di Desa Rendeng, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah

oleh Tifani diperbarui 19 Jun 2022, 04:00 WIB
Ilustrasi tebu (iStock)

Liputan6.com, Kudus - Pabrik Gula Rendeng menjadi salah satu pabrik gula peninggalan Belanda yang dapat bertahan hingga saat ini. Di saat banyak pabrik gula peninggalan kolonial di Jawa Tengah harus tutup, pabrik gula ini masih beroperasi hingga saat ini.

Pabrik Gula Rendeng berada di Desa Rendeng, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Dikutip dari berbagai sumber, pabrik gula ini berusia hampir dua abad.

Pabrik Gula Rendeng dibangun pada masa kolonial Belanda pada tahun 1840. Nama pabrik ini dulu adalah Rendeng Suiker Fabrik.

Sebelum Pabrik Gula Rendeng berdiri, sudah ada dua pabrik gula lain di Kudus, yakni Pabrik Gula Besito dan Pabrik Gula Tanjung Mojo. Pabrik Gula Besitu didirikan pada tahun 1835 di Desa Besito, Kecamatan Gebog, sedangkan PG Tanjung Mojo di Desa Tanjungrejo.

Kedua pabrik ini pun sempat berjaya dan memproduksi gula hingga diekspor ke Eropa. Meski demikian, dari ketiga pabrik gula itu hanya Pabrik Gula Rendeng yang paling berjaya di Kudus.

Bahkan Belanda pada saat itu sampai rela membuat jalur kereta api untuk pabrik gula ini. Tujuannya, mengekspor gula pasir yang diproduksi Pabrik Gula Rendeng ke ke Semarang dan berlanjut menuju ke Eropa.

Pembangunan jalur kereta api bertujuan untuk mempersingkat waktu pendistribusian gula pasir.Sebelum adanya jalur kereta api, pemerintah Belanda memanfaatkan jalur darat untuk mengirinkan gula pasir dari Kudus ke Semarang.

Sebelum adanya jalur kereta api, pengiriman gula pasir dilakukan lewat jalur darat dengan waktu tempuh tiga hari dari Kudus menuju ke Semarang. Setelah adanya jalur kereta api, waktu tempuh menjadi satu hari untuk jarak Kudus ke Semarang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya